Meskipun dibedakan antara maqam Ahadiyyah dan maqam Wahidiyyah tetapi keduanya tidak bisa dipisahkan. Ibarat selembar kertas yang memÂpunyai dua sisi. Satu sisinya kosong dan sisi lainÂnya berisi catatan. Satu wujud eksistensi dan yang lainnya haqiqah
(reality), 'ain (entity), sya'i (thing), dan
ma'lum (penegetahuan Ilahi). Wujud dalam diri-Nya sendiri dalam level Ahadiyyah tidak dapat didefinisikan dan diketahui
(unknowable). SedanÂgkan di level Wahidiyyah ialah Wujud yang dapat diketahui melalui realitas yang termanifestasikan oleh atau sejauh yang ditentukan dan didefinisiÂkan oleh diri-Nya sendiri. Wujud Yang Maha Tinggi memang tidak tampak pada diri-Nya sendiri tetapi menyebabkan segala sesuatu selain diri-Nya menÂjadi tampak. Ilustrasi sederhananya, seperti ombak dengan laut, matahari dengan cahayanya, api dan panasnya. Tidak mungkin ada ombak tanpa laut, tidak mungkin ada cahaya tanpa sumber cahaya, tidak mungkin ada panas tanpa sumber panasnya. Ombak adalah akibat atau reaksi dari adanya laut yang menjadi sebab, dan seterusnya.
Dalam tahap inilah bermula pembicaraan tenÂtang perkembangan dan proses perjalanan wuÂjud (
al-qaus al-wujud) yang dalam artikel terdaÂhulu sudah dibahas tentang perjalanan turun (
al-Qaus al-tanzil), sebuah pergerakan menjauh dari Tuhan (
cenrifugal) dan perjalanan naik (
al- Qaus al-Shu'ud), sebuah pergerakan mendekat kepada Tuhan (
centripetal). Pembahasan tenÂtang al-qaus al-wujud
al-Qaus al-Nuzul/deÂscending process) berawal dari "harta tersembuÂnyi" (kanzan makhfiyyan) di maqam Ahadiyyah, yang biasa disebut Ta'ayyun Pertama (
The First Entity) lalu muncul manifestasi maqam WahidiÂyyah, yang kemudian disebut Ta'ayyun Kedua (
The Second Entities). Di dalam maqam WaÂhidiyah ini muncul konsep entitas-entitas perÂmanen (
al-A'yan al-Thabitah/Permanent EntiÂties) berupa nama-nama dan sifat-sifat Tuhan yang populer dengan (
al-Asma' al-Husna'). KetiÂka dalam
Ta'ayyun Pertama
(Ahadiyyah) nama-nama dan sifat-sifat Tuhan belum teridentifikasi dengan jelas dan semuanya masih tenggelam dalam keesaan diri-Nya. Makanya itu, maqam Ahadiyyah oleh Ibn 'Arabi dalam kiatab
FushÂush al-Hikam-nya disebut maqam
Jam' al-Jam' atau
Ahadiyyah al-Ahad. Nama-nama dan sifat-sifat Tuhan berada di maqam Wahidiyyah karÂena merupakan hakekat yang menyingkapkan diri-Nya, yang dalam ilmu tasawuf disebut
madÂhahir al-asma' atau
al-a'yan. Kita tidak mungkin bisa mengenal diri-Nya melalui martabat AhadiÂyyah maka Ia memperkenanlkan diri-Nya sendiri melalui martabat Wahidiyyah. Dari sinilah Tuhan mulai dikenal sejauh Ia memperkenalkan diri- Nya melalui
al-Asma’ al-Husna’.