Demikian disampaikan Sekjen MPR RI Maruf Cahoyono dalam acara Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat yang membedah novel Cintaku di Lembata di Komplek Parlemen, Jakarta (Kamis, 4/5).
Maruf mengatakan, kegiatan Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat merupakan agenda rutin Perpustakaan MPR. Dengan harapan akan menambah pengetahuan yang mumpuni bagi peserta diskusinya.
"Saya berharap apa yang dilakukan Perpustakaan MPR ini dapat memberi manfaat kepada kita semua," ujarnya.
Sari Narulita yang turut hadir dalam acara tersebut menjelaskan bahwa Cintaku di Lembata tidak hanya menyajikan kisah cinta pria dan wanita. Tetapi juga cerita tentang perjalanan, keindahan alam, dan budaya di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur yang belum banyak terekspos.
Melalui tokoh Kayla dan Gringgo, pembaca diajak meniti seribu anak tangga menyaksikan para penenun di Jontona. Desa Jontona juga dikenal sebagai tempat pembuatan garam tradisional menggunakan daun lontar dan siput laut. Banyak turis tertarik dan datang sekadar melihat proses pembuatannya.
Petualangan berlanjut dengan menaiki gunung Ile Lewotolok ke kampung lama Lewohala. Selanjutnya, pembaca dibawa untuk menyaksikan atraksi perburuan ikan paus secara tradisional di Lamalera, hingga menikmati senja di Bukit Cinta, Wolor Pass.
Sari mengaku terlanjur jatuh cinta pada Lembata. Dia terkagum dengan keindahan alamnya yang masih murni, budaya, dan tradisi yang masih terjaga. Namun sayang, belum banyak orang mengetahui tentang wilayah itu.
"Keinginan saya ingin memperkenalkan Lembata ke masyarakat yang lebih luas. Karena lewat buku akan dikenang puluhan tahun," tutur aktris yang telah bermain dalam 36 judul film itu.
[wah]
BERITA TERKAIT: