Berita

Iyad Halak penderita autisme yang tewas ditembak polisi Israel/Net

Dahlan Iskan

Autis

SABTU, 06 JUNI 2020 | 04:53 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

"SAYA tidak bisa bernafas!"

Teriakan George Floyd di Minnneapolis itu tidak bisa diucapkan Iyad Halak di Israel. Iyad ketakutan luar biasa: laras senjata mengarah ke dirinya. Ia lari. Ditemukan tewas di ruang persembunyian.

Polisi memang sudah memperingatkannya: untuk membuang senjata di tangan Iyad. Polisi juga memerintahkan agar Iyad angkat tangan.


Tapi Iyad tidak memahami itu. Ia seorang pemuda berkebutuhan khusus: mengalami autisme.

"Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!...." tujuh tembakan mengarah ke dirinya.

Ia tewas.

Itulah yang dialami Iyad Halak. Di kota lama Jerussalem Timur. Saat Iyad hendak berangkat mengikuti pendidikan untuk orang berkebutuhan khusus.

Koran-koran Israel pun menjadikan peristiwa itu berita besar. Berhari-hari. Apalagi beberapa hari kemudian ada peristiwa di Amerika itu: George Floyd itu. Yang sudah berteriak "Saya tidak bisa bernafas" tapi terus saja lehernya ditindih dengkul polisi kulit putih di Minneapolis.

Floyd yang kulit hitam tewas di dengkul polisi.

Iyad yang Palestina tewas di moncong senjata polisi Israel.

Kini polisi Israel itu ditahan. Untuk dilakukan pengusutan. Atasan regu itu semula juga ditahan. Tapi dilepas hari itu juga --mengaku sudah melarang penembakan itu.

Si polisi juga ingin selamat. Ia membantah keterangan atasannya itu. Ia juga beralasan di tempat penembakan itu sering terjadi perlawanan orang Palestina pada polisi.

Hari itu si polisi takut orang yang lagi lewat itu membawa senjata. Terbukti posisi tangannya di dada.

"Tiap hari ia memang kami minta membawa ponsel. Agar kalau perlu pertolongan bisa menghubungi keluarga," ujar ayah Iyad, seperti dikatakan pada harian The Times of Israel.

Iyad yang mendekap ponsel itu dikira menyembunyikan senjata. Iyad yang mengalami autisme dikira tidak patuh pada perintah.

Keluarga Iyad hanya bisa marah-marah. Apalagi lantas ada demo anti-rasis di Amerika.

Maka di Jerussalem pun muncul demo pro-Iyad. Meski jumlahnya hanya sekitar 100 orang. Yang juga dengan mudah dibubarkan.

Koran-koran di Israel terus memberitakan peristiwa ini. Sampai kemarin. Ketua rabbi (ulama Yahudi) di Jerussalem, Aryeh Stern, sampai datang ke rumah Iyad. Untuk menunjukkan simpati dan duka umat Yahudi.

Kepada sang rabbi ayah Iyad minta keadilan.

Sang ayah juga sudah membuat video yang beredar luas. Isinya: tidak akan mau didatangi pejabat pemerintah --sebelum polisi itu dijatuhi hukuman.

Padahal salah satu menteri kabinet sudah merencanakan ke rumah Iyad. Setelah melihat video itu rencana pun dibatalkan.

Peristiwa itu terjadi di ruang terbuka tidak jauh dari Lion's Gate tembok Jerussalem. Kota tua Jerussalem memang dilindungi pagar tembok tinggi. Yang dibangun tahun 1500-an. Panjang tembok itu sekitar 6 Km --diberi 9 pintu gerbang masuk kota. Masing-masing gerbang ada namanya. Yang masih berfungsi sekarang tinggal 7 gerbang.

Di lokasi Iyad terbunuh itu memang ada kampung padat. Penghuninya banyak yang Palestina. Beragama Islam. Masjid Al Aqsa tidak jauh dari lokasi penembakan itu.

Saya menyesal tidak membuat video ketika dulu menelusuri liku-liku gang di kampung ini --sebuah kota tua yang sangat unik.

Saya bisa membayangkan Iyad lagi keluar dari gang yang naik turun itu. Lalu berjalan menyeberangi pelataran terbuka dekat gerbang.
Dan tewas akibat takdir autismenya.

Saya mengikuti perkembangan di Israel karena ada tender raksasa di sana: pembangunan instalasi penjernihan air laut terbesar di dunia. Untuk menjadi air minum negara itu.

Tentu saya tidak ikut tendernya. Bukan bidang saya. Pun bukan kelas saya. Hanya saja tender itu sarat dengan muatan politik. Terutama ketika menentukan siapa pemenangnya.

Tinggal dua perusahaan besar yang masuk "final": perusahaan Tiongkok dan perusahaan Amerika.

Seminggu sebelum penentuan pemenang Menlu Amerika Mike Pompeo ke Tel Aviv. Untuk mengingatkan agar Israel jangan sampai memenangkan perusahaan Tiongkok.

Benar saja: perusahaan Amerika yang menang.

Itulah proyek penjernihan air laut terbesar di dunia. Yang akan selesai tahun 2023. Yang akan menghasilkan 200 juta m3 air minum per tahun.

Nama proyek itu: Sorek-2. Lokasinya di selatan kota Tel Aviv. Biaya proyeknya sekitar Rp 26 triliun.

Dengan proyek ini kapasitas produksi air minum Israel menjadi 600 juta m3 per tahun. Semua diambil dari air Laut Tengah.

Presiden Donald Trump sendiri yang mengutus Pompeo ke Israel. Jangan sampai perusahaan Tiongkok yang menang.

Padahal perusahaan Tiongkok itu maju tender sudah menggunakan perusahaan Hongkong, Hutchison.

Akhirnya perusahaan IDE Technologies dari Amerika yang menang.

Amerika tidak mau kalah kali ini. Sudah mulai banyak proyek di Israel yang dikerjakan Tiongkok.

Pekerjaan utama Amerika kini memang itu: memblokade Tiongkok. Di mana-mana.

Dan Israel pasti tidak akan seperti Iyad --bila yang meminta Amerika.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya