Berita

Mahasiswa Muslim di Jakarta menuntut pelarangan kelompok komunis pada tahun 1965/Net

Global

AS Tahu Detail Pembantaian Politik 1965

RABU, 18 OKTOBER 2017 | 09:39 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Amerika Serikat mengetahui secara terperinci soal pembantaian politik anti-PKI yang terjadi di Indonesia antara tahun 1965 dan 1966.

Hal itu terlihat dalam dokumen-dokumen lama yang dirilis oleh Pusat Deklasifikasi Nasional (NDC) Amerika Serikat, sebuah divisi dari Administrasi Arsip dan Catatan Nasional (NARA) Amerika Serikat baru-baru ini. Lebih banyak dokumen, termasuk file CIA, diperkirakan akan dirilis akhir tahun ini.

Sebanyak 39 dokumen yang sebelumnya diklasifikasikan berasal dari kumpulan file, catatan harian dan memo dari kedutaan AS di Jakarta selama periode 1964-1968 dirilis baru-baru ini, lima dekade setelah kejadian tersebut.  


Sejumlah dokumen tersebut antara lain adalah telegram tertanggal 28 Desember 1965, menurut salah seorang staf kedutaan AS di Jawa Timur, korban dibawa keluar dari daerah-daerah sebelum terbunuh dan mayat dikuburkan daripada dibuang ke sungai.

Telegram tersebut mengatakan bahwa tahanan yang dicurigai sebagai komunis juga dikirim ke warga sipil untuk dibantai.

Dokumen lain yang dikumpulkan oleh sekretaris pertama kedutaan AS tersebut, tertanggal 17 Desember 1965, berisi daftar terperinci dari para pemimpin komunis di seluruh negeri dan apakah mereka telah ditangkap atau dibunuh.

Catatan kabel Amerika Serikat juga menyinggung soal keterlibatan kelompok agama dalam kejadian tersebut.

Kabel tertanggal Desember 1965 dari konsulat AS di Medan di Sumatra mengatakan bahwa para pengkhotbah Muhammadiyah mengatakan kepada orang-orang bahwa ini adalah kewajiban religius untuk membunuh komunis yang dicurigai. Mereka adalah orang kafir terendah, penumpahan darahnya sebanding dengan pembunuhan ayam. Begitu bunyi laporan tersebut.

Kabel AS mengatakan bahwa ini ditafsirkan sebagai lisensi luas untuk membunuh.

Telegram lain mencatat bahwa orang-orang yang tidak memiliki hubungan dengan Partai Komunis dibunuh oleh kelompok pemuda Nahdlatul Ulama karena perseteruan pribadi.

Periode 1965-1966 merupakan momen sejarah paling menyakitkan di mana ratusan ribu nyawa melayang. Itu adalah salah satu pembantaian terburuk abad ke-20, namun, pada saat itu, Washington bersikap tetap diam.

Brad Simpson, pendiri dan direktur proyek dokumentasi Indonesia dan Timor Leste, mendorong dirilisnya file tersebut

"Dokumen-dokumen ini menunjukkan dengan sangat rinci bagaimana pejabat AS mengetahui berapa banyak orang yang terbunuh," kata Simpson seperti dimuat BBC.

Sementara itu peneliti Human Rights Watch Andreas Harsono mengatakan bahwa penelitiannya yang ekstensif tidak menemukan komentar publik dari pemerintah AS pada saat pembantaian tersebut terjadi.

Simpson mengatakan bahwa ada ketertarikan publik terhadap Indonesia untuk mengetahui kebenaran setelah bertahun-tahun propaganda anti-komunisme.

"Orang Indonesia sekarang bisa membaca sendiri dan belajar tentang kejadian penting ini dalam sejarah Indonesia sebagai bagian dari perjuangan keadilan dan pertanggungjawaban yang lebih besar," katanya. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya