Capres Joko Widodo Marah

Minggu, 24 Maret 2019, 21:52 WIB | Oleh: Zeng Wei Jian

Joko Widodo di Yogyakarta/Net

DI Stadion Kridosono Yogyakarta, Capres 01 Joko Widodo berpidato. "Saya akan lawan...!!" katanya dengan nada keras.

Analis Sosial Universitas Bung Karno (UBK), Muda Saleh menilai "Jokowi memperlihatkan mental dirinya sudah jatuh".

Romy, Setya Novanto, Idrus Marham ditangkap KPK. Menpora Imam Nahrawi dibidik. Cak Imin dan "Kardus Durian”-nya naik lagi. Mobile 8. Apel Kebangsaan Rp 18 Miliar Ganjar Pranowo pun dipermasalahkan netizen.

Muda Saleh menyatakan Jokowi belum pantas memimpin Indonesia.

Pidato Capres Joko Widodo kali ini memang beda. Sebelumnya dia nyindir "organisasi-organisasi yang itu".

Volcanic speech Joko Widodo merepresentasikan sikap tempramental, ”over the top,” “out of control” dan “off the rails.”

Essayist Romawi dan stoic Lucius Annaeus Seneca mengatakan ”Anger is counterproductive", "he who gets angry is overthrown”, dan “anger comes, not from affection, but from weakness.”

Sekalipun Capres Joko Widodo tidak pernah mengenal karya Seneca, tapi jelas dia ngga belajar mempraktikan nasihat baik Seneca.

George Washington, Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, FDR, Dwight Eisenhower dan bahkan the sunny Ronald Reagan kadang emosional.

Misalnya saat Revolusi Amerika, di Pertempuran Monmouth, Washington mendamprat anak buah. Saking kerasnya omelan itu, seorang saksi yang melihat kejadian itu berkata, “til the leaves shook on the trees.”

Tapi mereka berusaha meredam dan mengendalikan tendensi temperamental itu.

Capres Joko Widodo sebaliknya. Dahulu di depan netizen dia pernah berkata mau ngomong sekasar apa pun dia ngga akan marah.

Presiden Abraham Lincoln bukan tipe pemarah. Masalah psikologisnya “melancholia.” Di tahun 1850an, Old Abe mengkonsumsi obat “Blue Mass” yang mengandung 120 kali mercury dari dosis yang dianjurkan. Dia jadi sering marah.

Dalam pidato volcanic-nya, Capres Joko Widodo mengatakan selama 4,5 tahun dia dihina, direndah-rendahkan, difitnah dan dihujat. Bahasa tubuh, mimik muka, intonasinya mengatakan dia sudah tidak tahan. Geram. Greget. Marah.

Ratu Elizabeth II yang berkuasa di atas seperempat bumi nggak bebas dari kecaman, dilecehkan dan bully. Dia dikatakan sebagai kanibal pemakan bayi, hybrid alien reptilian haus darah, feodal, dan sebagainya. Tapi The Queen nyantai saja. Nggak kampungan. Apalagi menyerang balik dengan persekusi.

Capres Prabowo Subianto menyatakan dia dihina, dihianati, dicaci-maki dan dihujat selama 40 tahun. Tapi dia tetap sabar karena mengikuti teladan Nabi Muhammad.

Semua orang di bumi meyakini amarah (rage) is often a sign of incompetence. Sekali pun Washington, Lincoln dan FDR pernah marah selama memimpin, namun mereka tetap dinilai sebagai presiden yang baik. Mereka mempraktikan apa yang disebut ”anger’s inverse rule”: The tougher things got, the calmer they became.

Alih-alih "saya akan lawan", sebaiknya Capres Joko Widodo mengevalusi diri. Setiap kritik pedas pasti ada sebabnya.

Rasanya publik tidak mungkin mengecam seorang presiden yang mampu mengenjot pertumbuhan ekonomi 12 persen. Sayangnya, selama Joko Widodo berkuasa, Indonesia's economic growth hanya mentok di angka 5 persen. Sedangkan janjinya 7 persen.

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak)

Kolom Komentar


loading