Berita

Capitol Hill Autonomous Zone/Net

Dahlan Iskan

Tanpa Pemerintahan

SELASA, 16 JUNI 2020 | 05:26 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

MAKA lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington.

Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni lalu.

Yang seperti ini hanya bisa terjadi di Amerika. Yang negara itu didirikan oleh manusia-manusia merdeka. Pribadinya merdeka.


Nama wilayah baru itu Capitol Hill Autonomous Zone. Disingkat CHAZ. Luasnya 6 blok. Posisi wilayah itu: di pusat kota Seattle --kota terbesar di negara bagian Washington.

Sejak itu 6 blok ini tidak lagi menjadi bagian kota Seattle. Juga tidak di bawah negara bagian Washington. Tapi tetap Amerika Serikat.

Proklamasi itu dilakukan oleh warga yang tinggal di 6 blok tersebut. Warga di situ menyatakan bisa mengurus diri sendiri. Tanpa pemerintah perlu ikut mengatur.

Mereka tidak memerlukan polisi, lurah, camat, pegawai negeri, dan seterusnya. Instansi-instansi seperti itu dinilai hanya akan merepotkan warga. Juga hanya akan membuat warga tidak merdeka.

Mereka akan dan merasa bisa mengatur diri sendiri. Kalau pun mereka perlu listrik atau air, itu bisa lakukan sendiri-sendiri. Lewat transaksi komersial biasa. Sisi lain yang hebat dari proklamasi itu: masyarakat CHAZ akan mengatur kehidupan warga di 6 blok itu berdasarkan demokrasi masyawarah mufakat di antara mereka sendiri.

Menyaksikan deklarasi seperti itu saya pun berdebar-debar: jangan-jangan sebentar lagi mereka akan punya Pancasila.

Lelucon?

Sama sekali bukan. Ini serius.

Yang seperti itu sudah banyak di Amerika. Bahkan banyak sekali. Saya pernah menuliskannya di DI’s Way. Sudah agak lama. Ketika saya keliling Amerika bersama dua teman saya ini: John Mohn yang American dan Robert Lai yang Singaporean.

Di sana ada lebih 1.000 wilayah kecil seperti itu. Yang tanpa pemerintahan. Yang kelompok masyarakatnya merasa mampu mengurus diri sendiri.

Dalam sistem kenegaraan di Amerika itu disebut ”Unincorporated Community”.

Misalnya saat kami berkendara dari Norfolk di Virginia ke Washington DC. Lewat Delaware. Melalui terowongan bawah laut yang amat panjang.

Tiba-tiba John melihat ada papan nama ”Unincorporated Community” di dekat sebuah perumahan.

”Itu yang kita diskusikan tadi,” ujar John --sambil menunjuk papan nama itu.

Sebetulnya tadi itu bukan diskusi. Lebih pada kuliah privat --tentang sistem pemerintahan dan politik di Amerika. Sepanjang jalan --lima jam sebelum makan dan lima jam setelah makan-- kami memang tidak pernah kehabisan bahan diskusi.

Begitu juga keesokan harinya. Lusanya. Dan lusanya lagi.

Begitu John menunjuk papan nama itu saya pun menghentikan mobil. Kebetulan saya yang lagi pegang kemudi. Kebetulan lagi ada pompa bensin di dekat situ.

Perumahan itu tidak luas. Sekitar 20 rumah. Besar-besar.

Sebenarnya tidak tepat juga disebut perumahan. Jarak antar rumah jauh-jauh. Masing-masing rumah dikelilingi pohon-pohon besar yang rindang. Dan semak-semak.

Kampung seperti itu tidak tercakup di administrasi desa di situ. Tidak juga di bawah pemda mana pun.

Sepengetahuan saya wilayah Unincorporated Community seperti itu semacam peninggalan lama. Wilayah seperti itu sudah ada sebelum ada pemerintahan kota. Bahkan sebelum ada negara bagian.

Sewaktu pemerintahan kota/kabupaten dibentuk mereka tidak mau gabung. Pilih tetap independen.

Tapi rasanya baru di Seattle ini. Yang di era modern seperti ini masih ada yang mau mendeklarasikan independen. Istilahnya pun tidak mau sama. Tidak Unincorporated Community, tapi CHAZ.

Sama saja.

Wali kota Seattle tenang-tenang saja. Tidak ada nada jengkel --apalagi sampai nangis-nangis. Tidak menentang juga tidak menyetujui.

Sang wali kota menyadari sepenuhnya: hak tertinggi adalah milik warga.

Gubernur Washington juga tidak ambil pusing. Kemerdekaan adalah hak segala warga.

Yang kebakaran jenggot justru --siapa lagi kalau bukan-- Presiden Donald Trump.

Presiden langsung mengeluarkan perintah. ”Ambil alih. Sekarang juga. Segera," unggah Trump di Twitter-nya.

Pernyataan keras itu ditujukan kepada Wali Kota Seattle dan Gubernur Washington. ”Kalau kalian tidak melakukan, saya yang akan melakukan,” tulis Trump.

Yang diperintah tenang-tenang saja. Tidak sedikit pun acuh.

Ketika Trump kian murka --menganggap itu terorisme lokal-- barulah wali kota Seattle bereaksi. Juga keras. Terhadap Presiden Trump.

Inilah respons sang wali kota: Baiknya Presiden Trump kembali masuk bunker, biar kami tenang!

Itu sekaligus ejekan dari sang wali kota untuk presidennya. Trump memang diberitakan mengungsi ke bunker --persembunyian di bawah Gedung Putih-- ketika demo besar mulai mendekati rumah presiden awal Juni lalu.

Trump sendiri berdalih itu bukan untuk mengungsi. Apalagi takut. Kepergiannya ke bawah tanah itu untuk inspeksi.

Mungkin Trump beranggapan deklarasi wilayah CHAZ itu bagian dari protes pada kepresidenannya. Trump memang sangat sensi belakangan ini. Atau sejak dulu.

Jangan-jangan Trump juga tidak tahu bahwa di Amerika Unincorporated Community seperti itu diperbolehkan.

”Sensi didemo” itu wajar. Demo anti rasialis itu terjadi di mana-mana. Termasuk di Seattle. Akibat terbunuhnya George Floyd di Minneapolis itu.

Itulah gelombang demo terbesar sejak tahun 1960. Terjadi di zaman Trump.

Lewat CHAZ itu masyarakat Amerika terus memberi pelajaran berharga ke dunia. Termasuk dalam hal berdemokrasi. Justru sikap Presiden Trump yang dikecam sangat luas: itulah cermin sikap seorang diktator.

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya