Mengenang Muqadim Ahmad

Sabtu, 17 Agustus 2019, 21:33 WIB

Foto: Net

INI epos nun jauh di sana. Dari Cape Town, Afrika Selatan. Kisaran Mei 2018 lalu. Hari terakhir saya berada di kota itu. Selepas menetap sebulan penuh di sana.

Atas perintah sang Mursyid, Shaykh Abdalqadir as Sufi. Titahnya saya ikuti.

Sebulan penuh memahami kota itu. Tempat sang Mursyid itu berdiam diri, kini.

Cape Town dan segala keindahannya, hampir terambah semuanya. Beragam makam Wali yang terkubur di sana, hampir terziarahi semuanya. Mulai dari makam Shaykh Yusuf al Makasari, Shaykh Matebe Shah, Shaykh Abdul Aziz dan beragam ulama asal nusantara yang dikebumikan di sana.

Tapi belum sempat berangkat ke Roben Island, tempat Shaykh Motura dikebumikan.

Hari terakhir berada di sana. Tapi ini hari yang penuh berkah. Karena sejak siang, berada di kediaman Shaykh Abdalqadir as Sufi. Dallas House.

Rumah yang penuh berkah. Letaknya di kisaran Jalan Bishopcourt, Cape Town. Wilayah kulit putih, kala apartheid masih berlaku. Bak di Jakarta, ini seperti daerah Menteng-nya. Tempat orang-orang kaya berdiam diri. Dan Shaykh Abdalqadir menetap di salah satu rumah megah disitu.

Kisaran jam makan siang, beliau memang sengaja mengundang saya hadir. Kami bercengkarama bersama. Semula bertemu di ruang tetamunya yang megah.

Gambar Christopher Marlowe terpampang megah di ruangan itu. Menyapa tetamu yang datang. Sang Mursyid berbaring di sofanya. Menyapa saya dan tamu lainnya. Tak banyak yang hadir. Tamu dari luar, saya dan sidi Rashad yang asal Cape Town juga.

Perbincangan sempat berlangsung di ruangan itu. Lalu perut memang terasa keroncongan. Shaykh pun mengajak kami berpindah ke ruangan makan. Rumah itu memang megah. Ada ruang makan khusus, ruang tamu, perpustakaan pribadinya dan beberapa sudut ruangan lainnya. Sebelumnya saya hanya tahu ruangan tamu itu saja. Di ruangan makan, baru itu memasukinya kali pertama.

Selepas makan, saya kira perhelatan usai. Ternyata Shaykh Abdalqadir as Sufi mengeluarkan titah lagi.

“Mari ke cigar room,” katanya ramah.

Saya terkaget. Wah ternyata masih ada lagi acaranya. Tapi saya bahagia. Karena bisa seharian bersamanya.

Di sebelah ruang perpustakaannya, itulah cigar room tersedia. Lengkap dengan pernah perniknya. Cigar (cerutu), tampak kotak-kotak dari cerutu yang mewah. Tak ada cerutu di bawah kualitas premium.

Saya terkagum. Karena di usianya yang telah renta, kisaran 90 tahun, beliau masih gagah dengan cigar di tangannya. Itu pertanda dia tengah sehat walafiat luar biasa. Di ruangan cigar itulah perbincangan penting jamak terjadi.

Karena saya tetamu dari Indonesia, perbincangan pun banyak seputar Indonesia. Baik perihal situasi umumnya, tentang kopi luwak, sampai percakapan terkhusus ‘amirat’-nya.

Kemudian Shaykh Abdalqadir berusaha mengingat sebuah nama. Dokter Iqbal, fuqara yang juga menetap bersamanya, mencoba menyodorkan beberapa nama. Shaykh mencoba mengingat-ingat. Maklum di usianya yang renta.


“Apa Pak Adi Sasono?” kata Dokter Iqbal. Shaykh menggelengkan kepalanya. “Pak Lutfhi?” (Muhammad Luthfi, mantan Menteri Perdagangan).  Shaykh juga menggeleng. Pertanda bukan yang itu.

Mereka beberapa tokoh Indonesia yang pernah menyambangi Shaykh Abdalqadir di Cape Town juga. Lalu Shaykh Abdalqadir mencoba mengingat lagi. Dan saya pun memahami, yang coba di carinya adalah “the secret service man”.

Itulah Muqadim Ahmad Angkawijaya. Shaykh Abdalqadir mengingatnya. Ini yang teristimewa di mata Sang Mursyid itu.

Siapa sejatinya Muqadim Ahmad? Beliau telah wafat 26 Mei 2017 lalu. Tapi amal jariyya-nya tetap terkenang.

Beliau sosok yang layak berpredikat, “bak semut hitam di batu hitam,” yang memang tak kelihatan. Bekerja tanpa pamrih. Tak menunggu sanjungan sana sini. Tak berorientasi duniawi. Tak memperdulikan rintangan. Tetap berjalan walau sendirian.

Dia bekerja di lembaga intelijen negara. Khusus bagian wilayah Sumbagut. Sumatera bagian utara.

Dulunya berkuliah di ITB Bandung. Berasal dari suku Sunda Jawa. Tapi lahir di Medan dan besar di Medan. Ayahnya seorang pejabat di perkebunan PTP IX. Posisinya mentereng, ADM. Muqadim Ahmad besar di Saentis, Medan.

Kisahnya bertemu Shaykh Abdalqadir juga unik. Menarik. Bak melodrama. Tapi dibalut dengan ambisinya tentang akhirat. Bukan kepentingan dunia.

Tatkala krisis moneter 1997 lalu, Ahmad dipanggil Presiden Soeharto di Cendana, Menteng, Jakarta. Dia diminta menghadap.

Mereka berbicara berdua. Pak Harto berang tentang situasi krisis moneter yang melanda.

“Bisa kau cari apa yang menyebabkan krisis moneter ini?” Perintah sang Presiden padanya. Ahmad menjawab sigap, “Siap!”

Dia pun mulai beroperasi. Mencari jawab atas apa penyebab krismon yang membuat sengsara rakyat Indonesia. Dollar mendadak membumbung tinggi. Dari kisaran 1 Dollar Rp 2000-an, melambung menjadi Rp 15 ribuan.

Harga-harga barang mendadak naik. Ekonomi pun kolaps. Yang berujung Pak Harto lengser dari jabatannya sebagai Presiden. Setelah demonstrasi atas nama demokrasi, berhari-hari dijalankan. Dan telah memakan korban.

Ahmad Angkawijaya bergerak bekerja. Mencari jawaban seketika. Tetiba dia berada di Masjid Salman, ITB, Bandung.

Di kampus almamaternya. Dia menghadiri sebuah ceramah. Tentang alat tukar Dinar emas dan dirham perak yang merupakan Sunnah yang ditinggalkan. Dan tentang kehidupan sultaniyya, yang juga ditinggalkan kaum muslimin. Berikut juga tentang konsep fiskal state (negara fiskal) yang kini menjejak. Muqadim Ahmad terperangah.

Dia merasa mendapat jawaban atas tugas dari Presiden. Lalu dia makin menelusurinya. Mencari lebih jauh tentang apa yang diceramahkan.
Penceramah itu adalah murid-murid awal Shaykh Abdalqadir as Sufi.

Tiga orang dari ITB yang pernah menemui Shaykh Abdalqadir di Maroko.

Muqadim Ahmad pun menemui mereka. Dari situlah dia mendapat satu nama: Shaykh Abdalqadir as Sufi. Dia pun makin mencari tahu lagi. Tentang sosok alim yang berbicara apik tentang penyakit jaman. Memberi Islam sebagai jawaban dan jalan keluar.

Perburuannya pun melanjut ke sana. Dia mencari-cari tentang sosok Mursyid itu.

Hingga tibalah kisaran tahun 1998-an. Kala Shaykh Abdalqadir datang ke Malaysia. Dia mendapat gelar kehormatan dari salah satu universitas ternama di negeri jiran itu. Bagi Muqadim Ahmad, ini kesempatannya.

Untuk bisa bertemu sosok Mursyid itu. Dia pun meluncur ke Kuala Lumpur. Mencari info hotel tempat menginap sang Shaykh. Di dapatinya. Lalu dia memesan di hotel yang sama.

Tapi rupanya, info itu tak tepat. Shaykh menginap di hotel lainnya. Muqadim Ahmad telah terlanjur memesan. Dia bersama istrinya, dokter Agustin Purwanti yang terus mendukung perjuangannya.

Eh, entah mengapa, Shaykh Abdalqadir memutuskan berpindah dari hotel sebelumnya. Mendadak, malah dia memilih di hotel tempat Muqadim Ahmad menginap. Disitulah jadinya mereka bisa bertemu.

Muqadim Ahmad melihat Shaykh berjalan di lobby hotel itu. Dia lantas mendatanginya. Tanpa basa basi, dia menyapanya ramah. Lalu membungkuk berusaha mencium kaki sang Shaykh itu. Pertanda memohon restu.

Shaykh Abdalqadir menyambutnya. Dia juga ikut membungkuk. Mereka berdua seperti saling membungkuk. Rahasia ini terungkap di akhir kisah. Mengapa keduanya bersikap begitu. Pertemuan itu dikisahkan istrinya, dokter Agustin, suatu ketika.

Ahmad memperkenalkan diri. Shaykh menyambutnya sumringah. Dia menyebutnya sebagai “Manusia dari Pulau.” Maksudnya Ahmad yang dari Pulau Bintan.

Muqadim Ahmad tak sempat melaporkan hasil temuannya kepada Presiden Soeharto. Karena terburu berlangsung huru hara. Dan Presiden itu pun telah lengser keprabon. Tapi jawaban yang didapatnya, membuat tak berhenti berjuang. Menegakkan keadilan. Walau dia seorang “the secret service man.”

Jadinya Muqadim Ahmad berada dalam pusaran Shaykh Abdalqadir as Sufi. Berkali-kali Mursyid itu memintanya agar khusus datang ke Cape Town. Menghampirinya. Tapi karena beragam kesibukannya, Ahmad belum kesampaian menuju sana. Hingga suatu ketika, Shaykh memerintahkan seorang fuqara, Salih Brandt, untuk menemuinya di Singapura.

Menyampaikan pesan khusus dari Sang Mursyid. Muqadim Ahmad telah berada di dalam ruang tunggu airport. Tapi dia tetap bisa keluar menemui fuqara utusan Shaykh Abdalqadir itu. “Saya tak menyangka masih bisa keluar, padahal prosedurnya tak bisa,” ceritanya.

Hingga kisaran 2010 dia berhasil ke Cape Town. Menghadiri moussem Shaykh Abdalqadir. Dia hadir bersama beberapa fuqara dari Indonesia juga. Di sanalah dia disambut hangat.

Shaykh Abdalqadir memintanya datang ke kediamannya. Seorang diri dari Indonesia. Ini pertanda memang beliau memiliki “sesuatu” di mata Mursyid itu. Tapi untungnya, muqadim Ahmad tak “dipentalkan.” Karena memang belakangan berhembus isu, sesiapa yang “dekat” dengan Shaykh Abdalqadir as Sufi, pasti terpental.

Untunglah, muqadim Ahmad tak mengalami hal itu. Dia tak mengalami dicemburui, didengki, karena memang dia tak pernah mencemburu. Apalagi mendengki pada yang lainnya. Sosoknya memang bak semut hitam di atas batu hitam. Tak kelihatan.

Dari sanalah dia dijamu khusus oleh sang Mursyid. Diajak makan siang bersama. Dan Shaykh memberinya kitab “The Book of Safar” dan “The Book of Hubb”, karya sang Mursyid itu. Dari situlah Shaykh mengenalnya sebagai “the secret service man.”

Dan selepas itu memang Muqadim Ahmad terus bergerak. Berada pada dua sisi. Bekerja pada institusinya, dan bekerja pada Allah Subhanahuwataala.

Orang-orang banyak didatanginya. Dan jamak orang serasa nyaman berada di dekatnya. Beliau yang memperkenalkan Sultan Huzrin Hood kepada para fuqara Shaykh Abdalqadir. Kala itu Sultan Huzrin masih menjabat Bupati Kepulauan Riau. Masa itu pula seminar tentang Dinar Dirham telah dilakoni di Bintan.

“Di sini telah siap semuanya,” ujar muqadim Ahmad. Yang dia maksud adalah Pulau Bintan. Karena di sana ada seorang Sultan, yang mampu mengayomi umat dan menegakkan syariat. Itulah sosok Sultan Huzrin Hood.

Dan selama hidupnya, muqadim Ahmad sangat berdekatan dengannya. Dan beliau menapakkan jejak kembalinya sultaniyya di nusantara ini. Tentu dengan cara kerjanya bak semut hitam di atas batu hitam.

Lalu, kisaran tahun 2017 Januari awal. Shaykh Abdalqadir selepas menerbitkan kitab terakhirnya, “The Entire City”.

Ini sebagai masterpiece dari ajarannya. Beliau berpesan agar kitab ini diajarkan di Indonesia. Beliau mengutus sidi Zulfiquar Awan, dosen di Dallas College kala itu, ke Indonesia dan Malaysia. Mengajarkan kitab itu. Sembari ke Indonesia, Shaykh juga berpesan agar Zulfiquar menemui beberapa orang khusus. Salah satunya adalah menemui Muqadim Ahmad.

Memang, beberapa tahun belakangan, beliau telah terbaring sakit. Stroke yang melandanya, menghentikan pergerakannya. Dia berbaring di rumahnya di Bintan. Tak lagi bisa berdiri, apalagi berjalan. Muqadim Ahmad hanya menikmati sisa akhirnya diperbaringan.

Tetiba dia mendengar kabar datangnya Sidi Zulfiquar. Dia bersemangat seketika. Karena Sidi Zulfiquar diutus langsung oleh Shaykh Abdalqadir untuk menemuinya. Kami pun menemani Sidi Zulfiquar menemui Muqadim Ahmad. Bersama Sultan Huzrin juga. Tetiba, sang Muqadim hadir dengan kursi roda.

Zulfiquar menyampaikan salam dari Shaykh Abdalqadir. Zulfiquar sebelumnya tak mengenal Muqadim Ahmad. Tak paham mengapa Shaykh Abdalqadir memintanya khusus menemui beliau.

Percakapan mereka pun berlangsung. Muqadim Ahmad yang terduduk di kursi roda, mendadak meminta berdiri. Ini tak pernah dilakoninya selama berbaring sakit. Saya memeganginya di kanan. Muqadim itu tegak berdiri. Zulfiquar di sebelah kirinya.

Energinya tampak bertambah seketika. Ini sesuatu yang tak bisa dijelaskan rasio belaka. Tapi tentang energi yang datang entah dari mana.

Dan Shaykh Abdalqadir memesankan tentang ‘The Entire City’ agar turut disampaikan padanya. Muqadim Ahmad begitu sumringah. Karena pengajaran akhir dari sang Mursyid itu tersampaikan padanya.

Selepas pertemuan, Zulfiquar bertanya, “Apakah ini orang yang kuat selama dia sehat dulu?” tanyanya.

Kami menjawabnya, tentu saja iya. Dia bergerak di bawah meja, bak semut hitam yang berada di atas batu hitam. Beliau sosok di balik layar kembalinya Kesultanan Bintan. Sultaniyya.

“Saya pikir dia itu adalah seorang Aulia (Wali),” kata Zulfiquar. Dia mahfum mengapa Shaykh Abdalqadir as Sufi mentitahkan diirinya untuk menemui Muqadim Ahmad itu.

Tentang itu, memang terasa demikian adanya. Saya mengenalnya tak banyak. Berjumpa tak sering. Dari sisi kuantitasnya.

Tapi suatu ketika, kala kami bertemu di Medan, disitulah kami bak kawan lama saling berjumpa. Saya seharian berjalan dengannya. Selepas saya kembali dari Moussem tahun 2014 lalu di Cape Town. Kami berjalan seharian bersama. Bercengkarama bak kawan sejawat yang lama tak jumpa. Entah mengapa bisa akrab sekali.

Padahal usia kami bertaut jauh. Saya kisaran 36-an kala itu. Dan beliau sudah 50-an. Tapi kami berbincang, tentang Dinul Islam, tentang sultaniyya, tentang Shaykh Abdalqadir, tentang perempuan, sampai tertawa-tawa.

Seolah tak ada rahasia diantara kami, walau jarang berjumpa. Nyaman sekali berada bersamanya. Sosoknya merindukan, walau kini beliau telah tiada.

Teringat kala kami bertemu di Bintan awal dulu. Beliau berjalan mendekati saya, tanpa berbicara. Dielus-elusnya punggung saya. Pertanda kasih sayang, walau bukan sanak saudara sedarah. Tapi seolah kedekatan hati tiada tara. Disitu saya merasa, inilah memang sosok ‘muqadim’ yang bukan biasa-biasa. Dan Zulfiquar berkata, “Beliau adalah Aulia (Wali Allah).”

Muqadim Ahmad mengajarkan tentang makna menjadi seorang pejalan. Tak perlu jumawa, apalagi saling berlomba. Beliau tak pernah berkata, yang membuat hati orang terluka. Beruntung bisa mengenalnya, berdekatan padanya. Dan ikut dalam penguburannya kala dia meninggal dunia.

Di ruang cerutu Dallas House, Cape Town itu, disitulah jawaban tersingkap. Mengapa kala bertemu, antara keduanya saling membungkuk. Karena yang diingat Shaykh Abdalqadir as Sufi, adalah sosoknya, “The secret service man.”

Beliau bukan sekedar “the secret service.” Tapi bekerja dan beramal bak semut hitam  di atas batu hitam. Tak mau kelihatan orang-orang. Sebuah pengajaran dari Muqadim Ahmad Angkawijaya.

Semoga Allah Subhanahuwataala melapangkan kuburnya. Semoga Allah Subhanahuwataala mengampuni dosa-dosanya. Semoga mendapatkan Jannah-Nya dan dipertemukan kembali dalam Jannah-Nya. Amin Ya Rabbal Alamin.

Adipati Karnawijaya

Penulis diplomat Indonesia di Vietnam

Kolom Komentar


Video

NOORCA M. MASSARDI: Ketika Karya | Puisi Hari Ini

Rabu, 15 Januari 2020
Video

Awal Tahun, Tiga Pengedar Narkoba Berhasil Dibekuk

Rabu, 15 Januari 2020
Video

NOORCA M. MASSARDI: Ketika Budaya | Puisi Hari Ini

Kamis, 16 Januari 2020