Berita

Ilustrasi lockdown/Disway

Dahlan Iskan

Bebas Wuhan

JUMAT, 27 MARET 2020 | 04:15 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

RAPAT penting hari itu terjadi pukul 2 siang. Sangat penting, termasuk untuk kita yang di Indonesia.

Itulah rapat yang membicarakan apakah obat anti-Covid-19 sudah bisa disetujui.

Rapat itu terjadi di Wuhan, kota yang dikenal sebagai awal bermulanya Covid-19.


Rapat itu terjadi hari Senin, tanggal 16 Maret lalu. Itulah hari penyederhanaan birokrasi.

Begitu pentingnya rapat itu sampai-sampai harus dilakukan hari itu dan jam itu. Padahal hari itu Wuhan masih di-lockdown. Maka harus dicari jalan keluarnya.

Tidak sulit di sana. Dilakukanlah rapat itu secara jarak jauh. Yang hadir di Wuhan hanya Prof. Mayor Jenderal Chen Wei, wanita ahli virus yang menjadi komandan tim penemuan obat anti-Covid-19. Tentu didampingi timnya.

Peserta rapat lainnya tersebar di Beijing, Shanghai, Shenzhen, Tianjin, dan banyak kota lainnya. Mereka adalah para ahli virus. Juga para pengambil keputusan dari kementerian kesehatan pemerintah pusat.

Itulah rapat yang membahas apakah obat yang ditemukan tim Prof. Chen Wei bisa disetujui.

Prosedur untuk menyetujui obat baru biasanya sangat panjang. Paling cepat satu tahun. Rapatnya pun bisa berkali-kali. Apalagi kalau harus menunggu semua ahli bisa berkumpul di satu tempat.

Tapi Covid-19 sudah menjadi pandemi. Pun teknologi rapat jarak jauh sudah tersedia.

Tinggal mau atau tidak.

Maka pemerintah Tiongkok memutuskan untuk tidak menunda-nunda agenda rapat itu.

Di dalam rapat tersebut Prof. Chen Wei memaparkan hasil uji cobanyi selama ini. Termasuk yang diujicobakan kepada semua dokter dan tim medis militer yang diterjunkan ke Wuhan (Baca DI’s Way: Opo Tumon).

Paparan Chen Wei itu dibahas oleh para ahli yang berada di banyak kota itu. Juga oleh pihak yang berwenang yang mengikutinya dari Beijing.

Setelah rapat berlangsung selama dua jam, keputusan pun diambil oleh FDA-nya Tiongkok: disetujui. Untuk dilakukan uji klinis.

Berarti satu tahap penting dalam sebuah penemuan obat baru sudah dilewati.

Dari gambaran itu maka bisa diharapkan obat anti-Covid-19 sudah bisa diproduksi dalam 6 bulan ke depan. Atau lebih cepat dari itu.

Ketika rapat itu dilakukan, kota Wuhan memang sudah tidak mencekam lagi. Chen Wei dan para dokter di Wuhan sudah bisa bernafas. Hari itu untuk kali pertama tidak ada lagi pasien baru di Wuhan.

Keesokan harinya bebarapa portal pembatas mobilitas warga Wuhan juga sudah dibuka.

Tanggal 8 April depan lockdown Wuhan resmi diakhiri.

Meski saya bukan warga Wuhan tapi secara reflek ikut menarik nafas panjang. Ikut lega.

Tiga bulan lamanya Wuhan di-lockdown. Juga seluruh Provinsi Hubei. Dan juga praktis seluruh Tiongkok.

Tiga bulan lamanya lockdown diberlakukan. Sangat drastis. Ketat. Kejam. Manusia dibuat sangat menderita. Sangat terkekang.

Tapi tiga bulan kemudian mereka terbebas dari lockdown. Berenang-renang kemudian.

Semua itu bukan hanya hasil kedisiplinan. Saya tahu orang di sana juga sulit disiplin. Sama saja. Pemerintahlah yang mendisiplinkan mereka.

Pertanyaanya: seandainya akhir Januari lalu tidak dilakukan lockdown, apa yang terjadi? Apakah sekarang sudah bisa lega?

Silakan berhitung sendiri.

Rupanya ada persyaratan tidak resmi untuk bisa melakukan lockdown: suasana harus mencekam dulu.

Tidak bisa ketika orang masih happy-happy, masih berani kumpul-kumpul tiba-tiba di-lockdown.

Begitulah di Wuhan. Setelah Imlek suasana Wuhan memang sudah sangat mencekam. Yang sakit tidak mendapat tempat di rumah sakit: penuh. Yang meninggal tidak bisa mendapat peti mati: habis. Yang sudah mati tidak bisa dikubur atau dikremasi: tempat pembakaran mayat pun tidak cukup.

Sedang di Jakarta, suasananya belum mencekam.

Cobalah lakukan lockdown di Jakarta sekarang: pasti ambyar! Terutama karena begitu banyak orang miskin: dapat penghasilan dari mana? Dapat makan dari mana?

Kelak, kalau suasana sudah mencekam barulah memenuhi syarat untuk lockdown. Tidak akan ada lagi yang berpikir dari mana dapat penghasilan. Tidak ada lagi yang bingung dari mana dapat makan.

Semua orang bingung sendiri-sendiri: lari-lari mencari rumah sakit. Yakni untuk mengantarkan orang tua atau suami atau anak ke rumah sakit. Apalagi kalau sudah lari ke rumah sakit mana pun hanya menemukan pengumuman: RS sudah penuh sesak.

Orang juga bingung mencari penggali kubur. Apalagi kalau penggali kubur pun sudah tidak ada. Atau sudah kewalahan.

Tidak ada lagi yang berpikir: dari mana dapat penghasilan. Tidak ada lagi yang heboh dari mana mendapat makan.

Kapan kah suasana mencekam itu akan datang? Bulan apa?

Atau tidak akan datang?

Katakanlah masa seperti itu tidak akan datang. Seperti juga kita dulu merasa tidak akan ada Covid-19 di Indonesia.

Alhamdulillah.

Kalau ternyata tiba?

Pasti kita akan melakukan juga lockdown. Apa boleh buat. Selama tiga bulan. Tiga bulan setelah lockdown kita bisa lega.

Kalau ujung-ujungnya kelak lockdown juga mengapa tidak berakit-rakit ke hulu?

Kita sudah sakit sekarang --meski belum parah. Sampai parah nanti kita tetap sakit. Setelah parah makin sakit.

Mengapa tidak sakit sekarang saja? Tiga bukan lagi lega?

Saya bukan ahli matematika yang bisa menghitung pertambahan orang sakit. Saya bukan dokter. Saya bukan ahli penyakit menular. Saya bukan pemerintah. Saya bukan ahli agama. Saya bukan peramal. Saya bukan siapa-siapa.

Saya hanya bisa berharap obat anti Covid itu segera lahir dari Wuhan. Atau dari mana pun.

Kalau doa itu terkabul saya akan ke Wuhan lagi seperti dulu-dulu. Saya tahu tempat-tempat makan yang enak di Wuhan. Terutama yang di sepanjang pinggir sungai Changjiang yang lebar, indah, dan gemerlap itu.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya