Menolak Lupa, Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Gedung Bank BJB

Senin, 13 Agustus 2018, 15:53 WIB | Laporan: Dar Edi Yoga
"Kalau  orang tak tahu sejarah bangsanya sendiri tanah airnya sendiri gampang jadi  orang asing di antara bangsa sendiri," kata sastrawan termahsyur  Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Ungkapan Pram mengajarkan manusia untuk tidak  pernah lupa akan kulitnya. Sejarah memang telah berlalu dan berakhir sebagai  cerita masa lalu, tapi dengan tidak melupakannya, maka bangsa Indonesia akan  selalu ada.

Namun, sayangnya  tidak semua cerita perjuangan pemuda Indonesia terselip dalam buku sejarah.  Beberapa di antaranya hanya hadir sebagai sejarah nonpopuler dengan miskinnya  literatur. Padahal, tanpa mengecilkan aspek apapun, cerita di dalamnya sungguh  menyiratkan perjuangan hebat yang sepatutnya dikenang dan dikenal publik.

Cerita perobekan  bendera triwarna Belanda di depan gedung kantor Bank BJB Cabang Utama Bandung  bisa dijadikan contoh. Gedung yang dulu bernama De Eerste Nederlandsch Indische  Spaarkas (Denis) tersebut sejatinya merekam jejak perjuangan pemuda Bandung  mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

"Kehadiran  kami berkaitan erat dengan perjuangan bangsa Indonesia. Gedung kantor Bank BJB  Cabang Utama Bandung menjadi saksi perlawanan para pemuda melawan Belanda dalam  upayanya mempertahankan kemerdekaan. Untuk itu, kami mengajak masyarakat untuk  bersama menghargai jasa para pendahulu. Isi kemerdekaan dengan hal positif dan  bermanfaat," ujar Direktur Utama Bank BJB Ahmad Irfan beberapa waktu lalu.

Adapun insiden  pengibaran bendera tri warna tersebut terjadi tiga bulan setelah kemerdekaan  Indonesia dan jadi awal dari rangkaian perjuangan revolusioner pemuda  boemipoetra sebelum peristiwa pembumihangusan Bandung Lautan Api pada 24 Maret  1946.

Aktor utama  pengibaran tentu melibatkan tentara Belanda dan sekutunya Inggris, yang kala  itu tengah melakukan evakuasi imigran sembari melucuti pasukan Jepang  pasca-kekalahan memalukan di Perang Dunia II. Ketika itu, hari belum siang dan  insiden provokatif tersebut lantas membakar semangat pejuang Tanah Air.

Apalagi, euforia  kemerdekaan masih begitu terasa, sehingga dalam waktu singkat halaman gedung  Denis dihiasi ratusan pemuda Bandung yang menuntut bendera kebanggaan Belanda  berwarna merah putih biru diturunkan. Padahal, pasukan Inggris yang berjaga  dilengkapi persenjataan mewah, termasuk kendaraan lapis baja. 

Kawasan Jalan  Asia Afrika memang dijadikan markas utama Inggris dan Sekutu di Jawa Barat,  termasuk serdadu marcenary asal Nepal, Gurkha. Gurkha merupakan tentara bayaran  profesional yang dikenal karena keberanian dan kekuatannya berperang. Tidak  heran jika Inggris menggunakan jasanya dalam Perang Dunia I dan II. 

Menurut John  Parker dalam bukunya The Gurkhas: The Inside Story of the Worlds Most Feared  Soldiers, setidaknya sebanyak 200 ribu pasukan Gurkha telah berjuang dalam  kemiliteran Inggris, tidak terkecuali di Indonesia. Pasukan Gurkha menjadikan  Hotel Savoy Homann yang berjarak puluhan meter dari Gedung Denis sebagai markas  utama. 

Persenjataan  lengkap serdadu Inggris dan citra mengerikan dari Gurkha, tidak lantas membuat  pejuang Bandung lemas lutut bergeming. Semangat revolusioner terwakilkan oleh  tindakan heroik dua pemuda Bandung bernama Endang Karmas dan Mulyono. 

Karmas yang  gerah melihat triwarna berkibar, berniat menurunkannya dan menggantinya dengan  Sang Merah Putih. Dengan berani dan penuh risiko, Karmas bergerak sendirian  masuk ke dalam Gedung Denis hingga mencapai bagian atap. 

Setibanya di  atap, Karmas bertemu dengan Mulyono yang juga memiliki niatan sama. Keduanya  lantas bekerja sama menurunkan bendera triwarna. Namun, ketika mencapai puncak  menara, kedua pemuda tersebut terdiam sejenak karena tidak ada lagi jalan untuk  naik.

Karmas dan  Mulyono hanya memiliki satu pilihan, yakni dengan menarik kabel besi untuk  mencapai bendera. Apa dikata, angin yang bertiup kencang membuat kabel besi  begitu kuat dan bergerak sporadis. Kabel besi gagal diraih dan di waktu  bersamaan desingan peluru pasukan Gurkha terdengar keras dari arah Hotel Savoy  Homann. Spontan Karmas dan Mulyono menunduk panik. 

Suasana mendadak  beralih panas mencekam, tapi para pemuda Bandung yang berada di halaman gedung  Denis tidak lantas menunjukkan ekspresi ketakutan. Suara ledakan justru dibalas  dengan teriakan "Medeka, merdeka, merdeka!".

Di atap gedung,  Karmas dan Mulyono terus berusaha menurunkan triwarna. Hingga kemudian bendera  terkulai dan Karmas berhasil meraih ujungnya. Lantas, Karmas meminta Mulyono  memegangnya. Bayonet dihunus dan bahu Mulyono dijadikan pijakan ketika Karmas  naik untuk mencabik bagian warna biru pada bendera Belanda.

Warna biru pada  triwarna dirobek keras, tersisalah warna merah dan putih. Sang Merah Putih  berkibar sendiri di gedung Denis yang membuat pemuda semakin keras dan lantang  menyerukan kata "Merdeka". 

"Setelah  tragedi perobekan bendera di gedung Denis dan ledakan peluru di Hotel Savoy  Homann, bantuan datang dari gerilyawan Indonesia. Satu yang perlu diingat,  ketika itu, Karmas dan Mulyono masih berusia belasan tahun. Mereka masih sangat  muda tapi sangat berani," ujar pegiat sejarah Komunitas Aleut, Irfan  Teguh.

Peristiwa di  gedung Denis mendorong terbentuknya badan penghubung yang berfungsi  menjembatani komunikasi antara pejuang Indonesia dan Sekutu. Walau dalam  perjalanannya hubungan antara Indonesia dan Sekutu justru kembali memburuk.

Gedung Denis  sendiri sebenarnya memiliki peran krusial dalam perjalanan memperjuangkan  kemerdekaan. Baik Jepang maupun Belanda sangat ingin menguasai gedung Denis.  Tidak heran jika pertumpahan darah kerap terjadi di gedung hasil karya arsitek  Albert Frederik Aalbers tersebut. Bahkan, gedung Denis sempat menjadi titik  keberangkatan utama ketika Keresidenan Priangan pindah ke Garut karena  serangkaian peristiwa perlawanan revolusioner. 

Namun,  dokumentasi dan literatur mengenai perjalanan sejarah gedung Denis dipandang  sangat minim. Menjadikan fakta sejarah seakan terlupakan. Hingga akhirnya dua  wartawan bernama Enton Supriyatna dan Efrie Christianto merilis buku berjudul  Merah Putih di Gedung Denis: Catatan Tercecer di Awal Kemerdekaan.

Untuk mengenang  perjuangan di gedung Denis, dua tahun lalu Bank BJB pernah menggelar pertunjukan  drama teater tentang kisah heroik perobekan bendera triwarna. Kegiatan tersebut  dilakukan sebagai bentuk pendidikan kepada generasi penerus atas sejarah dan  nilai luhur.

"Mengetahui  arti sejarah di Tanah Air merupakan salah satu bentuk pendidikan bagi generasi  muda. Kami memiliki nilai perjuangan yang sangat penting bagi negeri dan bank  bjb berkomitmen untuk memelihara sejarah dan warisan budaya bangsa," ujar  Direktur Operasional Bank BJB, Fermiyanti.

Selain itu, bank  bjb juga rajin memberikan bantuan kepada veteran perang melalui program  corporate social responsibility. Setidaknya, Bank BJB telah membantu 500  veteran di kawasan Bandung Raya dengan memberikan santunan dan melakukan  renovasi rumah.

Veteran dipilih  bukan tanpa alasan. Terlepas dari jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan  Indonesia, nyatanya hingga kini kesejahteraan veteran belum mendapat perhatian  lebih dari pemerintah. Bantuan tersebut menegaskan kehadiran Bank BJB dalam  membangun Indonesia dan memahami negeri.

Menjaga dan  Mengenal Arsitektur Gedung Denis

Bandung tempo  dulu hadir sebagai salah satu laboratorium arsitektur dunia. Bandung memiliki  banyak bangunan monumental bergaya klasik hasil karya arsitek kenamaan dunia,  tidak terkecuali gedung Denis. Bangunan tersebut terpatri setia menemani laju  perkembangan kota meski pernah termakan tragedi Bandung Lautan Api.

Jika  diperhatikan, konsep arsitektur gedung Denis mirip dengan Hotel Savoy Homann.  Di kedua bangunan tersebut terkandung unsur plastis horisontal di setiap  eksterior bangunan. Sebuah bukti fisik yang menegaskan keberadaan konsep  arsitektur bergaya internasionalisme klasik khas Eropa di Indonesia pada dekade  1930 hingga 1946. 

Adalah  arsitektur berkebangsaan Belanda kelahiran 1897 bernama Albert Frederik Aalbers  yang membawa konsep kontemporer streamline pada bentuk dasar dari gedung Denis.  Kala itu tren arsitektur yang berkembang di Belanda banyak dipengaruhi gerakan  rasionalisme.

Di masanya,  Albert merupakan salah satu dari tiga arsitek paling berpengaruh di Hindia Belanda.  Konsep dari gedung Denis bisa dijadikan bukti kecerdasan Albert karena  memberikan kontribusi pemikiran pada perkembangan arsitektur di Indonesia.

Alasannya  sederhana, karena Albert menghadirkan dualisme ideologi dalam desain, yakni  neoplastis rasionalis pada sisi eksterior dan dekoratif bernuansa konten lokal  untuk interior. Artinya, Gedung Denis dinilai dapat merespons budaya di  Indonesia.

"Perlu ada  respons budaya lokal. Artinya tidak hanya menempelkan ornamen seperti pendirian  Kota Tua di Jakarta atau perumahan tentara di Cimahi. Albert melakukan itu pada  karyanya," ujar Arsitektur dari Institut Teknologi Bandung, Widjaja  Martokusumo, beberapa waktu lalu.

Di sisi lain,  Bank BJB berkomitmen untuk terus menjaga dan melestarikan orisinalitas dari  gedung Denis. Hal tersebut dibuktikan Bank BJB dengan tetap merawat dan  mempertahankan bentuk asli dari gedung Denis, tanpa mengubah bentuk sama  sekali. 

Apa yang  dilakukan Bank BJB, sebenarnya sesuai dengan tiga pendekatan yang tengah  dilakukan Unesco perihal pelestarian cagar budaya. Pertama, cagar budaya  diharapkan dapat memberikan nilai pengetahuan kepada wisatawan, sehingga  menciptakan kesadaran dan rasa hormat akan keberadaan sejarah.

Kedua, wisatawan  tidak diperkenankan untuk merusak cagar budaya baik secara fisik maupun  nonfisik. Ketiga, cagar budaya harus memberikan manfaat secara ekonomi bagi  masyarakat, salah satu caranya dengan menggunakannya sebagai bangunan  produktif.

Oleh karena itu,  cagar budaya bukan hanya berfungsi sebagai hiasan kota untuk mengenang  romantisme masa lalu. Pemanfaatan oleh masyarakat dan pemerintah secara ekonomi  perlu dilakukan, misalnya dengan menjadikannya sebagai akomodasi penginapan,  fasilitas wisata, hingga kantor.

"Ketika  ekonomi masyarakat meningkat, maka dengan sendirinya cagar budaya akan dijaga  seperti apa yang terjadi di Eropa. Sedangkan kini, sebagian cagar budaya di  Bandung hanya menjadi pajangan," ujar Vice President International Council  on Monuments and Sites Indonesia, Dicky Soeria Atmadja, beberapa waktu lalu.

Padahal,  peraturan terkait cagar budaya yang dimiliki Indonesia jauh lebih ketat  ketimbang regulasi serupa di beberapa negara Eropa. Namun, pengetatan peraturan  justru membuat cagar budaya semakin tidak berkembang dan bernilai. "Jadi  seolah ingin melindungi (cagar budaya) namun justru membuatnya mati. Kalau  bermanfaat pasti lestari karena masyarakat turut menjaga," ujar Dicky. [***].
Editor: irvan

Kolom Komentar


loading