Berita

Ilustrasi/Net

Global

Butuh Satu Abad Untuk Hapus Kesenjangan Gender

JUMAT, 03 NOVEMBER 2017 | 09:58 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Kesetaraan gender antara pria dan wanita membutuhkan waktu 100 tahun untuk bisa benar-benar terwujud.

Begitu menurut data yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF). Kelompok ini menunjukkan pembedaan gender yang meningkat dari tahun ke tahun sejak mulai mencatatnya di tahun 2006.

Laporan tersebut memuat 144 negara dengan peluang ekonomi, pendidikan, partisipasi politik dan kesehatan. Wanita diukur memiliki 68% dari kemungkinan dan hasil yang dimiliki pria. Angka ini sedikit turun dari yang diukur tahun lalu yakni 68,3%.


Kelompok tersebut memperkirakan bahwa satu abad akan menutup semua bidang persamaan yang dipantau secara global, jauh dari perkiraan 83 tahun pada tahun 2016.

Paritas gender paling dekat adalah dengan bidang kesehatan dan pendidikan, namun kesenjangan signifikan dalam partisipasi ekonomi dan pemberdayaan politik terus berlanjut di seluruh dunia.

Menurut data WEF, wanita harus menunggu 217 tahun sebelum mereka mendapatkan penghasilan sebanyak laki-laki dan sama-sama diwakili di tempat kerja.

Data WEF juga mencatat sejumlah negara yang dinilai terbaik di dunia dalam hal kesetaraan gender secara keseluruhan. Islandia berada di puncak daftar dengan kesenjangan gender 12% dari semua indikator WEF. Negara Nordic lainnya, Norwegia, Finlandia dan Swedia semua berada di lima besar.

Rwanda berada di urutan keempat dalam daftar untuk kesetaraan jender secara keseluruhan dengan selisih 18% (ketimpangan gender). Negara ini memiliki bagian wanita tertinggi di parlemen di dunia. Wanita menempati tiga dari setiap lima kursi di parlemen.

Nikaragua, Slovenia, Irlandia, Selandia Baru dan Filipina juga menduduki posisi 10 besar dalam peringkat ketimpangan gender.

Perempuan di Timur Tengah dan Afrika Utara bernasib buruk, dengan Yaman yang dilanda perang terakhir dalam daftar dengan skor kesetaraan jender hanya 52%. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya