Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Irjen Wahyu Widada: Aceh Jangan Sampai Jadi Pintu Masuk Narkoba

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/idham-anhari-1'>IDHAM ANHARI</a>
LAPORAN: IDHAM ANHARI
  • Rabu, 04 Agustus 2021, 13:53 WIB
Irjen Wahyu Widada: Aceh Jangan Sampai Jadi Pintu Masuk Narkoba
Irjen Wahyu Widada dalam acara bincang santai bersama JMSI Provinsi Aceh/Repro
rmol news logo Banyak hal menarik dari cerita Irjen Wahyu Widada saat menjabat sebagai Kapolda Aceh selama 1 tahun 6 bulan. Mulai dari pengungkapan kasus narkoba hingga bagaimana mengoptimalkan layanan kepolisian di Hotline 110.

Cerita itu disampaikannya salam bincang santai yang diselenggarakan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Aceh, secara daring, Rabu (4/8). Acara tersebut dihadiri oleh 58 orang partisipan, dimoderatori oleh Sekretaris JMSI Aceh Akhiruddin Mahjuddin, dan juga diikuti langung oleh Ketua Umum JMSI Pusat Teguh Santosa.

Salah satu hal yang diceritakannya adalah operasi penangkapan gembong narkoba di provinsi serambi Mekah ini yang dinilai banyak kalangan berhasil. Irjen Wahyu mengatakan dirinya justru tidak begitu bangga, dan sebaliknya prihatin.

Awalnya Nasrul Zaman, salah seorang peserta bincang santai, mengapresiasi kinerja Polda Aceh dalam memberantas narkoba.

“Terkait narkoba di satu sisi saya bangga saat jadi Kapolda Aceh bisa mengungkap begitu banyak narkoba, tahun 2020 sebanyak 890 Kg, tahun 2021 sebanyak 1,5 ton (yang disita). Belum lagi yang diungkap Mabes Polri lebih dari 3,5 ton. Tapi di sisi lain kita harus prihatin. Ini harus jadi PR kita bersama dan harus diperangi bersama,” kata Wahyu.

Wahyu Widada akan meninggalkan posisinya di Polda Aceh untuk menempati posisi baru di Mabes Polri sebagai Asisten SDM Kapolri. Dia berharap setelah dia pergi, masyarakat Aceh meneruskan perang terhadap narkoba sehingga Aceh tidak menjadi pintu masuk narkoba.

“(Narkoba) daya destruktifnya sangat luar biasa. Amat sangat menghancurkan terutama bagi generasi muda,” tekan Wahyu.

Wahyu mengingatkan, narkoba bisa menjadi instrumen untuk menjajah satu negara. Ia mencontohkan Perang Candu di China yang akhirnya dapat menghancurkan bangsa itu sehingga mudah dijajah.

“China dulu sulit dikalahkan Inggris, tapi begitu didrop dengan candu, semangat bertempurnya berkurang. Akhirnya down, dan gampang untuk dijajah gampang untuk dikalahkan,” tandasnya.

Alumnus Akpol 1991 peraih Adhi Makayasa itu menyampaikan bahwa saat ini Polri di bawah komando Jenderal Listyo Sigit Prabowo terus berbenah, terutama dalam hal pelayanan kepada masyarakat melaui single nomor atau nomor tunggal pelayanan kepolisian 110. Wahyu yang berperan di balik tagline "Polri Presisi" ini mengatakan, tanpa mindset personel yang tetap, sistem kerja yang disiapkan akan sia-sia.

“Alatnya sudah baik, tapi kalau ditelpon sama masyrakat tidak diangkat kan percuma juga. Inilah PR yang masih terus kita lakukan perbaikan-perbaikan;” ungkap Wahyu.

Dalam hal ini, lanjutnya, Mabes Polri telah membentuk satu posko yang tugasnya memantau pelaksanaan seluruh Program Presisi apakah sudah optimal dan berjalan hingga kendala yang dihadapi di lapangan.

“Ada desk khusus yang memantau sejauh mana Polri Presisi ini berjalan. Kapolri memantau secara langsung,” pungkas Wahyu.

Dengan layanan 110 diharapkan agar masyarakat bisa mendapatkan layanan kepolisian semudah memesan pizza. Layanan kepolisian ini merupakan program prioritas "Presisi" atau "Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan" dari Kapolri.

Melalui Hotline 110 masyarakat diberi kemudahan untuk mendapatkan informasi dan dapat melakukan sharing informasi kepada polisi.rmol news logo article
EDITOR: IDHAM ANHARI

ARTIKEL LAINNYA