Farah.ID
Farah.ID

Antara Jalur Sutra Lama Dan Jalur Sutra Baru

OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB
  • Rabu, 10 Maret 2021, 11:49 WIB
Antara Jalur Sutra Lama Dan Jalur Sutra Baru
The New Silk Road/Net
JALUR Sutra Lama (The Old Silk Road) sebagai jalur perdagangan yang menghubungkan Timur dan Barat, dimulai dari Kota Xian di Tiongkok sampai Kota Roma di Italia dan sejumlah kota pelabuhan di kawasan Eropa bagian selatan berlangsung sekitar 2.000 tahun.

Pada saat itu sarana transportasi barang dan orang yang digunakan adalah kuda dan unta yang dikombinasi dengan kapal laut yang terbuat dari kayu dan digerakkan oleh kapal layar saat harus menyebrangi selat atau laut.

Tiongkok sebagai motor dari Jalur Sutra memasarkan berbagai komodite dengan produk unggulan berupa sutra, keramik, kertas, dan bubuk mesiu. Diikuti oleh negara-negara Asia Tengah yang dilewati dengan produk karpet, parfum, disamping belakangan mereka juga memproduksi sutra dan keramik dengan cita rasa lokal.

Tahun 2013, Presiden China XI Jinping mendeklarasikan Jalur Sutra Baru (The New Silk Road) yang diberi nama One Belt One Road (OBOR) atau Belt and Road Inisiative (BRI) atau Silk Road Evonomic Belt (SREB) di Kazakhstan.

Dipilihnya Kazakhstan tidak bisa dilepaskan dari strategisnya negara ini. Pertama, secara geografis negara ini terletak di sebelah Barat Tiongkok yang memiliki perbatasan darat secara langsung.

Kedua, negara ini merupakan negara yang paling luas di kawasan Asia Tengah dan merupakan negara terluas kesembilan di dunia yang memiliki tingkat kemajuan ekonomi dan kemakmuran tertinggi di kawasan.

Ketiga, Kazakhstan merupakan negara di kawasan Asia Tengah yang paling siap menyambut mega proyek OBOR yang ditunjukan dengan pembangunan infrastrujtur dalam negerinya sehingga terjadi konektifitas yang maksimal dengan Tiongkok.

Jika dibandingkan dengan Jalur Sutra Lama yang menghubungkan sebagaian negara-negara di Asia dan sebagian negara-negara Eropa, maka Jalur Sutra Baru akan menghubungkan sebagaian besar negara-negara di Asia, Eropa, ditambah Afrika, melibatkan 69 negara dan melewati 140 kota.

Tiga benua ini akan dihubungkan dengan jalan TOL, rel kereta, dan kapal laut modern serta jaringan data yang berbasis internet. Jalur OBOR ini terbagi menjadi sejumlah koridor; Pertama, koridor dari Beijing melewati Mongol sampai Moskwa.

Kemudian koridor Beijing melewati Kazakhstan yang terpecah, satu jalur menuju Azerbaijan kemudian terus ke arah Barat sampai ke Turki lalu melewati Istanbul memasuki wilayah Eropa Timur. Jalur lainnya melewati Iran menuju negara-negara Arab di kawasan Teluk. Sedangkan jalur berikutnya melewati Pakistan yang berujung di Pelabuhan Gwadar di Laut Arab.

Indonesia termasuk dalam jalur maritim mega proyek OBOR yang dimulai dari Pantai Timur Tiongkok, melewati Singapura, Selat Malaka, Srilangka, menuju Laut Merah, melewati Terusan Suez, sampai ke negara-negara Eropa bagian Selatan.

Secara keseluruhan mega proyek OBOR diperkirakan akan menelan biaya tidak kurang dari 8 triliun dalar AS yang diharapkan akan tuntas pada tahun 2049. Tiongkok sebagai motor akan mengalokasikan anggaran sebesar 770 miliar dolar AS. Sementara negara-negara lain yang terlibat sangat ditentukan oleh kondisi ekonomi dan geografis yang dimilikinya.

Begitu juga bagaimana kemajuannya sangat bervariasi, bahkan dalam bahasa yang ekstrim "keberhasilan" dan "kegagalannya" sangat ditentukan oleh kecermatan para pemimpinnya dalam membangun strategi jangka pendek dan jangka panjangnya dalam mengantisipasi peluang yang dibuka oleh OBOR.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

ARTIKEL LAINNYA