Farah.ID
Farah.ID

Tongkat Estafet Beralih Ke Tangan Habibie

LAPORAN: REPUBLIKMERDEKA.ID
  • Kamis, 10 Juni 2021, 14:20 WIB
Tongkat Estafet Beralih Ke Tangan Habibie
BJ Habibie ketika disumpah sebagai Presiden Republik Indonesia ke-3 di Istana Negara, Jakarta 21 Mei 1998./Repro
Detik-detik menjelang lengsernya Presiden Soeharto. Selepas Magrib, pada 20 Mei 1998, di kediaman Soeharto di Jalan Cendana, Menteng Jakarta Pusat.

Menteri Sekretaris Negara saat itu, Saadilah Mursyid bersama tiga bawahannya, yakni Yusril Ihza Mahendra, Bambang Kesowo, dan Sunarto Sudarno tengah galau dengan nasib Komite Reformasi.

Sehari sebelumnya, 19 Mei 1998, Soeharto telah mengundang sembilan orang tokoh masyarakat ke Istana Negara. Para tokoh itu diajak untuk bergabung dengan Komite Reformasi yang nantinya bertugas merumuskan pemerintahan usai Soeharto lengser.

Sembilan tokoh yang hadir saat itu adalah Abdurrahman Wahid, Emha Ainun Nadjib, Ma'ruf Amin, Ahmad Bagja, Alie Yafie, Anwar Harjono, Ilyas Rukhyat, Malik Fadjar, dan Soetrisno Muhdam. Namun, kesembilan orang itu menolak pinangan Soeharto.

Atas kondisi itu, Yusril sempat berbicara dengan Soeharto.  "Saya bilang, 'Pak, ini situasi sudah sangat begini. Apa enggak lebih baik Bapak memikirkan untuk mengundurkan diri?” tanya Yusril.

Soeharto menjawab,  “Ya, saya juga sudah mau lengser, cuma bagaimana caranya supaya tidak menimbulkan kekacauan?.”

Soeharto masih ngotot lengser setelah pembentukan Komite Reformasi. Itulah yang membuat para pejabat Setneg galau. Ketiganya tak yakin dengan rencana pembentukan Komite Reformasi tersebut. Pesimis langkah politik itu bakal gagal.

Pasalnya, hingga rapat malam itu, dari 45 tokoh masyarakat yang dipinang hanya tiga orang yang menyatakan bersedia bergabung dengan komite tersebut. Padahal, Saadilah dalam jumpa pers telah mengumumkan bahwa susunan awal komite tersebut akan diumumkan oleh Soeharto besok, 21 Mei 2021.

"(Saat itu) kami rapat membahas persiapan pembentukan Komite Reformasi," kisah Yusril Ihza Mahendra yang saat itu bekerja sebagai pembuat naskah pidato Presiden Soeharto, dikutip dari CNNIndonesia.

Saat itu, Soeharto memang masih belum berniat untuk turun tahta segera. Ia masih bertekad menyelesaikan segala krisis dengan didampingi Komite Reformasi yang bakal dibentuknya. Soeharto juga ingin membentuk kabinet baru bernama Kabinet Reformasi.

Karena kesulitan mendapatkan tokoh yang bersedia, akhirnya empat pejabat Setneg itu sepakat untuk menunda pengumuman susunan awal Komite Reformasi.

Selanjutnya, Yusril meninggalkan rumah Soeharto menuju kediaman Malik Fadjar yang terletak tak jauh dari jalan Cendana. Tujuannya untuk makan dan berganti pakaian. Yusril bertemu dengan dua menteri Kabinet Pembangunan VII, yaitu Akbar Tanjung dan Tanri Abeng. Kemudian Yusril mengonfirmasi soal kabar pengunduran diri para menteri.

"Bang Akbar membuka jaketnya. Dikeluarin surat dalam amplop. Bang Akbar bilang, 'ini surat-surat para menteri sudah mundur. Lihat'," cerita Yusril, menirukan dialognya dengan Akbar Tanjung.

Saat itu, Akbar Tandjung merupakan salah satu dari 14 menteri yang menolak masuk Kabinet Reformasi.

Yusril menunjukkan berkas salinan surat yang diterimanya dari Akbar Tanjung ke Saadilah Mursyid. Surat itu berisi bahwa 14 menteri yang dipimpin Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita menyatakan tidak bersedia diikutsertakan dalam Kabinet Reformasi yang akan dibentuk Soeharto.

Saadilah Mursyid pun kaget. Lalu Saadilah dan Yusril sepakat untuk memberitahukan hal itu kepada Soeharto yang sedang berada di kamarnya.

"Saya bilang (kepada Soeharto ada surat) dari Bang Akbar Tanjung. Pak Harto baca. Dia bilang, 'Ya sudah kalau sudah begini saya mundur saja. Besok saya mundur. Diurus berhentinya bagaimana’," kata Yusril, menirukan perkataan Soeharto.

Sehingga pada malam itu juga, Saadilah dan anak buahnya langsung merancang skenario Soeharto turun dari jabatannya. Sempat diwarnai perdebatan, mereka akhirnya memilih opsi Soeharto mengumumkan untuk berhenti dari jabatan presiden.

Opsi itu diusulkan oleh Yusril.  Ia menyarankan agar pilihan kata saat Soeharto turun dari kursi Presiden bukan 'mengundurkan diri', tetapi 'berhenti'.

Argumennya, berdasarkan UUD 1945, pernyataan pengunduran diri Presiden mensyaratkan Sidang Istimewa MPR. Sementara, sidang itu mustahil digelar lantaran Gedung DPR/MPR sedang diduduki ratusan ribu mahasiswa.

"Jadi (Sidang Istimewa MPR) tidak mungkin dilaksanakan," ujar Yusril.

Di sisi lain, kata 'berhenti' merupakan suatu pernyataan sepihak. Jika Soeharto menyatakan berhenti sebagai presiden maka Soeharto dapat berhenti sebagai presiden tanpa perlu melalui Sidang Istimewa ataupun persetujuan MPR.

“Dasar hukumnya ada pada Ketetapan MPR No. VII/MPR/1973 tahun 1973 tentang Keadaan Presiden dan/atau Wakil Presiden Berhalangan. Usul itu kemudian diakomodasi dalam teks pidato Soeharto,” kata Yusril.

Saadilah dan Yusril berhasil membuat draft pidato yang akan dibacakan Soeharto keesokan hari. Selain itu mereka juga menyiapkan mekanisme bagaimana Soeharto berhenti. Termasuk juga mekanisme pengangkatan Wakil Presiden Baharuddin Jusuf Habibie menjadi Presiden.

Saat itu sempat terjadi perdebatan soal keabsahan pengunduran diri Soeharto yang tidak dilakukan di hadapan MPR RI. Sebab pada Pasal 2 TAP MPR tersebut diketahui bahwa wakil presiden yang menggantikan disumpah di hadapan Mahkamah Agung sebelum menjabat sebagai Presiden.

Untuk itu, Yusril langsung menelepon Ketua Mahkamah Agung (MA) Sarwata bin Kertotenoyo dini hari itu. Tanpa banyak basa-basi, Yusril mengatakan Soeharto meminta seluruh jajaran pimpinan MA datang ke Istana, pada pukul 07.00 WIB. Yusril berpesan agar Sarwata membawa toga atau pakaian resmi.

"Ya kalau ini perintah Pak Harto, saya datang besok," kata Yusril, menirukan Sarwata.

Sekitar pukul 22.30 WIB, para pemimpin DPR juga mendapat telepon dari ajudan presiden Soeharto.  Disampaikan kabar bahwa mereka akan diterima Presiden di istana pada Kamis pukul 08.30 WIB, esok hari.  

Pagi hari, sekitar 05.30 WIB, Yusril menyerahkan naskah pidato ke Soeharto. Lalu, Soeharto ingin menambah sejumlah teks dalam pidato tersebut, termasuk pemohonan maaf ke rakyat Indonesia.

Yusril tiba di Istana Presiden pada pukul 06.00 WIB, Sarwata dan para pimpinan MA menyusul sejam kemudian. Saat itu, Istana sudah sibuk melakukan persiapan. Soeharto sendiri hadir didampingi putri sulungnya Mbak Tutut. Ia mengenakan safari abu-abu gelap dengan peci di kepala.

Pada pagi hari itu, Sarwata belum tahu apa yang akan terjadi. Kemudian bertanya kepada pihak Istana. Dia pun kaget begitu tahu bahwa Soeharto akan berhenti. Dia menemui Yusril. "Tadi malam kok enggak ngomong begitu? Lalu saya disini apa yang bisa saya lakukan?" kata Sarwata.

Yusril menjelaskan, pimpinan Mahkamah Agung lainnya hanya perlu menyaksikan Soeharto berpidato berhenti sebagai presiden. Setelah itu, Sarwata dan sesama pimpinan MA harus menyaksikan Habibie mengucap sumpah sebagai Presiden.

Saat itu, Sarawata mengaku dirinya belum menyiapkan referensi hukumnya. Yusril kemudian menyodorkan telepon. Di ujung sana terdengar guru hukumnya, (almarhum) Ismail Suny berbicara.  Ismail meyakinkan Sarwata bahwa tahapan yang dilaksanakan sah dan konstitusional dan memiliki dasar hukum dalam TP MPR.

'Ini kalau enggak benar, habis ini kami pimpinan Mahkamah Agung. Saya pegang kepada bapak dan Pak Ismail Suny'," kata Sarwata kepada Yusril.

Setelah itu, Sarwata dan pimpinan MA lainnya segera mengenakan toga. Sarwata, masih nampak gugup menghadapi situasi saat itu. "Pakai toganya terbalik, itu saking paniknya," kata Yusril menceritakan kondisi saat itu.

Setengah jam sebelum menyampaikan pidatonya,  Soeharto secara khusus menerima pimpinan DPR yang telah hadir di Istana Negara. Dalam pertemuan Soeharto mengatakan, “dalam rangka memenuhi saran pimpinan dan fraksi-fraksi DPR, saya akan melaksanakan Pasal 8 UUD 1945. Saudara-saudara tetap di sini saja, saya akan mengumumkan kepada masyarakat.”

Keluar dari ruangan itu, Soeharto langsung menuju  Ruang Jepara, Istana Negara untuk menyampaikan pidato terakhirnya sebagai presiden. Pidato itu disiarkan secara langsung oleh berbagai media ke seluruh negeri.

"Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945, dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998," kata Soeharto membaca teks pidato buatan Yusril.

"Maka Wakil Presiden Republik Indonesia, Professor Doktor Ir. BJ Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden mandataris MPR 1998-2003," lanjut Soeharto.

Selesai Soeharto menyatakan berhenti sebagai Presiden RI, protokol istana menyerahkan sebuah map cokelat Berlogo Burung Garuda kepada BJ Habibie.

Selanjutnya Habibie yang saat itu menjabat Wapres dan mantan Menristek itu diminta membacakan sumpah dan kewajiban sebagai Presiden Indonesia.

Soeharto menyaksikan langsung pelantikan Habibie. Semuanya berlangsung cepat dan lancar. Setelah Habibie mengucap sumpah jabatan, Soeharto menjabat tangan semua yang hadir. Termasuk menjabat tangan Habibie. Lalu Soeharto berjalan di belakang Habibie.

Usai acara itu, Soeharto sempat masuk kembali ke ruang tunggu tempat para pimpinan DPR berada, terdiri dari Harmoko, Abdul Gafur, Syarwan Hamid, Ismail Hasan Metareum, dan Fatimah Achmad.

 “Saudara-saudara, saya sudah tak jadi presiden lagi. Saya mengharap DPR ikut menjaga negara dan bangsa,”  ujar Soeharto dan menyalami Pimpinan DPR itu satu per satu.

Tanpa senyuman, Soeharto meninggalkan ruangan itu. Momen itu adalah kehadiran terakhir Soeharto di Istana Presiden yang selama 32 tahun terakhir menjadi tempatnya berkantor.

"Saya menyaksikan terakhir Pak Harto keluar dari Istana dan tidak pernah kembali lagi sampai beliau wafat," tandas Yusril. 

ARTIKEL LAINNYA