Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan, dunia usaha memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas Rupiah melalui peningkatan aktivitas ekonomi, terutama dari sisi ekspor dan investasi.
“Kalau saya melihatnya ialah bagaimana dunia usaha bisa membantu rupiah dengan meningkatkan ekspor dan investasi,” ujar Anindya di sela-sela acara Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta, dikutip Jumat, 30 Oktober 2026.
Anindya mengatakan, investasi di pasar modal juga perlu ditingkatkan untuk mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Menurutnya, masuknya kembali dana asing ke pasar domestik akan memberikan sentimen positif bagi perekonomian nasional.
Ia mencontohkan, apabila dana asing sebesar 15 miliar Dolar AS masuk ke Indonesia, dampaknya bukan hanya menggerakkan pasar keuangan, tetapi juga dapat memperbaiki persepsi investor terhadap risiko investasi di Indonesia.
Perbaikan persepsi risiko tersebut pada akhirnya berpotensi menekan biaya utang pemerintah melalui penurunan beban bunga.
Namun, Anindya mengingatkan penguatan investasi tidak boleh hanya mengandalkan pasar modal. Investasi jangka panjang di sektor riil juga harus diperbesar agar mampu memperkuat kapasitas produksi dan menopang pertumbuhan ekonomi.
“Bagaimana meningkatkan Rupiah, kita fokus kepada peningkatan investasi, bukan hanya investasi pasar modal, tapi juga investasi yang bersifat jangka panjang,” tegasnya.
Di sisi lain, Kadin juga mendorong peningkatan ekspor nasional. Anindya menyebut nilai ekspor Indonesia saat ini berada di kisaran 300 miliar Dolar AS, yang ditopang sejumlah komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), batu bara, dan baja jadi.
Menurutnya, pasar ekspor Indonesia masih bisa diperluas dengan membuka akses perdagangan ke sejumlah kawasan baru, termasuk Uni Eropa, Asia Tengah, hingga Kanada.
Untuk itu, ia berharap perluasan pasar tersebut tidak hanya mendongkrak nilai ekspor, tetapi juga memberikan efek berganda bagi pelaku usaha dalam negeri yang terlibat dalam rantai pasok.
“Indonesia fokusnya bukan saja meningkatkan ekspor, tapi juga inklusif. Teman-teman di supply chain ini juga bisa kebawa,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: