Bagi Adidas, final di New York/New Jersey adalah skenario impian. Mereka menguasai panggung utama dengan mensponsori kedua finalis, serta mengikat kontrak dengan ikon besar seperti Lionel Messi dan bintang muda sensasional Lamine Yamal.
Sebaliknya, Nike harus menelan pil pahit. Meski sempat mengusung ambisi besar dengan menggandeng tim bertabur bintang seperti Prancis dan Inggris, kegagalan kedua tim tersebut melaju ke final membuat logo "Swoosh" terpinggirkan ke laga perebutan tempat ketiga.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi jenama asal Amerika Serikat tersebut, terutama karena laga final berlangsung di kandang mereka sendiri.
Namun, terlepas dari rivalitas Adidas dan Nike, FIFA tetap berdiri kokoh sebagai pemenang sejati.
Piala Dunia 2026 terbukti menjadi mesin pencetak uang yang belum pernah ada tandingannya dalam sejarah olahraga.
Federasi sepak bola dunia ini sukses mencetak rekor pendapatan sponsor hingga 2,8 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 49,9 triliun.
Angka fantastis ini melonjak tajam dibandingkan pendapatan pada Piala Dunia 2022 di Qatar yang mencapai 1,8 miliar dolar AS atau Rp 32,1 triliun.
Menariknya, turnamen ini juga membuktikan bahwa kreativitas mampu mengalahkan besarnya modal.
Jenama denim Levi's menjadi sorotan setelah dengan cerdik memonetisasi kewajiban menutup logo mereka di stadion tuan rumah melalui kampanye "The logo disappeared, the brand didn't".
Tanpa harus membayar royalti jutaan dolar kepada FIFA, mereka justru sukses memenangkan atensi dan percakapan budaya di media sosial.
Piala Dunia 2026 benar-benar menjadi ajang di mana strategi dan kreativitas memegang kunci utama kesuksesan.
BERITA TERKAIT: