Bahkan rasa heran juga datang dari mantan Menteri Perhubungan 1973-1978, Emil Salim. Kata Emil, jika Rini sangat dekat dengan Jokowi, lalu mengapa memaksakan proyek kereta-cepat yang tak
feasible ekonomi ini. Lalu mengapa juga memakai dana pinjaman China untuk proyek yang tidak hasilkan valuta asing.
"Ada mis-match dana pembiayaan antara valuta asing dengan rupiah loan," kata Emil yang pandangannya ini tersebar melalu jaringan media sosial beberapa waktu lalu.
Dalam pandangan Emil, sungguhpun pola proyek
business to business, namun dalam hal ini yang terlibat adalah juga badan usaha milik negara, yang modalnya juga merupakan kekayaan-negara yg dipisahkan.
"Sehingga bila ada kerugian
business dalam usaha kereta-cepat maka risiko budiness ditanggung BUMN yang pemegang-sahamnya adalah negara atau pemerintah?" tanya Emil.
[ysa]
BERITA TERKAIT: