Berita

Asbari/Net

Dahlan Iskan

Kerdipan Asabri

MINGGU, 19 JANUARI 2020 | 05:04 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

UANG Asabri mungkin lebih bisa diselamatkan. Daripada uang Jiwasraya.

Asabri punya punggung yang kuat. Tidak perlu sampai ada pistol ditodongkan ke kening. Juga tidak perlu sampai bentak-membentak.

Dengan sedikit kerdipan mata saja seharusnya siapa pun takut.


Apalagi mereka sudah ditahan Kejaksaan Agung: Bentjok dan HaHa itu.

Benny Tjokrosaputro dan Heru Hidayat itu.

Mereka itu --khususnya Bentjok-- punya aset yang bisa dilirik. Memang bentuknya bukan uang kontan tapi bisa jadi uang --kapan-kapan.

Saya dengar dua orang itu sudah menandatangani surat pernyataan: sanggup mengatasi dana yang hilang di Asabri.

Meskipun sebenarnya bisa saja keduanya merasa tidak bersalah.

Tapi mereka tentu tidak mau kerdipan itu meningkat menjadi pelototan, atau yang lebih wow dari itu.

Transaksi yang mereka lakukan dengan asuransi milik TNI-Polri itu bisa saja memang legal. Lewat mekanisme yang terbuka pula: pasar modal.

Tapi ada korban di situ. Yakni Asabri. Yang menanggung masa depan dan hari tua semua anggota TNI dan Polri. Yang gaji mereka dipotong tiap bulan. Sebesar 4,75 persen untuk cadangan pensiun dan 3,25 persen untuk tunjangan hari tua.

Bisa saja direksi Asabri juga mengaku tidak bersalah --secara hukum.

Direksi Asabri memang perlu memutar uang --untuk memperoleh bunga yang lebih tinggi.

Untuk itu mereka menunjuk lembaga profesional untuk melaksanakan pemutaran uang tersebut.

Direksi tidak hanya menunjuk satu lembaga. Melainkan sampai 17 perusahaan.

Mereka itu adalah perusahaan manajemen investasi. Yang pekerjaannya menjalankan uang orang lain --secara profesional.

Mereka ini seharusnya bekerja untuk Asabri --yang mengontraknya. Tapi kok jadinya Asabri yang justru kehilangan 10 triliun rupiah.

Maka perlu diteliti siapa mereka itu. Meski resminya independen tapi mereka itu bisa dibaca: terkait dengan siapa.

Nah, dari 17 lembaga manajemen investasi itu ternyata hanya empat yang tidak terkait dengan Bentjok dan HaHa.

Sebagian besar lainnya ternyata terafiliasi dengan kedua nama konglomerat itu.

Di Jiwasraya lebih parah lagi. Dari 15 perusahaan manajemen investasi hanya satu yang tidak terkait dengan Bentjok dan HaHa.

Mereka memang ahli dalam goreng-menggoreng saham. Yang di pasar modal hal itu legal --sepanjang tidak ada yang dilanggar.

Salah satu hobi mereka memang adalah ini: mencari lubang --di mana saja kelemahan peraturan di pasar modal.

Dan mereka bisa menemukan lubang itu --berarti mereka memang jago dalam mencari lubang yang empuk.

Mereka pun tahu: pasti ada pihak yang hangus dalam proses penggorengan itu.

Itu pun salah yang hangus itu sendiri --mengapa masuk wajan penggorengan.

Hanya kali ini yang hangus itu Asabri --yang punya kemampuan mengerdipkan mata.

Maka mau tidak mau bubur itu harus bisa dijadikan nasi lagi.

Mungkin uang Asabri itu sudah menjadi tanah --menjadi aset perusahaan Bentjok atau HaHa.

Saya dengar mereka takut juga dengan kerdipan itu. Mereka pun sudah menyanggupi untuk menyelesaikannya.

Salah satunya dengan cara menyerahkan tanah di Serpong --tepatnya di Maja.

Kali ini Bentjok dan HaHa benar-benar kena batunya.

Kalau itu yang terjadi, memang, Asabri terselamatkan. Memang belum akan segera mendapat uang. Tapi setidaknya tidak jadi hangus.

Apalagi kalau negonya bisa ketat --kalau perlu tidak cukup pakai kerdipan.

Misalnya saja Asabri telah kehilangan Rp 10 triliun --tepatnya saya tidak tahu. Lalu Bentjok menyerahkan tanah senilai Rp 10 triliun.

Kelihatannya beres.

Pertanyaannya: Rp 10 triliun itu setara dengan berapa meter persegi?

Berarti berapa harga tanah permeter yang ia pasang?

Kalau harga tanah itu menggunakan harga pasar masa depan berarti Bentjok masih sangat untung.

Kalau harga tanah itu didasarkan pada harga pasar sekarang berarti Bentjok juga masih untung.

Berarti sama dengan Asabri telah membantunya menjualkan tanahnya.

Dalam jumlah besar.

Sekaligus pula laku.

Asabri mestinya berhak mendapat komisi marketing yang besar.

Bentjok dan HaHa benar-benar sial sekali ini.

Padahal sudah dua kali Bentjok melanggar. Tapi selalu lolos. Ia memang jago membuat skenario bisnis di pasar modal (Lihat DI's Way:Nasib Benny).

Maka anggota TNI dan Polri memang tidak perlu khawatir. Tinggal tanah itu nanti akan diapakan. Dijual? Dikerjasamakan? Ditabung?

Itu tantangan sekaligus peluang --peluang untuk ngobyek juga.

Anggota TNI dan Polri hanya perlu ikut memperbanyak doa. Setiap kali gaji mereka dipotong setiap itu pula harus ditambahkan doa.

Sebaliknya Jiwasraya.

Yang tidak punya tulang punggung yang bisa mengerdipkan mata.

Secara hukum sebenarnya salah nasabah sendiri --mengapa mau membeli produk yang diterbitkan Jiwasraya.

Banyak yang berharap Menteri BUMN Erick Thohir juga mengerdipkan mata.

Tapi, rasanya, mata Erick Thohir tidak cukup lebar untuk bisa mengerdip --yang sampai bisa membuat uang Jiwasraya kembali.

Sebenarnya saya ingin menulis mengapa salah nasabah Jiwasraya sendiri. Tapi novelis Tere Liye sudah menuliskannya secara gamblang.

Entah di mana dia menulis --saya hanya mendapatkan kiriman dari teman.

Bentjok dan HaHa mungkin memang akan kehilangan banyak aset. Kali ini. Untuk menebus nasib jeleknya.

Tapi itu lebih baik --terutama kalau Bentjok dan HaHa bisa tidak masuk penjara.

Toh begitu bisa bebas ia bisa mencari aset yang lain lagi --dengan cepat pula.

Wajannya masih ada. Dapurnya masih ada. Dan lubang-lubangnya mungkin juga masih ada.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya