Koperasi Dan Kaum Milenial

Senin, 13 Juli 2020, 03:24 WIB

Ilustrasi Koperasi/Net

HARUS jujur kita akui bersama bahwa sampai usianya ke 73, Koperasi Indonesia belum mampu menjalankan peran sebagai Soko Guru Perekonomian Bangsa sesuai mandat UUD 1945.

Ironi ini disebabkan kekuatan faham ekonomi kapitalis lebih dominan sampai menguasai seluruh aspek kehidupan masyarakat, sehingga rakyat hanya dijadikan pasar untuk dieksploitasi.

Padahal bila dicermati secara akal sehat sebenarnya niatan untuk menumbuhkan perekonomian bangsa seharusnya kita kembalikan lagi kepada komponen Produk Domestik Bruto (PDB) yang 60 persen dipegang oleh andil konsumsi rumah tangga.

Berarti logikanya harus diberikan perhatian serius pada sektor riil yang bersentuhan langsung dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Lalu berikutnya sudah teramat jelas bahwa pemeran utama dari sektor riil adalah koperasi, pelaku UMKM, dan pekerja informal.

Jadi memang sangat ironis bahwa ekonomi kerakyatan yang selalu diharapkan menjadi penyelamat ekonomi dalam setiap krisis, tapi tidak pernah mendapat perhatian serius dan bahkan seringkali dinaktirikan.

Dalam era digitalisasi dan teknologi sekarang pun, koperasi diyakini sebagai badan usaha yang paling sesuai dengan generasi milenial, mengingat komposisi generasi milenial adalah sekitar 40 persen dari total penduduk Indonesia, atau berjumlah sampai 100 juta orang.

Karakter dan preferensi milenial yang senang kumpul atau guyub, lalu trend "sharing economy" yang digemari generasi milenial, serta menjunjung tinggi kesetaraan atau egaliter dianggap sangat erat dengan koperasi.

Kesesuaian koperasi sebagai badan usaha yang paling cocok dengan generasi milenial dapat terlihat dari Rapat Anggota sebagai pemegang kekuasaan tertinggi sejalan dengan karakter milenial yang senang kumpul menjadi tersalurkan secara positif.

Lalu karakter ekonomi berbagi yang tren dalam generasi milenial dapat terakomodir dengan adanya pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU). Yang terakhir generasi milenial yang sangat menjunjung tinggi kesetaraan sudah otomatis sejalan dengan jati diri koperasi yang menganut one man one vote, dan bukan one share one vote seperti pada PT.

Nah apabila kampanye ini terus menerus didengungkan. Bahkan bila ada regulasi pemerintah yang mengatur keberpihakan konkrit kepada koperasi, Indonesia akan memiliki strategi yang extraordinary guna mendorong pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi Covid-19. Ekonomi Indonesia bahkan siap rebound untuk melesat tinggi mewujudkan Visi Indonesia Maju 2030 dan Visi Indonesia Unggul 2045.

Kolaborasi yang kuat antara generasi milenial dengan pendorong pemanfaatan teknologi digital tetapi tetap berdasarkan modal sosial yang kuat berwadahkan koperasi merupakan sebuah transformasi extraordinary Ekonomi Kerakyatan 5.0.


Frans Meroga Panggabean
Penulis  adalah Praktisi Koperasi Milenial

Kolom Komentar


Video

Jokowi: Saya Tidak Tahu Sebabnya Apa, Minggu-minggu Terakhir Ini Masyarakat Khawatir Covid-19

Senin, 03 Agustus 2020
Video

FRONT PAGE | CATATAN KAMI, Dr Ahmad Yani

Jumat, 07 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Presiden-Presiden Dengan Rasa Malu & Sikap Tau Diri
Publika

Presiden-Presiden Dengan Ras..

08 Agustus 2020 19:01
Makin Ngawur Soal Gibran
Publika

Makin Ngawur Soal Gibran

08 Agustus 2020 07:19
Resesi Dihadapi Dengan Kedunguan
Publika

Resesi Dihadapi Dengan Kedun..

08 Agustus 2020 01:59
Bagaimana Individu Bersiap Hadapi Resesi
Publika

Bagaimana Individu Bersiap H..

07 Agustus 2020 20:44
HMP Versus Pengecut
Publika

HMP Versus Pengecut

07 Agustus 2020 10:03
Mereka Berteriak Dan Mempolitisasi Soal Reklamasi, Kita (Ancol) Memikirkan Kemanusiaan Di Saat Pandemik
Publika

Mereka Berteriak Dan Mempoli..

07 Agustus 2020 09:22
Krisis Akibat Covid-19 Sudah Masuk Tahap Kronis, Dan Recovery Sudah On The Track
Publika

Krisis Akibat Covid-19 Sudah..

07 Agustus 2020 08:47
Boedi Djarot Ribut Khilafah
Publika

Boedi Djarot Ribut Khilafah

06 Agustus 2020 19:41