Dalam kitab suci Al-Qur'an banyak sekali ayat yang ditemukan memberi semangat dan tantangan kepada kaum perempuan, yang mungkin sulit dilihat di dalam kitab-kitab suci sebelumnya. Bahkan tidak ditemukan ayat atau hadis yang melarang kaum perempuan aktif dalam dunia politik. Al-Qur'an dan Hadis banyak mengisyaratkan kebolehan peremÂpuan aktif menekuni berbagai profesi. Dalam Al-Qur'an S.Al-Taubah/9:71 dinyatakan:
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah auliya bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh mengerjakan yang ma'ruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat dari Allah, sesungguhÂnya Allah Maha Perkasa lagi Maha BijaksaÂna." Kata auliya dalam ayat tersebut mencakup interaksi proaktif antara berbagai komponen di dalam masyarakat, tanpa membedakan laÂki-laki dan perempuan, sepanjang tidak menÂimbulkan fitnah. Bahkan menurut ulama, tafsir perempuan juga memiliki makna untuk memÂperjuangkan kebenaran dan mencegah keÂbatilan. Dalam beberapa riwayat disebutkan betapa kaum perempuan di permulaan Islam memegang peranan penting dalam kegiatan politik. Q.S.Al-Mumtahanah/60:12 melegalisir kegiatan politik kaum perempuan:
"Wahai Nabi, jika datang kepadamu kaum perempuan beriman untuk melakukan bai'at dan mereka tidak akan mempersekutukan seÂsuatupun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia (bai'at) mereka dan mohonkanlah ampun keÂpada Allah untuk mereka. Sesungguhnya AlÂlah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Banyak sekali ayat bahkan beberapa suÂrah dalam Al-Qur’an yang mengisahkan kesuksesan sejumlah perempuan di dalam duÂnia politik, khususnya yang kita kenal dengan Ratu Balqis yang dikisahna dalam dua surah (S. al-Naml dan S. al-Anbiya'). Satu-satunya orang yang pernah mendapat pengakuan dari Tuhan sebagai "pemilik pemerintahan superÂpower" (
laha 'arsyun 'adhim/27:23) dan negeÂrinya dilukiskan dengan
baldatun thayyibah wa Rabbun gafur atau
negoro kang lohjinaÂwi, toto tentrem kerto raharjo, ialah kerajaan Ratu Balqis. Belum lagi peran politik sejumlah perempuan di samping para suaminya yang banyak dikisahkan di dalam Al-Qur'an. Yang paling dekat dengan kita ialah peran publik Khadijah dan Aisyah, isteri Nabi yang sedeÂmikian besar menunjang kesuksesan karier Nabi Muhammad Saw.