WAWANCARA

Bendera Partai Bulan Bintang Tak Jadi Bersanding Dengan Bendera Padi

Rabu, 10 April 2019, 09:33 WIB

Prabowo Subianto-Sandiaga Uno/Net

Bendera partai koalisi Adil Makmur berkibar di Kampanye Akbar pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Padi) di Gelora Bung Karno (GBK).

Selain bendera partai koalisi, ada juga sejumlah orang yang membawa bendera berlambang Partai Bulan Bintang (PBB). Massa yang membawa bendera PBB masuk ke sta­dion sambil berteriak nama Prabowo. Mereka juga terlihat memakai atribut Prabowo-Sandiaga seperti kaos.

Namun tak berapa lama, bendera tersebut dikabarkan disita sejumlah pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Lalu diserahkan kepada pihak panitia oleh kader PKS, dan Front Pembela Islam (FPI).

Penyitaan bendera ini pun menimbulkan tanda tanya. Pasalnya, sudah jelas pihak yang mengusung bendera tersebut, juga merupakan pendukung Prabowo Subianto- Sandiaga Uno.

Penyitaan ini pun menuai protes dari kubu PBB pendu­kung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Sebab, pengibaran bendera tersebut dilakukan atas seizin pihak panitia.

Lantas bagaimana penjelasan panitia atas kejadian terse­but? Kenapa bisa disita, padahal sama-sama pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno? Bagaimana pula respon kubu PBB pendukung Prabowo Subianto-Sandi Uno atas peristiwa tersebut? Berikut penuturan lengkapnya.

Ahmad Yani: Apa Kami Tak Boleh Lagi Beri Dukungan

Iya, PBB Poros Mekkah. Jadi, kami sangat kecewa. Sebagaimana informasi yang kami dapat, yang menyita itu kawan-kawan PKS dan FPI.

Tanggapan Anda mengenai ben­dera PBB yang disita dalam kam­panye akbar Prabowo-Sandi?
Iya, saya dapat informasi itu dari kawan-kawan juga. Padahal, jauh hari sebelumnya, saya sudah komunikasi dengan Ketua Panitia Acara, Pak Muhammad Taufik.

Apa yang Anda sampaikan?
Saya katakan ke Pak Taufik, kami dari PBB Poros Mekkah yang sudah resmi mendukung Prabowo-Sandi akan hadir dan membawa panji-panji bendera partai kami. Pak Taufik pun mempersilakan hal itu. Maka, kami melebur dalam jutaan ummat untuk kampanye PADI di GBK. Bahkan, Pak MS Kaban sebagai lokomotif Poros Mekkah, hadir di panggung acara. Saya pun hadir, meskipun hanya berbaur dengan jutaan masyarakat.

Apa reaksi Anda atas penyitaan bendera ini?
Tentu kami sangat kecewa dengan kejadian ini. Apakah kami ini tidak boleh lagi memberikan dukungan ke PADI. Padahal, sistem pemilu seka­rang ini berhadap-hadapan, maka satu suara sangat berarti.

Anda tahu apa respon Prabowo?
Kami merasa yakin betul, Pak Prabowo tidak menghendaki itu. Terutama respon Pak Prabowo kepada kami baik, dan ka­mi terus memperjuangan PADI. Bahkan, tidak lagi mengkampanyekan diri kami masing-masing. Setiap kami kampanye, selalu berseru ini caleg-caleg PBB Poros Mekkah yang mendukung PADI.

Jadi, yang kemarin datang itu PBB Poros Mekkah, bukan oknum?
Iya, PBB Poros Mekkah. Jadi, kami sangat kecewa. Sebagaimana infor­masi yang kami dapat, yang menyita itu kawan-kawan PKS dan FPI. Saya menyesal, kenapa kami tidak boleh duduk bersama-sama.

Anda sudah izin ke Taufik, bahwa bendera PBB akan dikibarkan?
Kami sudah izin. Kok, bendera PPP boleh tampil, sedangkan kami tidak. Saya yang meminta kawan-kawan PBB Poros Mekkah datang. Saya yang minta izin ke Taufik, PBB Poros Mekkah akan datang. Sebagian, saya juga yang menyuruh mengibarkan bendera PBB. Kami ingin mengatakan, tidak benar bahwa PBB itu hanya mendukung Pak Jokowi. Padahal, bukti mayoritas kader PBB adalah pendukung PADI.

Dukungan legal PBB ke Jokowi, sehingga terjadi penyitaan bendera PBB?
Iya, itu tidak apa-apa. Apa kami butuh statemen legal gitu. Bagaimana kalau saya balik, Demokrat itu legalnya ke PADI, tapi ada juga yang mendukung Pak Jokowi. Bagaimana itu. PANjuga seperti itu. Nah, bagaimana dengan ha­sil survei yang dilakukan CSIS. CSIS mengatakan, mayoritas konstituen PBB mendukung PADI. Pertanyaan kami gini, lho, apa karena Pak Yusril Ihza Mahendra mendukung Pak Jokowi, sehingga kami tidak boleh mendukung PADI. Apa kami tidak boleh juga memenangkan PADI karena Pak Yusril itu. Saya kira PADI akan merangkul semuanya.

PBB Poros Mekkah menyesalkan kejadian itu?

Iya, menyesalkan. Seharusnya, sesama relawan dan sesama yang memberikan dukungan kepada PADI, tidak harus terjadi penyitaan bendera. Karena, PBB Poros Mekkah itu sudah jelas, terang benderang memberikan dukungan kepada PADI.

Apakah mengganggu kesolidan PBB Poros Mekkah mendukung PADI?

Oh tidak. Kami tetap, apapun kejadiannya, kami mendukung PADI. Tidak akan berkurang sedikit pun dukungan kami. Kami hanya menyesalkan saja. Padahal, loyalitas dan solidi­tas di PBB Poros Mekkah tidak usah diragukan lagi. Itu pun sudah berdasar­kan hasil survei, dibandingkan partai-partai yang secara jelas mendukung PADI, ada yang membelot juga.

Apakah Anda merasakan pemi­lih PADI belum sepenuhnya men­erima PBB, meskipun ada PBB Poros Mekkah?
Nah, yang seperti inilah yang perlu saya jelaskan. Pak Prabowo itu tidak masalah dan tidak mempersolkan ka­mi. Sebab, PADI itu sifatnya merangkul. Pak Prabowo dan Pak Sandi menerima kami. Apalagi sebelum kejadian itu, kami sudah melaporkan ke Pak Taufik dan tidak ada masalah. Sebab panitianya kan Pak Taufik. Dia tidak mempersalahkan kami.

Nyatanya, ada yang keberatan...
Kalau ada pihak-pihak yang mem­persoalkan kami, itu menurut saya tidak pas. Atau, mereka mengang­gap tidak perlu dukungan yang lain lagi. Kejadian ini bisa menggerus suara PADI. Kebetulan saja pemilih PADi di PBB Poros Mekkah ini tidak berkurang. Bahkan saya tegaskan lagi, kami itu tidak mengkampanyekan diri sendiri, melainkan selalu menyebut-nyebut nama PADI.

Mohamad Taufik: Kami Cuma Khawatir Terjadi Apa-apa

Secara institusi, PBB itu dukungnya paslon 01. Pak Kaban sendiri memang sudah gabung ke kami, tapi secara institusi, PBB itu dukungnya paslon 01.

Kenapa bendera PBB sampai disita panitia kampanye?
Saya memang dapat berita, dan itu bukan disita, hanya diambil sementara. Sama teman-teman di sana, bendera itu kan dianggap dari partai pengusung paslon (pasangan calon) nomor urut 01. Di sana itu kan untuk para pengusung paslon nomor urut 02 ya. Nah, PBB ini kan secara institusi dianggap sebagai pengusung 01.

Tapi, ada juga anggota PBB yang menjadi pengusung paslon nomor urut 02...
Iya, cuma kawan-kawan itu tahu­nya institusinya. Secara institusi, PBB itu dukungnya paslon 01. Pak Kaban sendiri memang sudah gabung ke kami, tapi secara institusi, PBB itu dukungnya paslon 01.

Berarti itu karena salah paham saja?

Iya, karena Pak Kaban kan hadir di acara kemarin. Saya kira itu di­lakukan hanya untuk disiplin saja. Supaya acaranya kondusif, makanya terjadi seperti itu. Kan memang harus disiplin, karena khawatir nanti ada apa-apa kan.

Maksudnya?
Khawatir kalau nanti dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab. Nanti dimanfaatkan buat mempro­vokasi atau apa, kan bahaya. Kami maunya acara itu tertib, damai, makanya harus diterapkan langkah pengamanan tertentu. Massa yang hadir itu kan banyak. Kami tidak mau sampai terjadi sesuatu.

Bukankah rencana pengibaran bendera itu sudah diberitahukan kepada pihak panitia?
Belum, dan kami dari panitia tidak berfikir ke sana. Kalau ada informasinya dari awal, mungkin akan kami sampaikan kepada kawan-kawan.

Kesalahpahaman ini, sudah dijelaskan kepada anggota PBB pendukung paslon 02?
Sudah, dan tidak ada masalah. Pak Kaban tidak ada masalah dengan keja­dian itu. Beliau kan hadir di sana.

Berarti sudah clear dan bender­anya sudah dikembalikan?

Kalau pas acara, kayaknya ditaruh dulu sama panitia. Tapi, setelah itu sudah dikembalikan sepertinya.

Buat apa ditahan lama-lama. Kalau soal lainnya, sudah tak ada masalah, karena sudah dijelaskan. Panitia melakukan itu karena melihat insti­tusinya, bukan perorangan.

Banyak yang mempertanyakan klaim BPN, bahwa ada 1 juta orang hadir dalam kampanye itu. Bagaimana penjelasan Anda?

Kenapa tidak percaya. Menurut saya, baru pertama kali, kampanye dimulai pagi sekali. Dari pukul 00.00 WIB itu, orang sudah hadir. Kemudian, diawali shalat tahajud dan subuh berjamaah, yang dihadiri lebih dari sejuta orang.

Penilaian Anda terhadap massa yang hadir?
Menurut saya, pertama, yang hadir itu dengan kerelaan. Kami menye­diakan tenda untuk sumbangan kon­sumsi saja kurang. Kami tadinya bikin tenda itu hanya 200, ternyata kurang. Akhirnya kami tambah lagi, yang di luar itu kami kasih tenda juga.

Tapi memang jumlahnya segitu ya?

Saya kira bisa kita lihat sendiri. Jangan lihat yang di dalam stadion saja, yang di luar banyak sekali. Parkir bus itu sampai pejompongan lho. Makanya, waktu pulang sempat ada yang bertanya ke saya, pak arah Pejompongan kemana. Saya kaget dong, buat apa, kok nanya Pejompongan. Ternyata, busnya parkir di sana.

Kapasitas stadion memang tak sampai segitu ya...?
Iya. Orang itu mempersoalkan karena itu banyak. Coba kalau sedikit, mereka tak akan mempersoalkan. Berarti, ada pengakuan kebesaran. Kenapa orang berdebat dan memper­soalkan soal jumlah, karena banyak dan membuat mereka terkejut.

Belum pernah ada kan kampanye dari pagi buta sepanjang sejarah. Mereka dari jam 12 malam sudah datang, dan menginap di sana. Lalu, ada efek ekonominya. Misalnya, se­mua hotel di sekitar area kampanye itu penuh.

Kenapa yang hadir bisa seban­yak itu?
Itu adalah pertanda, banyak yang ingin mengukir sejarah mengganti kepemimpinan. Mereka sampai rela datang dari subuh, makan sampai tidak terakomodir. Jadi, mereka sedia­kan lewat kelompok sendiri.

Kolom Komentar


loading