Tolak ukur pertama adalah tingkat kepatuhan pemimpin tersebut kepada aturan yang berlaku. Kemudian, apakah dia menghasilkan sesuatu yang bermanfaat atau tidak.
"Tindakannya itu sendiri berdasarkan kebajikkan atau tidak, serta apakah perbuatan itu punya konsekuensi atau tidak," urainya dalam sesi kedua Konferensi Nasional Etika Kehidupan Berbangsa, yang berlangsung di Gedung Nusantara IV Komplek Parlemen, Senayan, Rabu (31/5).
Selain tolak ukur itu, seorang pemimpin juga harus memiki prinsip tidak mementingkan diri sendiri, berintegritas, objektif, bertanggung jawab, dan terbuka.
"Selain itu juga bisa menjaga kehormatan, kepemimpinan, berfikir dan bekerja untuk kepentingan orang banyak," jelas mantan Ketua MA itu.
[ian]
BERITA TERKAIT: