Haji Imigrasi

Jumat, 22 Februari 2019, 06:24 WIB | Oleh: Dahlan Iskan

Dahlan Iskan/Net

BETAPA senangnya orang negeri ini: Pakistan. Terutama jemaah hajinya.

Pemimpin baru negara mereka berhasil menyederhanakan imigrasi. Paspor jemaah haji diproses di Pakistan sendiri. Sebelum mereka berangkat ke Mekkah.

Begitu mendarat di Jeddah mereka bisa langsung keluar bandara. Tidak perlu lagi “terlantar” begitu lama: menunggu paspor distempel. Yang hanya membuat jemaah bertambah lelah. Setelah penat di penerbangan panjang.

Imran Khan, perdana menteri baru itu, begitu lincah di diplomasi. Ia sangat pede. Dan berisi. Ia datangi Arab Saudi. Sampai dua kali. Tapi juga ke Qatar. Yang kini jadi lawan Saudi. Juga ke Turki. Lawan Saudi yang lain. Lalu ke Beijing. Padahal anti proyek Tiongkok lagi marak di Pakistan.

Khan berhasil pula mendatangkan putra mahkota Saudi ke Pakistan: MbS. Mohamad bin Salman. Dua hari. Sabtu-Minggu barusan.

Segala upaya dilakukan Khan. Agar Pakistan keluar dari lubang jarum: kebangkrutan ekonomi.

Ia perlu uangnya Saudi. Uangnya Qatar. Uangnya Tiongkok.

Ia tidak peduli apa kata rakyatnya tentang Tiongkok. Apa kata dunia tentang MbS. Yang dinilai sebagai pemicu perang sipil di Yaman. Yang dikaitkan dengan pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi. Yang di Turki itu.

Pun ia tidak peduli anggapan Saudi tentang kunjungannya ke Qatar.
Bahkan ia undang MbS ke Pakistan. Khan ingin memastikan komitmen Saudi. Ia tidak meragukan janji Tiongkok, tapi harus yakin apakah Saudi memegang komitmennya.

Test pertama adalah kunjungan pangeran ke Pakistan itu. Mau datang ke Pakistan saja sudah merupakan indikasi positif. Padahal Pakistan bukan negara aman. Memang Pakistan sampai meliburkan sekolah. Seperti yang dilakukan Indonesia saat jadi tuan rumah APEC dulu. Jalan-jalan utama ditutup. Armada helikopter disiapkan. Agar ada jaminan pangeran MbS selamat. Selama di Pakistan.

Hebatnya, Imran Khan sendiri yang jemput pangeran ke bandara. Bahkan Imran Khan sendiri yang nyetir mobil dari bandara. Ke rumah kediaman perdana menteri. Khan pegang kemudi mobil Mercy. Pangeran duduk di sebelahnya.

Sungguh penghormatan pribadi yang luar biasa. Pangeran baru berumur 33 tahun. Khan dua kali lipatnya.

Demikian juga saat pangeran meninggalkan Pakistan. Imran Khan sendiri yang nyetir mobil Mercy itu. Mengantar pangeran kembali ke bandara.

Di Pakistan Pangeran MbS juga dirajakan. Dengan mengiringnya gegap gempita. Di atas kereta berkuda. Seperti raja di Eropa.

Imran Khan tahu perasaan pangeran. Yang lagi perlu dibangkitkan. Nama baiknya lagi tercoreng di dunia internasional. Imran Khan seperti mengatakan padanya: jangan gundah. Masih ada Pakistan. Yang menghormati Anda.

Hasilnya memang nyata: Saudi benar-benar investasi sekitar Rp 120 triliun. Untuk memproduksi BBM di Pakistan. Agar impor BBM-nya turun drastis. Lokasinya di Gwadar. Di dekat pelabuhan raksasa yang dibangun Tiongkok.

Masih ada investasi lainnya. Lebih besar lagi. Sekitar Rp 200 triliun. Di bidang kimia dan tambang.

Lalu MbS membuat keputusan itu: jemaah haji bisa menyelesaikan urusan imigrasinya di bandara Pakistan. Saat mereka akan berangkat ke Jeddah/Makkah. Bahkan fasilitas itu disediakan di tiga bandara sekaligus: Karachi, Islamabad dan Lahore.

Arab Saudi memang punya program yang sangat bagus. Untuk menangani jemaah haji. Program itu disebut “Road to Makkah”. Jalan menuju Mekah. Yakni bagaimana terus memperbaiki sistem haji. Yang datang dari luar negeri.

Salah satunya adalah menyederhanakan proses imigrasi itu.

Hebat!

Kalau Indonesia juga bisa.

Masih ada kado lain dari kedatangan pangeran MbS: kuota haji Pakistan naik menjadi 200 ribu. Naik sebanyak 16.000. Yang 10.000 wajib untuk yang umur di atas 80 tahun. Dan 1,5 persen untuk yang cacat.

Imran Khan mendadak dipuja. Padahal bulan lalu masih dimaki-maki. Saat pemerintah mengumumkan ongkos naik haji. Yang naik drastis.

Khan berani mencabut subsidi naik haji. Katanya: yang naik haji itu kan orang yang punya uang. Kenapa disubsidi? Kalau tidak mampu ya jangan naik haji. Kan naik haji hanya diwajibkan bagi yang mampu.

Menteri agamanya ikut malu. Perjuangannya mempertahankan subsidi dipatahkan Khan. Sang menteri sampai walk out saat sidang kabinet itu. Saat putusan cabut subsidi haji itu diambil.

Menteri agama memang usul agar pemerintah mensubsidi 45.000 rupee. Sekitar Rp 5 juta. Untuk tiap satu jemaah haji. Tapi ditolak Khan. Ongkos naik haji di Pakistan menjadi 437.000 rupee. Sekitar Rp 44 juta. Untuk propinsi-propinsi di utara. Dan 427.000 rupee untuk wilayah selatan. Itu tidak termasuk ongkos membeli hewan qurban.

Memang heboh-heboh. Saat pencabutan subsidi itu diputuskan. Tapi hanya sebentar. Mereka pun maklum. Keuangan negara betul-betul lagi sulit.

Imran Khan sudah berubah. Tidak ada lagi citra sebagai atlet nasional. Kapten team kriket. Juara dunia. Atau playboy. Suka kawin cerai.

Citra barunya sudah terbentuk. Pemimpin nasional yang sangat cerdas. Ahli diplomasi. Rasional. Piawai dalam menyelamatkan perekonomian negara.

Pakistan seperti akan menemukan jalan lurusnya. [***]
Editor: Sukardjito

Kolom Komentar


Sebelumnya

Burrito Time

Berikutnya

GE Way