Berita

Israel/Net

Global

Dunia Arab Satu Suara Kecam Pengakuan AS Atas Yerusalem Sebagai Ibukota Israel

KAMIS, 07 DESEMBER 2017 | 07:22 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Keputusan yang diambil oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel menuai respon penolakan keras dari dunia Arab.

Keputusan Trump itu diikuti dengan pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem. Kebijakan ini membalikkan kebijakan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan presiden sebelumnya.

Status Yerusalem terletak di jantung konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung lama, karena Palestina mengklaim Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka.


Pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa keputusan Trump adalah pengakuan atas kenyataan saat ini dan sejarah namun bukan sebuah pernyataan politik, dan tidak akan mengubah batas-batas fisik dan politik Yerusalem.

Dunia Arab, seperti dirangkum BBC, satu suara mengcam langkah Trump tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Turki menilai bahwa Trump telah mengambil keputusan yang tidak bertanggungjawab.

"Keputusan tersebut bertentangan dengan hukum internasional dan resolusi PBB yang relevan," kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu.

Sementara itu Arab Saudi, melalui medianya, mengatakan bahwa Raja Salman melalui sambungan telepon dengan Trump mengatakan bahwa relokasi kedutaan atau pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel akan menjadi provokasi mencolok umat Islam, di seluruh dunia.

Di Mesir, Presiden Abdul Fattah al-Sisi memperingatkan bahwa langkah itu akan mempersulit situasi di kawasan ini dengan memperkenalkan langkah-langkah yang akan mengurangi kesempatan untuk perdamaian di Timur Tengah.

Sedangkan Liga Arab menyebutnya sebagai tindakan berbahaya yang akan menimbulkan dampak di seluruh wilayah. Organisasi kawasan itu juga mempertanyakan peran masa depan Amerika Serikat sebagai mediator terpercaya dalam perundingan damai.

Iran mengatakan keputusan tersebut mengambil risiko sebuah "intifadah baru", atau pemberontakan di tanah Palestina. Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa Amerika Serikat telah secara jelas melanggar resolusi internasional.

Sementara itu, Raja Yordania Abdullah menyerukan upaya bersama untuk mengatasi konsekuensi keputusan ini. Seorang juru bicara pemerintah Yordania mengatakan bahwa Trump telah melanggar hukum internasional dan piagam PBB.

Presiden Libanon Michel Aoun mengatakan bahwa proses perdamaian akan selesai beberapa dekade lebih lama pasca keputusan Trump. Sementara Menteri Luar Negeri Qatar mengatakan bahwa tindakan tersebut adalah bentuk hukuman mati bagi semua orang yang mencari perdamaian. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya