Berita

Dr He Jiankui/Net

Dahlan Iskan

Hukuman Ilmuwan

KAMIS, 02 JANUARI 2020 | 04:56 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

LULU dan Nana hari ini, 1 Januari 2020, berumur 1 tahun 2 bulan.

Dokter yang melahirkannya, Senin lalu dijatuhi hukuman 3 tahun penjara. Ditambah denda Rp 6 miliar.

Lulu dan Nana adalah bayi hasil eksperimen Dr He Jiankui. Lokasi eksperimennya di rumah sakit universitas di Shenzhen, Tiongkok.


Secara ilmu pengetahuan Dr He dianggap berhasil. Riset yang dilakukannya di bidang editing gen manusia. Ia dokter pertama di dunia yang berhasil melakukan itu.

Tujuan editing itu adalah: agar sang bayi tidak terkena penyakit tertentu. Yakni penyakit sang ayah yang memalukan dan sangat berbahaya: HIV.

Maka gen Lulu dan Nana diedit. Ketika calon bayi itu masih berupa benih manusia. Bagian yang kelak akan menjadi penyakit dibuang.

Saat editing benih manusia itu dilakukan memang timbul pertanyaan: apakah embrio itu nanti masih bisa menjadi janin. Lalu: kalau toh bisa apakah janin itu akan bisa menjadi bayi yang normal.

Tapi semua itu menjadi rahasia dokter He. Bersama dua dokter asistennya. Maksimum hanya sampai profesor pembimbingnya: di Amerika Serikat sana.

Ups... Ada satu lagi yang tahu: ibu yang mengandung embrio tersebut. Rahasia uji coba kehidupan manusia itu memang berhasil  ditutup rapat. Pun sampai bayi yang dimaksud lahir. Kembar. Secara cesar.

Wanita semua. Diberi kode nama penelitian: Lulu dan Nana. Sebulan kemudian bayi itu hidup normal. Yakni setelah dikeluarkan dari inkubasi.

Saat masih di inkubasi si kembar dibebat kain putih. Yang dililitkan rapat di tubuh mungil mereka. Itu akibat si kembar harus dilahirkan secara prematur.

Kelahiran bersejarah itu terjadi di bulan Oktober 2018.

Sebulan kemudian Dr. dr. He membuka sebagian rahasianya di Hongkong. Dalam sebuah seminar ilmiah kedokteran.
Yang mendengar pun terkejut. Terjadilah kehebohan di dunia ilmu pengetahuan, khususnya bidang kedokteran.

Kehebohan itu melebar ke soal etika: apakah boleh seorang dokter melakukan editing gen. Perbuatan itu bisa dianggap sudah mencampuri otoritas Tuhan. Hampir seluruh dunia melarang tindakan seperti itu.

Dunia pun heboh.

Pemerintah Tiongkok turun tangan. Dokter He dianggap melanggar hukum. Ia dipecat dari universitas. Lalu dikenakan tahanan rumah.

Dan Senin 30 Desember kemarin ia dijatuhi hukuman tiga tahun. Jumlah denda yang harus ia bayar rupanya sama dengan anggaran negara yang telah digunakan untuk riset itu.

Yang menarik, salah satu kesalahan dokter He adalah: telah menggunakan riset universitas untuk popularitas pribadi.

Rupanya disitulah inti masalahnya. Harusnya biarlah instansi resmi Tiongkok yang mengumumkan.

Harusnya dokter He tetap saja diam dulu. Sampai penelitian lebih lanjut dilakukan. Misalnya apakah benar-bemar Lulu dan Nana kebal penyakit HIV.

Kalau saja penelitian dokter He itu benar-benar berhasil, mungkin saja editing gen bisa melebar ke penyakit lain. Misalnya diabetes.

Betapa ratusan juta orang tersiksa oleh penyakit diabetes. Yang sangat sulit disembuhkan itu.

Mereka menderita diabetes hanya karena salah satu orang tua mereka menderita gula darah.

Orang seperti Jaya Suprana, yang kaya raya sampai tidak mau punya anak. Hanya karena ia tidak ingin anaknya mewarisi diabetesnya, di samping mewarisi kekayaan dari pabrik jamu Jagonya.

Penderita diabetes pasti menunggu keberhasilan riset itu.

Lalu bisa meluas lagi ke penyakit-penyakit lain. Sehingga, kelak, setiap bayi yang lahir sudah dibuat kebal penyakit apa pun.

Sementara ini sang peneliti harus 'menderita' dulu.

Dua staf dokter He juga dijatuhi hukuman. Yang satu dua tahun tidak boleh menjalankan pekerjaan kedokteran. Dan satunya lagi diberi hukuman percobaan. Masing-masing juga harus membayar denda, meski tidak sebesar denda untuk dokter He.

Selebihnya tidak bisa banyak diketahui. Media Tiongkok sangat ketat dalam melakukan editing berita.

Saya juga tidak berhasil mencari tahu bagaimana kehidupan Lulu dan Nana. Apakah tetap diperbolehkan hidup atau tidak.

Pun kalau boleh hidup di manakah mereka dibesarkan.

Sampai suatu saat kelak kita dibuat kaget lagi: dokter He berhasil pula melakukan editing gen untuk penyakit diabetes.

Sekitar 10 tahun lagi.

Siapa tahu.

Saat itu nanti umur dokter He masih 45 tahun.


Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Perjalanan Karier Nanik S Deyang dari Jurnalis hingga Pimpin Dewan Pengawas BGN

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:23

Deklarasi Gus Kikin Maju Ketum PBNU Tuai Protes Sejumlah PCNU Jatim

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:13

Pesan Menag di FABC: Sinodalitas Gereja Cermin Musyawarah dan Gotong Royong

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:08

Prabowo Restui Pengunduran Diri Nanik dari BGN, Siapkan Dewan Pengawas Baru

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:06

Emas Antam Mulai Naik, Harga Buyback Tembus Rp2,38 Juta per Gram

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Prabowo Puji Keterlibatan Perwira TNI-Polri dalam Penanganan Bencana Sumatera

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Saat Jakarta jadi Jembatan Persaudaraan Asia

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:45

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.913 per Dolar AS Jelang Rilis Suku Bunga BI

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:34

KPK Bongkar Dugaan Penyamaran Aset Bupati Lombok Barat, Pasal TPPU Disiapkan

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:29

Ancaman Houthi Guncang Pasar, Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:24

Selengkapnya