DIPLOMASI terakhir yang dimainkan Ratu Balqis ialah ia memimpin sendiri delegasi dan pasukannya menghadapi kekuatan Nabi Sulaiman. Kita belum tahu dandanan seperti apa yang digunakan Ratu Balqis unÂtuk menundukkan Nabi SuÂlaiman. Yang jelas Ratu Balqis datang dengan sejumah hadiah mewah. Di lapis belakang di situlah pasukan elit dan paÂsukan tempur yang siap sedia untuk menyerbu Kerajaan Nabi Sulaiman. Namun setelah merÂeka sampai di perbatasan, Ratu Balqis bersaÂma para pasukan mereka bagaikan muka yang tertampar, mereka takjub menyaksikan kekaÂyaan dan kehebatan Nabi Sulaiman. SepanÂjang jalan yang dilewatinya terdiri atas bebatÂuan yang berasal dari intan permata mahal. Mereka juga dijemput oleh binatang-binatang buas yang tertib dan rapi berbaris namun siap juga untuk menerkam. Tidak ada cara lain bagi Ratu Bulqis selain mengalah dan mengakui keÂhebatan Nabi Sulaiman (Q.S. al-Naml/27:42). Pemberian hadiah dan gratifikasi bagi seorang yang memiliki kekuatan iman tidak akan perÂnah mempan. Sebaliknya pemberian hadiah dan gratifikasi memalukan dirinya sendiri. Ratu Balqis akhirnya mengalah tanpa melakukan perlawanan. Ia berpikir percuma saja melawan dengan kekuatan yang maha dahsyat. Pasukan tempurnya bukan hanya tentara tangguh beruÂpa manusia tetapi juga binatang buas. Belum lagi pasukan jin yang mereka tidak lihat.
Jalan paling elegan bagi Ratu Balqis ialah menyatukan dua kekuatan. Kedua tokoh, Ratu dan Raja ini sama-sama memasuki istana. Sang Raja mempersilakan Sang Ratu: "Masuklah ke dalam istana. Maka ketika dia (Sang Ratu) meliÂhat (lantai istana) itu, dikiranya kolam ikan yang besar, lalu diangkatnya kedua penutup betisÂnya. Dia (Sulaiman) berkata, Sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca. Dan Balqis berkata, Ya Tuhanku, sungguh aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluÂruh alam".
Dalam kitab-kitab Tafsir dijelaskan, keduanya melangsungkan 'perkawinan' dan melahirkan generasi baru yang tangguh. Keuntungan yang diperoleh dari pertemuan kedua tokoh tersebut antara lain, rakyat menjadi senang dan tenang, bersatunya dua kekuatan, terhindarnya dari maÂlapetaka peperangan dan terwujudnya kestabilan dan kesejahteraan di dalam masyarakat.
Pengalaman Ratu Balqis ini juga mendukung pernyataan ayat-ayat lain yang memberikan kesÂempatan kepada kaum perempuan untuk menÂjadi pemimpin, seperti: "Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian merÂeka adalah 'pemimpin' bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh mengerjakan yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar…" (9:71). Ayat ini mengisyaratkan kemungkinan laki-laki dan perempuan dapat menjadi penguasa/pemimpin atau beropposisi dalam arti menyeru kepada keÂbenaran dan mencegah kebatilan. Perempuan diÂidealisasikan memiliki kemandirian politik (60:12) dan kemandirian ekonomi guna memperoleh kehidupan yang layak (16:97). Perempuan dan laki-laki mempunyai kapasitas yang sama sebaÂgai hamba (4:124) dan khalifah (2:30). Bahkan Al-Qur'an menyerukan 'perang' terhdap suatu negeri yang menindas kaum perempuan (3:75). Oleh karena itu, semua penafsiran yang bersifat menindas harus ditinjau kembali karena itu pasti tidak sejalan dengan visi dan misi Al-Qur'an. Mari kita belajar dari sosok figure Balqis. Tidak mungÂkin tuhan menceritakan begitu panjang di dalam Al-Qur'an tanpa pesan mendalam bahwa peremÂpuan juga bisa menjadi pemimpin. ***
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.