Berita

Foto: Repro

Dahlan Iskan

Tertangkap Virus

SABTU, 23 MEI 2020 | 05:21 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

VIRUS menyerang Carlos Ghosn --secara tidak langsung. Virus yang sama juga membuat banyak pelarian lain tertangkap.

Di Jakarta operasi pengamanan Covid-19 membuat pencetak uang kena jaring. Ia bukan Mukhamad Misbakhun yang getol mengajukan ide cetak uang. Ia justru cetak uang untuk membayar utang --dan keperluan lainnya. Yang dicetak uang palsu.

Di Amerika mantan tentara baret hijau yang melarikan Carlos Ghosn --mantan CEO Nissan-Renault-Mitsubishi yang legendaris itu-- juga tertangkap. Bersama anaknya.


Di Tiongkok pembangkang terkemuka juga ditangkap. Setelah tidak ada lagi tempat bersembunyi --akibat lockdown. Pembangkang itu --dari sudut pandang demokrasi ia adalah pejuang.

Di Bangladesh lebih seru lagi. Yang tertangkap ini pangkatnya kapten angkatan darat: Abdel Majed. Kalau tidak melarikan diri bisa jadi sekarang pangkatnya sudah jenderal.

Tapi ia harus melarikan diri. Kala itu. 26 tahun lalu.

Kudeta yang dilakukannya hanya setengah berhasil. Majed sukses membunuh Perdana Menteri Mujibur Rahman. Tapi kudetanya dapat perlawanan. Pimpinan kudeta itu ditangkap. Ia sendiri melarikan diri. Jauh sekali. Ke wilayah India --dekat perbatasan Bangladesh.

Kelak, di awal tahun 2020, India melakukan lockdown --untuk mengatasi Covid-19. Sebelum itu pun India sudah melakulan razia besar-besaran. Terhadap pendatang gelap dari Bangladesh. Yang umumnya sudah merasa menjadi penduduk India --saking lamanya.

Di suasana lockdown tidak ada lagi ruang untuk sang Kapten. Ia memutuskan pulang ke Bangladesh. Ia mengira peristiwa 26 tahun yang lalu sudah terlupakan.

Ia ditangkap.

Langsung digantung.

Mestinya ia harus dianggap mati akibat Covid-19 juga.

Pengadilan Bangladesh memang sudah menjatuhkan hukuman mati atas si Kapten. In absentia. Sudah lama berkekuatan hukum pula.

Kalau pun baru dua minggu lalu menjalani hukum gantung setidaknya ia sudah mendapat tambahan hidup 26 tahun.

Ia salah perhitungan. Harusnya ia tahu: Perdana Menteri Bangladesh sekarang, Sheikh Hasina, adalah putri Mujibur Rahman. Apalagi Hasina lagi naik daun. Ekonomi Bangladesh meroket di masa pemerintahannyi sekarang ini.

Salah hitung seperti itu pula yang terjadi pada Michael Taylor --dan putranya, Peter Taylor.

Taylor sudah aman bersembunyi di Lebanon. Tidak jauh dari Carlos Ghosn yang ia selamatkan --yang kini juga tinggal di Lebanon. Bahkan, bagi Taylor Lebanon adalah negeri yang ia perjuangan sendiri dengan nyawanya. Ia pernah menjadi pelatih tentara Kristen di sana bertahun-tahun saat terjadi perang sipil di Lebanon.

Mungkin ia mengira perhatian semua orang Amerika lagi ke soal Covid-19. Yang di Amerika parahnya memang bukan main. Termasuk di Boston, Massachusetts --kampung halamannya.

Ia pulang ke situ, ke Harvard, Boston.

Ditangkap.

Alasannya: Taylor sebenarnya sedang menjalani hukuman percobaan. Kaitannya dengan kewajiban pajaknya. Hukuman percobaan adalah hukuman penjara yang tidak perlu masuk penjara --asal tidak berbuat kriminal lagi.

Begitu ia melakukan perbuatan kriminal langsung saja tinggal menangkapnya --untuk dimasukkan penjara. Tidak bisa ditunda dengan uang jaminan.

Anaknya, Peter, sebenarnya juga sudah nyaman berbisnis di Dubai. Tapi negeri itu juga lagi diserang wabah luar biasa --dibanding sedikitnya jumlah penduduknya. Negeri itu berpenduduk hanya 10 juta orang. Yang terkena Covid-1.926.000 orang.

Sang anak pulang juga ke Boston.

Langsung ditangkap.

Ayah-anak Taylor-lah yang mengatur semua pelarian Carlos Ghosn yang tidak ada duanya itu. Taylor-lah yang mempunyai ide pelarian menggunakan kotak alat musik itu.

Taylor dan anak buahnya yang orang Lebanon, datang ke Osaka mengaku sebagai pemusik. Buktinya ia membawa kotak besar alat musik.

Kotak itu dibawa ke salah satu hotel di Osaka. Sang anak tinggal di hotel itu. Sudah beberapa hari. Ke hotel itu pulalah Ghosn naik kereta cepat dari tempat tahanan rumahnya di Tokyo.

Di hotel itu ia masuk ke dalam kotak. Lalu mereka ke bandara. Ke terminal pesawat carter. Kotaknya kebesaran untuk dilewatkan mesin scanner. Toh isinya hanya ”alat music”. Dan lagi ini bandara pesawat carter. Tidak mungkin kotak itu berisi bahan peledak.

Padahal isinya bisa untuk membeli ribuan ton bahan peledak: milyader Carlos Ghosn.

Kini Jepang melayangkan permintaan: agar bapak-anak itu diekstradisi. Akan diadili di Jepang. Kedua negara memang punya perjanjian ekstradisi. Artinya Amerika mengakui sistem hukum dan praktek penegakan hukum di Jepang. Di Jepang hukum bisa dipercaya keadilannya.

Amerika, atau Jepang, atau Singapura tidak akan mau memiliki perjanjian ekstradisi dengan satu negara --yang mereka yakini hukum di negara tersebut tidak adil.

Covid ternyata tidak hanya menyulitkan orang tua yang punya penyakit pernafasan, diabetes, dan darah tinggi. Covid-19 juga menyulitkan para pelarian. Tinggal satu yang masih tetap sakti: yang di Indonesia itu --yang terkait suap KPU itu.

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya