Mengutip laporan
Al Jazeera, insiden yang terjadi pada Sabtu waktu setempat, 10 Oktober 2026, tersebut juga mengakibatkan kerusakan properti dan memaksa otoritas menghentikan sementara operasional bandara.
Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) mengungkapkan korban tewas terdiri dari empat warga negara Arab Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, dan Mesir.
Dikatakan bahwa sejumlah korban luka berada dalam kondisi kritis dan seluruhnya tengah mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.
Serangan tersebut menjadi aksi ketiga Houthi yang menyasar bandara internasional itu dalam sepekan. Pada Kamis sebelumnya, 8 Oktober 2926, serangan terhadap Bandara King Khalid menewaskan sedikitnya tiga warga Arab Saudi, termasuk seorang pilot.
Otoritas penerbangan menyatakan masih mengevaluasi kerusakan yang terjadi sebelum operasional bandara dapat dipulihkan.
Koalisi pimpinan Arab Saudi yang berperang melawan Houthi di Yaman mengecam serangan terbaru itu sebagai kejahatan perang.
Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, menegaskan pihaknya akan mengambil tindakan tegas sebagai respons atas serangan tersebut.
“Kami akan merespons secara tegas serangan teroris ini sesuai dengan Hukum Humaniter Internasional Kebiasaan,” kata al-Malki. Dia juga mengonfirmasi insiden terpisah ketika sebuah proyektil jatuh di sekitar Bandara Internasional King Fahd di Dammam.
Serangan ini berlangsung di tengah eskalasi pertempuran di Yaman antara pasukan yang mendukung pemerintah yang diakui secara internasional dan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Houthi sebelumnya memperingatkan maskapai penerbangan agar menghindari wilayah udara Arab Saudi, yang mereka nyatakan sebagai zona operasi militer setelah pemerintah Yaman melancarkan ofensif terhadap kelompok tersebut pada Senin, 5 Oktober 2026.
BERITA TERKAIT: