Berita

Duterte/Net

Global

Kelompok HAM Ingatkan Duterte Bisa Melakukan Kejahatan Perang

RABU, 26 JULI 2017 | 14:51 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Presiden Filipina Rodrigo Duterte membuat kelompok hak asasi manusia kembali cemas setelah mengeluarkan pernyataan yang menyebut bahwa diriya mengancam akan membom sekolah-sekolah kesukuan karena diduga mengajar siswa untuk menjadi pemberontak komunis.

Dalam sebuah konferensi pers yang disiarkan televisi lokal awal pekan ini, Duterte mengecam pemberontak karena menghancurkan jembatan dan membakar sekolah di pedesaan. Namun demikian,pemberontak menyebut bahwa mereka berupaya menyelamatkan sekolah adat Lumad. Menurut Duterte, sekolah itu beroperasi di bawah kontrol pemberontak tanpa izin pemerintah.

"Keluar dari sana! Saya memberitahu warga Lumads. Saya akan mengebom, termasuk struktur Anda," kata Duterte.


"Saya akan menggunakan angkatan bersenjata, angkatan udara Filipina. Saya benar-benar akan mengebom karena Anda beroperasi secara ilegal dan Anda sedang mengajar anak-anak untuk memberontak melawan pemerintah," tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, kelompok HAM Human Right Watch meminta ia untuk menarik kembali ancaman tersebut dan memperingatkan bahwa bila pemboman benar-benar dilakukan, maka itu akan menjadi bentuk kejahatan perang.

Human Rights Watch yang berbasis di AS mengatakan bahwa undang-undang kemanusiaan internasional melarang serangan terhadap sekolah dan bangunan sipil lainnya kecuali jika mereka digunakan untuk tujuan militer.

Selain itu,serangan yang disengaja terhadap warga sipil, termasuk pelajar dan guru, juga merupakan kejahatan perang.

"Dengan menyerukan sebuah serangan ke sekolah, Duterte mengarahkan militer untuk melakukan kejahatan perang," kata Carlos Conde dari Human Rights Watch seperti dimuat The Guardian. [mel]

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya