Berita

Aksi unjuk rasa besar-besaran di Sri Lanka atas krisis ekonomi parah yang terjadi/Net

Dunia

Sri Lanka Bukan Satu-satunya, Sejumlah Negara Ini Juga Sedang Dilanda Protes karena Krisis Ekonomi

SELASA, 12 JULI 2022 | 08:43 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Krisis ekonomi parah dan terburuk yang dialami Sri Lanka mendorong ratusan ribu warganya menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran selama akhir pekan lalu.

Pada Sabtu (9/7), ribuan pengunjuk rasa menduduki kediaman presiden dan perdana menteri, serta merangsek masuk ke kantor pemerintahan. Mereka menuntut pengunduran diri Presiden Gotabaya Rajapaksa dan Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe.

Kemarahan warga bukan tanpa sebab. Mereka frustasi dengan keadaan ekonomi yang semakin sulit setiap harinya.


Di Sri Lanka, inflasi mencapai 54,6 persen pada bulan Juni, sementara bank sentral menaikkan suku bunga menjadi 15,5 persen. Ini berarti pekerja di Sri Lanka kehilangan tabungan dalam hitungan detik, sementara pembayaran utang meningkat, membebani anggaran rumah tangga.

Pemerintah sendiri telah gagal untuk mengatasi utang luar negeri. Sebelum memberikan bantuan, Dana Moneter Internasional (IMF) menuntut agar Sri Lanka menaikkan pajak dan memerangi korupsi sebagai syarat untuk menerima pinjaman bailout.

Namun situasi seperti ini bukan hanya terjadi di Sri Lanka saja.

Albania

Pekan lalu, ribuan orang Albania berkumpul di Tirana untuk menuntut pengunduran diri pemerintah karena dugaan korupsi dan kenaikan harga secara besar-besaran.

Bank sentral Albania mengumumkan kenaikan suku bunga 1,25 persen, sementara inflasi resmi Juni adalah 6,7 persen.

Argentina

Masih pekan lalu, ribuan warga Argentina memprotes kenaikan biaya hidup dengan berkumpul di Buenos Aires. Dengan suku bunga utama di 52 persen dan inflasi di 60,7 persen pada bulan Mei, para demonstran mendesak pemerintah untuk mengundurkan diri sambil menolak pinjaman IMF.

Panama

Protes terhadap pemerintah di Panama dimulai pada Juli pertama, menuntut pemerintah mengatasi biaya hidup yang tinggi di negara itu. Demonstran menuntut upah yang lebih tinggi, harga komoditas yang lebih rendah dan penghapusan hambatan rantai pasokan.

Meski inflasi tetap rendah, tetapi masalah rantai pasokan global telah berdampak pada pendapatan Terusan Panama, mengurangi pendapatan dan proyeksi pemerintah.

Kenya

Harga bahan pokok yang telah meroket di Kenya membuat ratusan pengunjuk rasa berkumpul melakukan protes di Nairobi pada Sabtu (9/7). Mereka mendesak pemerintah untuk menurunkan harga pangan.

Para pengunjuk rasa mengklaim biaya hidup yang tinggi disebabkan oleh pinjaman negara yang berlebihan dan korupsi yang merajalela. Tingkat inflasi resmi Kenya adalah 7,91 persen, sedangkan suku bunga 7,50 persen.

Ghana

Aksi protes akibat tingginya biaya hidup di Ghana telah dilakukan sejak Juni. Inflasi mencapai 27,6 persen, sementara utang terus menumpuk.

Lainnya

Selain negara-negara tersebut, aksi unjuk rasa karena meningkatnya biaya hidup juga terjadi di Belanda, Belgia, Italia, dan China.

Dampak pandemi Covid-19 yang diperparah dengan efek perang di Ukraina membuat rantai pasok global terganggu. Krisis energi dan pangan akhirnya terjadi, membuat banyak negara, khususnya negara berkembang kewalahan.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya