Dimensy.id Mobile
Dimensy.id
Apollo Solar Panel

Mungkinkah Israel Kembali Menginvasi Lebanon?

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/dr-muhammad-najib-5'>DR. MUHAMMAD NAJIB</a>
OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB
  • Rabu, 24 April 2019, 17:39 WIB
Mungkinkah Israel Kembali Menginvasi Lebanon?
Foto:Net
LEBANON merupakan negara Arab yang berada di Utara Israel. Walaupun sikap politiknya terhadap Israel selalu mengikuti mayoritas negara-negara Arab yang tidak bersahabat dengan negara Zionis yang menjadi tatangganya itu, akan tetapi Lebanon tidak ditempatkan sebagai musuh berbahaya oleh Israel.

Sikap lunak Israel disebabkan oleh karena Lebanon bukanlah ancaman bagi negara Zionis ini. Selama beberapa kali terjadi perang Arab-Israel, Lebanon tidak banyak berperan. Hal ini disebabkan karena negara yang pernah dijajah Perancis ini memang sangat lemah secara militer, wilayahnya tidak luas, penduduknya sedikit, dan masyarakatnya sangat beragam baik dari etnis, suku, maupun agama.

Israel mulai merasakan munculnya ancaman dari tetangganya di Utara ini, setelah PLO yang dipimpin oleh Yasser Arafat saat itu, terusir dari Jordan, kemudian memindahkan basisnya ke Lebanon. Kehadiran PLO dan orang-orang Palestina kemudian mengubah demografi penduduknya yang berimplikasi pada perubahan keseimbangan politik dan militernya, akibat besarnya kekuatan militer PLO yang dilengkapi dengan berbagai senjata berat maupun ringan.

Pada tahun 1978 untuk pertama kalinya Israel menyerbu Lebanon, dengan tujuan mengusir PLO. Tentara Israel meskipun mendapat perlawanan sengit dari PLO dan sekutu-sekutu Lebanonnya, akan tetapi pasukan PLO berhasil didesak sehingga harus mundur sampai ke Utara sungai Litani.

Ternyata PLO masih tetap melakukan manuver politik maupun militer yang mengancam Israel. Pada tahun 1982, Israel kembali menyerbu Lebanon. Kali ini negara Zionis ini berhasil mengusir PLO, yang kemudian memaksa seluruh pasukan tempurnya meninggalkan Lebanon, dan memindahkan basis politiknya ke Tunisia.

Tahun 1985 setelah memastikan situasi terkendali, Israel menarik pasukannya dari Lebanon melalui kesepakatan damai dengan negara-negara Arab, kemudian menyisakan lembah subur Sheeba yang berada di perbatasan kedua negara, sebagai wilayah penyangga. Untuk mengamankan wilayah ini Israel bekerjasama dengan South Lebanon Army (SLA) yang merupakan transformation dari tentara Kristen Palangis.

Suriah yang mendapatkan mandat dari Liga Arab setelah tentara Israel ditarik, sebagai bagian dari kesepakatan damai, dengan maksud untuk menjaga ketertiban, disebabkan persaingan antar kelompok politik dan faksi-faksi militernya yang kerap bentrok.

Suriah memberikan jalan kepada Iran untuk mengkonsolidasi masyarakat Syi'ah yang tinggal di wilayah Sheeba khususnya dan Lebanon Selatan pada umumnya, untuk mengimbangi peran SLA dan Israel di wilayah ini.

Disamping mengirimkan sejumlah intruktur militer, Iran juga secara reguler memberikan dana. Inilah cerita awal lahirnya milisia Hizbullah pimpinan Hassan Nasrallah. Sejak saat itu terjadilah proxcy war antara Israel melawan Suriah dan Iran di wilayah Lebanon Selatan. Bentrokkan sporadis sering terjadi, akan tetapi selalu bisa diredam.

Pada 2006, Israel melihat kekuatan Hizbullah, baik dari jumlah personil maupun perlengkapan militernya sudah tidak lagi bisa diimbangi oleh SLA yang menjadi sekutunya. Israel kemudian menyiapkan rencana untuk menggempurnya,  sebagaimana ia pernah melakukannya terhadap PLO.

Ternyata Israel under estimate, ia tidak menyadari bahwa Hizbullah memiliki intelijen yang ditugasi untuk memata-matai pergerakan pasukan Israel dan berbagai rencana militer yang akan dilakukannya terhadap Hizbullah.

Para ahli IT Hizbullah berhasil menyadap laporan intelijen yang dibuat Mossad yang beroperasi di Lebanon. Bahkan pembicaraan antar komandan lapangannya di Israel Utara dengan sejumlah jendralnya juga ikut disadap. Dari sinilah Hizbullah mengetahui semua detail rencana Israel.

Dengan bocornya rencana ini, sebelum pasukkan Israel siap menyerbu, Hizbullah mengambil inisiatif menyerang lebih dahulu, dengan cara memanfaatkan terowongan bawah tanah yang digalinya untuk  menyergap pasukkan Israel yang berpatroli di seberang perbatasan. Serangan dadakan yang tidak pernah diduga ini berhasil membunuh sejumlah tentara Israel dan menyandera dua personil bernama Regev dan Goldwasser yang kemudian dibawa ke wilayah yang dikuasainya lewat terowongan sebagai sandera.

Dengan terburu-buru Israel memerintahkan pasukannya untuk membalas, sehingga berkobarlah perang besar selama 33 hari yang menimbulkan korban besar di kedua belah pihak. Korban di pihak Israel setidaknya 121 tentara tewas dengan ribuan 1.244 terluka, ditambah korban meninggal dan luka-luka penduduk sipil. dengan 44 penduduk sipil Sementara di pihak Hizbullah 250 tentaranya tewas dan ribuan luka-luka, ditambah penduduk sipil yang tewas dan luka-luka.

Israel mengkombinasikan serangan udaranya dengan pasukannya di darat yang dilengkapi dengan tank Merkava yang sangat dibanggakan nya. Sementara pasukkan Hizbullah menggunakan taktik perang gerilya, dengan mengandalkan terowongan-terowongan bawah tanah, kemudian dilengkapi dengan peluncur Katyusha buatan Rusia dan Iran.

Ribuan Katyusha menghujani tentara Israel yang bergerak di darat. Sementara pasukkan khususnya yang bergerak lewat lorong-larang bawah tanah dengan peluncur yang dijinjing mengintai dan menembak dari jarak dekat sisi lemah tank-tank Merkava, mengakibatkan tentara Israel tertahan dan kesulitan bergerak maju. Israel kemudian memutuskan melakukan gencatan senjata yang diikuti dengan perundingan.

Yang menarik untuk dicermati adalah tukar-menukar sandra setelah perundingan pasca gencatan senjata yang berlangsung alot. Negosiasi berlangsung sampai sekitar 10 bulan, dan akhirnya disepakati dua mayat tentara Israel Regev dan Goldwasser ditukar dengan 40 jenazah pasukkan Hizbullah. Selain itu, Hizbullah mendapatkan tambahan kompensasi berupa pembebasan seorang tahanan Palestina yang dijatuhi hukuman sumur hidup sejak 1980  bernama Shamir Kantar, bersama sejumlah tahanan Palestina lain dari penjara Israel, ditambah kembalinya sejumlah tawanan Hizbullah. Besarnya imbalan yang diterima Hizbullah, disebabkan oleh karena Israel mengira dua tentaranya yang disandra masih hidup.

Mengomentari jalannya perang dan hasil perundingan, Perdana Mentri Israel saat itu Shimon Perez mengatakan bahwa seandainya saat itu otoritas ada dalam genggamannya, maka Israel tidak akan terjebak pada perang dengan Hizbullah, karena ia menilai kesiapan pihak lawan terus berkembang, sementara pasukkan Israel saat itu dalam keadaan belum siap.

Sementara Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel saat itu Dan Halutz menyebut salah satu faktor kekalahan Israel diakibatkan oleh ketidak berdayaan Israel menghentikan hujan rudal Katyusha yang menggempur kawasan Utara Israel, khususnya di daerah pemukiman al Jalil (Galilee).

Setelah kemenangannya di medan perang, Hizbullah mengembangkan dirinya menjadi organisasi sosial, dengan memberikan bantuan kepada warga Lebanon yang menjadi korban  perang baik yang meninggal dunia, luka-luka, maupun kehilangan tempat tinggal, semua mendapatkan santunan. Hizbullah juga mendirikan stasiun TV bernama Al Manar sebagai alat ropaganda. Sejak beberapa tahun terakhir, Hizbullah juga mendirikan partai politik dan ikut dalam pemilu. Sejumlah kadernya kini duduk di Parlemen dan Hizbullah juga ikut dalam koalisi yang memerintah.

Meningkatnya spikulasi akan terjadinya serangan baru Israel akhir-akhir ini dimulai sejak akhir tahun lalu, saat tentara Israel di perbatasan mengumkan ditemukannya empat terowongan baru yang diduga digali oleh Hizbullah dengan tujuan menyerang Israel. Militer Israel kemudian menghancurkan terowongan-terowongan tersebut, sembari meminta pasukan perdamaian PBB yang bertugas di Lebanon untuk menghancurkannya dari seberang, dengan alasan bahwa hal itu merupakan bagian dari perjanjian damai antara Israel dan Hizbullah yang mengakhiri perang antara keduanya tahun 2006.

Diikuti oleh ungkapan Presiden Israel Reuven Rivlin yang mengatakan kepada mitranya Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Elysee Paris, saat melakukan kunjungan resminya, bahwa Israel dapat menyerang jantung ibukota Bairut, dengan alasan ibukota Lebanon ini telah dijadikan pusat produksi roket-roket yang bisa digunakan untuk menyerang Israel.

Sebelumnya militer Israel  menyatakan bahwa agen Hizbullah bernama Ali Musa Dagdug dengan dukungan Iran mengkoordinasikan pasukan Hizbullah yang bertempur melawan tentara Israel di wilayah Suriah, khususnya yang ditempatkan sepanjang perbatasan Suriah-Israel.

Bersamaan dengan itu tekanan Amerika terhadap Iran baik secara ekonomi, politik, maupun militer meningkat drastis. Amerika dan Israel memandang Iran sebagai tulang-punggung kekuatan Hizbullah dan ancaman langsung negara Zionis itu. Sementara kampanye anti Iran yang dimotori Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab didukung Amerika dan Israel terus dikobarkan.

Melihat fakta-fakta di atas, maka dapat diprediksi bahwa jika Israel betul-betul merealisasikan ancamannya untuk menyerang Hizbullah di Lebanon, maka dapat dipastikan Amerika memberikan dukungan penuh, disamping Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab berada di belakangnya. Karena mustahil Israel berani melakukannya sendiri. rmol news logo article

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA