Presiden AS Donald Trump (Foto: White House)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menutup Konvensi Partai Republik untuk pemilu sela di Dallas, Texas, Kamis malam waktu setempat, 10 September 3026 dengan mengajak para pendukungnya bersumpah.
Trump meminta basis pendukungnya memastikan diri, keluarga, dan teman-teman mereka datang memberikan suara untuk Partai Republik pada 3 November atau menggunakan hak suara lebih awal.
Di hadapan massa Partai Republik, Trump memimpin peserta mengucapkan sumpah sambil memuji dirinya sebagai presiden terbaik dalam sejarah Amerika Serikat.
"Saya berjanji kepada presiden terhebat dalam sejarah Amerika Serikat... Saya akan mengajak teman-teman dan keluarga saya, dan kami akan memberikan suara pada tanggal 3 November, atau kami akan memberikan suara sebelum itu... Saya tidak peduli apakah saya terdaftar atau tidak. Saya akan mencoba untuk berbuat curang habis-habisan, seperti yang mereka lakukan," ujar Trump, sembari menyiratkan tuduhan bahwa Partai Demokrat melakukan kecurangan dalam pemilu.
Setelah para peserta mengucapkan sumpah tersebut, Trump kembali melontarkan pernyataan yang membangkitkan respons antusias dari massa.
"Tahukah kamu apa yang terjadi jika kamu tidak memilih? Kamu akan masuk neraka," kata Trump.
Trump juga menggunakan kesempatan tersebut untuk membanggakan capaian pemerintahannya selama 19 bulan terakhir.
"Dalam 19 bulan, saya telah menepati setiap janji yang saya buat," ujar Trump.
Dia mengklaim telah mengubah Amerika Serikat dari "dark age of America" menjadi "golden age of America", dengan menyebut pasar saham yang menguat, penurunan harga obat resep, serta peningkatan belanja militer yang menurutnya menjadikan AS sebagai negara adidaya energi dan militer dunia.
Dalam pidatonya, Trump turut menonjolkan kebijakan imigrasi dengan menyebut penyeberangan perbatasan ilegal nyaris tereliminasi.
Dia juga memuji langkah pemerintahannya melalui Kongres untuk memberikan keringanan pajak baru bagi pendapatan lembur, tip, dan pembayaran Jaminan Sosial.
Trump kemudian memperingatkan pendukungnya mengenai potensi kemenangan Demokrat dalam pemilu sela. Menurutnya, jika Demokrat kembali berkuasa maka AS akan hancur.
Trump pun bertekad mempertahankan mayoritas Partai Republik di DPR dan Senat, meski secara historis partai yang menguasai Gedung Putih kerap kehilangan kursi dalam pemilu sela.