Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Di Tengah Perang, China dan India Jadi Mesin Pencetak Uang untuk Rusia

KAMIS, 07 JULI 2022 | 07:43 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Rusia tampaknya tidak akan goyah dengan adanya sanksi Barat lantaran pundi-pundinya terus terisi meski Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutunya berusaha memberikan tekanan ekonomi pada Moskow.

Tercatat Rusia sudah mengantongi 24 miliar dolar AS atau Rp 359 triliun dari penjualan energinya ke China dan India hanya dalam kurun waktu tiga bulan setelah invasi dimulai pada 24 Februari lalu.

Selama tiga bulan hingga akhir Mei, China sudah menghabiskan 18,9 miliar dolar AS untuk membeli minyak, gas, dan batubara dari Rusia. Angka tersebut dua kali lipat dari jumlah tahun sebelumnya.


"China pada dasarnya telah membeli segala sesuatu yang dapat diekspor Rusia melalui jaringan pipa dan pelabuhan Pasifik," kata analis utama di Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih, Lauri Myllyvirta, seperti dikutip Bloomberg.

Pada periode yang sama, India sudah mengeluarkan 5,1 miliar dolar AS, atau lebih dari lima kali lipat dari pembelian pada tahun lalu.

"India telah menjadi pembeli utama kargo dari Atlantik yang tidak diinginkan lagi oleh Eropa," tambah Myllyvirta.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2021, penjualan energi Rusia ke dua negara tersebut lebih besar 13 miliar dolar AS. Pendapatan ini tentu membantu Rusia bertahan dari sanksi dan upaya embargo yang diberlakukan oleh AS.

Myllyvirta menuturkan uang dari China dan India tampaknya akan terus mengisi pundi-pundi Rusia dalam waktu cukup lama. Itu lantaran volume impor China dari Rusia terus mengalami kenaikan, sementara India memiliki intensi pembelian energi dari Moskow di tengah lonjakan harga.

Rusia telah lama menjalin hubungan perdagangan dan strategis dengan China dan India. Selain menawarkan diskon harga yang tinggi, Rusia juga menerima pembayaran dalam mata uang lokal untuk membantu menjaga arus perdagangan ke negara-negara tersebut tetap kuat.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya