Legislator Nilai Konser Andrea Bocelli Bantu Perluas Promosi Budaya Indonesia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/diki-trianto-1'>DIKI TRIANTO</a>
LAPORAN: DIKI TRIANTO
  • Minggu, 01 November 2026, 16:55 WIB
Legislator Nilai Konser Andrea Bocelli Bantu Perluas Promosi Budaya Indonesia
Konser Andrea Bocelli di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu, 31 Oktober 2026. (Foto: Istimewa)
Kecil Besar
rmol news logo Konser penyanyi tenor dunia Andrea Bocelli di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah dinilai menjadi momentum strategis untuk memperluas promosi budaya Indonesia sekaligus mendorong pariwisata dan ekonomi kreatif.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga mengatakan, konser yang digelar Sabtu, 31 Oktober 2026 itu bukan sekadar pertunjukan musik kelas dunia, melainkan kesempatan memperkenalkan warisan peradaban Indonesia kepada masyarakat internasional.

“Konser Andrea Bocelli di Candi Borobudur harus dilihat lebih dari sekadar pertunjukan musik kelas dunia. Peristiwa ini momentum strategis untuk mempertemukan warisan peradaban Indonesia dengan ekspresi seni universal yang memiliki daya jangkau internasional,” kata Lamhot dalam keterangannya, Minggu, 1 November 2026.

Menurut Lamhot, Borobudur memiliki nilai sejarah, arsitektur, spiritualitas, dan kebudayaan yang diakui dunia. Kehadiran Andrea Bocelli dengan reputasi globalnya berpotensi memperluas jangkauan promosi Borobudur, sekaligus memperkenalkan Indonesia melalui kekayaan warisan budayanya.

Ia menilai konser tersebut juga dapat menjadi instrumen diplomasi budaya atau soft power Indonesia. Namun, keberhasilannya tidak cukup diukur dari kemegahan panggung dan jumlah penonton.

Dampak terhadap pemberitaan internasional, kunjungan wisatawan mancanegara, lama tinggal, belanja wisata, serta keterlibatan pelaku usaha lokal juga perlu menjadi indikator keberhasilan.

“Jangan sampai sebuah konser besar hanya menghasilkan perhatian publik selama satu atau dua hari, kemudian tidak meninggalkan manfaat jangka panjang bagi daerah,” tegasnya.

Lamhot juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian Borobudur sebagai situs warisan budaya dunia. Setiap kegiatan berskala internasional di kawasan cagar budaya harus memperhatikan daya dukung lingkungan, kapasitas pengunjung, dampak suara dan getaran, penggunaan peralatan panggung, pengelolaan limbah, serta keamanan kawasan.

“Pelestarian merupakan prioritas utama, sedangkan pemanfaatan ekonomi dan pariwisata merupakan manfaat yang mengikuti prinsip pelestarian tersebut,” ujarnya.

Di sisi lain, Lamhot mendorong agar konser internasional membuka peluang lebih luas bagi pelaku ekonomi kreatif Indonesia, mulai dari musisi lokal, pekerja produksi, perhotelan, transportasi, kuliner, kriya, fesyen, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ia meminta Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, pemerintah daerah, pengelola destinasi, dan pelaku industri memperkuat kolaborasi berkelanjutan. Program pertukaran seniman, pengembangan talenta, pelibatan UMKM, dan paket wisata budaya dinilai perlu dikembangkan agar manfaat ekonomi kegiatan internasional dapat dirasakan masyarakat sekitar.

“Seni Indonesia harus memiliki ruang yang setara untuk berdialog, berkolaborasi, dan dikenal dalam jaringan industri seni global,” kata Lamhot.

Konser bertajuk Romanza 30th Anniversary World Tour berlangsung pada Sabtu, 31 Oktober 2026 malam dengan dihadiri ribuan penonton dari dalam dan luar negeri. Pertunjukan tersebut memadukan musik klasik dengan latar kemegahan Candi Borobudur. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: DIKI TRIANTO
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA