Pada saat presiden Park Chung-hee terbunuh pada tahun 1979, Jenderal Chun Doo-hwan dan Roh Tae-woo mengambil alih kursi kekuasaan mengakibatkan kekecewaan rakyat Korea Selatan yang menginginkan transisi yang demokratis. Pada tanggal 18 Mei 1980, para mahasiswa kota Gwangju di provinsi Jeolla Selatan, turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi.
Polisi bersenjata melakukan aksi brutal bahkan melepas tembakan untuk meredam para demonstran yang awalnya melakukan aksi damai. Walau para demonstran yang tak bersenjata ditekan secara anarkis, mereka tetap melakukan upaya protes. Warga Gwangju berusaha mendirikan pertahanan dan bernegosiasi damai namun ditolak pasukan pemerintah. Nyaris tujuh ratus demonstran tewas dalam tragedi Gwangju.
Subhuman
Di dalam artikel yang alih bahasa ke Inggeris dimuat New York Times 7 Oktober 2017 dengan judul berjudul "While the U.S. Talks of War, South Korea Shudders", Han Kang menegaskan bahwa dalam peperangan tidak ada pihak yang menang.
Han Kang mengingatkan kita semua pada Perang Dunia II, Perang Korea 1950, Perang Saudara Spanyol, Perang Saudara Bosnia mau pun pembantaian massal sistematis yang dilakukan terhadap penduduk asli benua Amerika.
Han Kang mengajak kita semua untuk tidak pernah kehilangan nurani kemanusiaan dalam menghadapi kekerasan yang dilakukan oleh manusia terhadap manusia. Kekeliruan terparah dalam peradaban umat manusia adalah manusia yang menganggap sesama manusia yang beda ras, etnis, ideologi, agama sebagai subhuman alias mahluk yang lebih rendah seperti yang dilakukan Donald Trump terhadap kaum imigran, kaum Muslim, warga Korea Utara.
Han Kang menganggap Perang Korea sebagai perang-proksi di semenanjung Korea yang diprovokasi oleh kekuatan militer dan politik dari luar Korea. Han Kang menampilkan contoh tragedi No Gun Ri pada tahun 1950, di mana tentara Amerika Serikat ganas membantai warga Korea mayoritas perempuan dan anak-anak yang hanya bisa terjadi akibat para warga Korea yang dibantai dianggap manusia berharkat-martabat lebih rendah.
Kini setiap hari Han Kang terpaksa menghadapi badai berita yang berdatangan dari Amerika Serikat "Kami memiliki berbagai skenario untuk menang perang", "Apabila perang meletus di Korea maka 20.000 warga Korea Selatan akan mati setiap hari" dan yang paling menyakitkan "Jangan kuatir, perang tidak akan terjadi di bumi Amerika sebab hanya akan terjadi di semenanjung Korea".
HarapanPada akhir naskahnya, Han Kang sebagai warga Korea yang kini disebut sebagai Korea Selatan secara mengharukan mengungkap harapan dari lubuk terdalam sanubari dirinya "We only wanted to change society through the quiet and peaceful tool of candlelight, and those who eventually made that into a reality - no, the tens of millions of human beings who have dignity, simply through having been born into this world as lives, weak and unsullied - carry on opening the doors of cafes and teahouses and hospitals and schools every day, going forward together one step at a time for the sake of a future that surges up afresh every moment. Who will speak, to them, of any scenario other than peace?".
Insya Allah, Donald Trump berkenan mendengar, menghormati dan menghargai harapan Han Kang sehingga berkenan menyerahkan proses perdamaian di Korea untuk diurus oleh bangsa Korea untuk bangsa Korea sendiri.
[***]Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan