Berita

Protes larangan perjalanan Trump/Net

Global

Aturan Perjalanan Baru Mulai Berlaku, WN Enam Negara Ini Semakin Sulit Masuk AS

JUMAT, 30 JUNI 2017 | 14:15 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Orang-orang dari enam negara terutama Muslim, yakni Iran, Libya, Suriah, Somalia, Sudan dan Yaman serta semua pengungsi semakin sulit untuk bisa menginjakkan kaki di Amerika Serikat menyusul larangan berjalanan terbaru yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Larangan terbaru itu resmi diberlakukan setelah putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat awal pekan ini yang mendukung larangan sementara tersebut.

Dengan demikian, orang-orang dari enam negara tersebut serta semua pengungsi akan ditolak visa AS dan dilarang masuk jika tidak memiliki hubungan bisnis atau kerabat dekat di AS.


Mereka yang memiliki keluarga dekat di AS seperti pasangan, orangtua, anak atau saudara kandung, diizinkan untuk masuk ke AS.Dalam perubahan menit terakhir, pemerintah Trump memperpanjang definisi keluarga dekat untuk memasukkan tunangan.

Namun kakek-nenek, bibi, paman dan keponakan tidak dimasukkan dalam kategori keluarga dekat.

Beberapa saat sebelum larangan tersebut resmi diberlakukan pekan ini, terungkap bahwa negara bagian Hawaii telah meminta hakim federal untuk klarifikasi.

Jaksa Agung Hawaii berpendapat bahwa definisi "keluarga dekat" terlalu sempit dan mungkin secara tidak semestinya mencegah orang bepergian ke AS.

Selain hubungan keluarga, mereka yang dibebaskan dari peraturan baru adalah mereka yang memiliki hubungan bisnis atau pendidikan dengan AS.

Namun, pedoman tersebut secara khusus menyatakan bahwa hubungan tersebut harus formal, didokumentasikan dan tidak dibentuk untuk tujuan menghindari perintah tersebut.

Mereka yang sudah memegang visa yang sah tidak terpengaruh. Warga negara ganda yang melakukan perjalanan dengan paspor mereka dari negara yang tidak terpengaruh juga akan diizinkan masuk. Demikian seperti dimuat BBC. [mel]

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya