Berita

Pangeran Mohammed bin Salman/Reuters

Dunia

Penangkapan 12 Pangeran Saudi Bentuk Permainan Kekuatan Putra Mahkota

SENIN, 06 NOVEMBER 2017 | 07:24 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Penangkapan belasan pangeran Saudi termasuk Pangeran Alwaleed bin Talal akhir pekan kemarin diklaim merupakan bagian dari kasus korupsi.

Merujuk pada keterangan resmi Kementerian Komunikasi Saudi seperti dimuat Vox, penangkapan ini merupakan bentuk kampanye anti-korupsi baru yang diprakarsai oleh Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud.

Komite Anti-korupsi yang dipimpin Putra Mahkota Mohammed bin Salman memiliki hak untuk menyelidiki, menangkap, melarang perjalanan, atau membekukan aset siapa pun yang dianggap melakukan korupsi.


Dalam keterangan yang sama disebutkan bahwa langkah itu adalah agenda reformasi aktif yang bertujuan untuk mengatasi masalah terus-menerus yang telah menghambat usaha pembangunan di Kerajaan dalam beberapa dekade terakhir.

Penangkapan belasan pangeran Saudi, termasuk Pangeran Alwaleed yang menyedot perhatian dunia dipandang oleh sejumlah pengamat sebagai sebagai sebuah bentuk upaya pembersihan dan juga permainan kekuatan.

"Ini adalah tindakan konsentrasi kekuasaan terakhir di Saudi," kata kepala riset ekuitas global di Exotix Capital, Hasnain Malik seperti dimuat CNBC.

"Belum pernah terjadi sebelumnya dan kontroversial seperti ini, pemusnahan ini mungkin juga merupakan syarat penting untuk mendorong agenda penghematan dan transformasi (yang diperjuangan oleh Putra Mahkota)," sambungnya.

Hal itu terutama berkaitan dengan sosok Putra Mahkota, Pangeran Mohammed bin Salman. Ia dipandang sebagai "pemain kekuatan kunci" di belakang raja dan seorang pembaharu dengan standar Saudi.

Konsolidasi kekuatan Mohammed bin Salman jauh melesat. Ia telah memimpin Kementerian Pertahanan Saudi sejak tahun 2015, dan awal tahun ini ia mengambil alih Kementerian Keamanan Internal. Ia pun memperkenalkan sebuah rencana ambisius untuk mengalihkan ekonomi Saudi dari ketergantungan minyak dengan membuka keran investasi lebih banyak. Ia pun mengambil peran utama dalam kebijakan luar negeri dan sosial Arab Saudi saat ini.

John Defterios, Editor Emerging Markets CNN yang telah meliput Arab Saudi sejak tahun 1990an, mengatakan bahwa "penyapuan" tersebut merupakan bagian dari perombakan "puncak ke bawah" Putra Mahkota.

"Dari keseluruhan rencana Vision 2030 (yang dicanangkan Putra Mahkota), untuk reformasi sosial dengan wanita yang mengemudi, dan seperti yang kita lihat sekarang sebagai kaki ketiga, dorongan agresif untuk membasmi korupsi," katanya seperti dimuat CNN.

Defterios mengatakan bahwa telah lama ada kekhawatiran tentang korupsi di Arab Saudi.

"Koreksi harga minyak telah mengubah permainan mereka tidak mampu untuk melakukan bisnis seperti biasa seperti yang mereka lakukan selama 20 tahun terakhir," katanya.

"Itulah alasan mengapa mereka ingin melakukan diversifikasi ekonomi dan juga melakukan upaya berani untuk membasmi korupsi," jelasnya.

Sementara itu, Fawaz Gerges, Guru Besar Hubungan Internasional di London School of Economics, mengatakan bahwa dunia menyaksikan "kelahiran orde baru di Arab Saudi."

"Putra Mahkota Mohammed bin Salman tidak hanya mengkonsolidasikan kekuatannya tapi juga meletakkan visinya untuk kerajaan tersebut dan menerapkan visinya," katanya.

"Banyak orang dalam dua atau tiga tahun terakhir telah meremehkan kemampuan putra mahkota Mohammed bin Salman, tidak hanya untuk mengkonsolidasikan kekuatannya tapi juga untuk struktur negara dan ekonomi," sambungnya.

"Segala sesuatu yang telah terjadi pada tahun lalu di Arab Saudi mengatakan kepada saya bahwa Mohammed bin Salman, menerapkan gagasannya dan tidak hanya menindaklanjuti tokoh oposisi namun berusaha mencegahnya, seperti yang dia katakan beberapa hari yang lalu, pendarahan ekonomi dan migrasi sumber daya dari Arab Saudi ke negara lain," tambahnya

"Arab Saudi sedang mengalami transisi besar dan besar. Butuh beberapa saat agar tatanan baru ini menjadi mapan dan jelas," tutupnya seperti dimuat CNN. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya