Aktivis Duga Bau PKI Ditebar di Frankfurt Book Fair 2015

Dua Kali Geruduk Kantor Menteri Anies Baswedan

Kamis, 15 Oktober 2015, 10:12 WIB
Aktivis Duga Bau PKI Ditebar di Frankfurt Book Fair 2015
ilustrasi/net
rmol news logo Menteri Pendidikan dan Kebudayaan diminta menjelas­kan kegiatan di Frankfurt Book Fair 2015 yang sedang berlangsung di Jerman. Kegiatan yang menghabiskan anggaran negara sebesar Rp 146 miliar itu diduga telah keluar dari agenda yang sudah dibuat sebelumnya.

Hal ini dinyatakan Gerakan Pemuda Penyelamat Indonesia (GPPI). Seperti diketahui, se­jak Selasa (13/10), rombongan Kemendikbud mengikuti kegia­tan di kota Frankfurt, Jerman se­bagai The Guest of Honour atau tamu kehormatan dalam ac­ara Frankfurt Book Fair (FBF) 2015. Untuk mensukseskan keg­iatan tersebut, Mendikbud Anies Baswedan telah menunjuk bu­dayawan Goenawan Mohammad sebagai Ketua Komite Nasional Pelaksana.

Awalnya, dalam kegiatan tersebut, Kemendikbud dim­inta memperkenalkan budaya Indonesia di kancah interna­sional. Namun GPPI meng­klaim mendapatkan data, agenda kegiatan sudah berubah.

"Yang pameran kebudayaan Indonesia dan buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata justru disusupi dengan pameran buku "Amba" dan "Pulang". Dua buku ini kita tahu membahas tentang pembasmian PKI tahun 1965," tutur koordinator GPPI, Imran Loilatu.

Dengan memperkenalkan buku tersebut, lanjut Imran, ada kekhawatiran paham PKI ingin kembali dibangkitkan di kancah internasional. Padahal di Indonesia sendiri, paham PKI sudah ditentang dan diberantas pasca Gerakan 30 September 1965. "Kami mendesak agar kegiatan Frankfurt Book Fair 2015 di kota Frankfurt, Jerman dihentikan," ujarnya.

Imran mengatakan, lusa ke­marin, GPPI sudah menggelar aksi unjuk rasa dengan menerjunkan puluhan kader di ge­dung Kemendikbud Jakarta. Sayangnya, dalam aksi tersebut, pihak Kemendikbud belum memberikan penjelasan soal perubahan agenda kegiatan yang mengangkat soal PKI di Jerman.

"Maka, selama Anies Baswedan belum memberikan penjelasan dan menghentikan kegiatan tersebut, GPPI akan kembali menggelar aksi unjuk rasa dan menyampai­kan ini pada masyarakat Indonesia yang lain," tegasnya.

Dalam aksi unjuk rasa tersebut, Imran mengatakan, pihaknya sempat menerobos masuk ke dalam gedung Kemendikbud. Sebab dalam aksi yang dilakukan selama satu jam tersebut, pihak kemendikbud tidak ada yang be­rani memberikan penjelasan.

Menurut kabar yang dida­pat GPPI, baik menteri mau­pun pihak humasnya ternyata sedang ikut dalam rombongan ke Jerman tersebut. "Ingat, kami mewakili pemuda dan mahasiswa mengecam segala bentuk kegiatan yang mencoba menghidupkan kembali PKI di Indonesia," tegasnya.

Seperti diketahui, pameran buku tahunan terbesar dunia yang dihelat antara 13 hingga 18 Oktober ini, Indonesia memang ditunjuk sebagai tamu kehorma­tan (guest of honour).

Belakangan polemik mun­cul, karena ada tudingan, Komite Nasional Indonesia un­tuk Frankfurt Book Fair (FBF) 2015 yang diketuai Goenawan Mohamad, mempunyai skenario khusus, dengan memunculkan dua penulis untuk dijadikan bintang utama dalam pameran di negara bagian Hessen, Jerman, itu.

Dua penulis itu adalah Laksmi Pamuntjak dan Leila S Chudori, sastrawan yang me­mang dikenal dekat dengan Goenawan Mohamad. Laksmi merupakan penerjemah sejum­lah kumpulan puisi Goenawan. Sementara Leila adalah rekan sekaligus bekas anak buah sang budayawan sewaktu masih men­jadi pemimpin redaksi di sebuah media besar.

Tuduhan muncul pertama kali dari Linda Christanty lewat dinding akun Facebook-nya. Adalah pemberitaan di situs DW Indonesia pada 23 Juni 2015 yang membuat pemenang Khatulistiwa Literary Award 2004 itu mencium aroma ske­nario 'bintang utama' tersebut.

Dalam berita di media Jerman versi bahasa Indonesia itu tertulis, "Dari 13-18 Oktober Indonesia akan tampil di Frankfurt sebagai Tamu Kehormatan. Yang cukup mengejutkan, kebanyakan yang memaksa Indonesia berhadapan dengan sejarah gelapnya adalah penulis perempuan."

Linda menyatakan, fenom­ena atau kecenderungan penu­lis perempuan menulis tentang tema 1965 tidak ada sama sekali. Menurutnya, penulis Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, mengisahkan peristiwa tersebut dalam karya-karya mereka sejak masa Soeharto sampai hari ini.

"Itu (kecenderungan penulis perempuan) kebohongan yang luar biasa," tulis Linda di dinding akun Facebook-nya, Rabu (23/6).

Linda memaparkan, penulisan dan penerbitan karya fiksi yang mengisahkan peristiwa 1965 bahkan telah dimulai tidak lama setelah Soeharto berkuasa. Sebut saja Noorca M Massardi dengan novel 'September', Umar Kayam dengan cerpen 'Sri Sumarah dan Bawuk''' dan dan Ahmad Tohari dengan trilogi novel 'Ronggeng Dukuh Paruk'.

Linda mencurigai, pengarahan tema 1965 hanya demi mengang­kat nama Laksmi dan Leila, yang masing-masing merupakan penulis novel 'Amba' (2012) dan 'Pulang' (2014). Kedua karya fiksi itu memang bertema 1965.

Sastrawan AS Laksana juga mencium pengarahan tema 1965 demi memunculkan bintang utama tersebut. Padahal, tema yang diusung Indonesia sebagai tamu kehormatan adalah '17.000 Islands of Imagination'. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA