Pembatalan proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung, yang ternyata kemudian dimenangkan oleh China tanpa
beauty contest ulang yang melibatkan kedua negara, sulit dimengerti dan sangat disesalkan oleh Pemerintah Jepang, sebagaimana yang disampaikan oleh Sekretaris Kabinet, Yoshihide Suga di prescon di Tokyo Selasa lalu.
"Untuk masyarakat Jepang yang terbiasa menjunjung kesopanan dan etika, gesture politik yang ditunjukkan Suga tersebut menunjukkan ketidaknyamaan yang sudah mencapai dosis tinggi pemerintah Jepang terhadap Indonesia," kata Wakil Ketua Komisi I DPR, Tantowi Yahya, dalam keterangan beberapa saat lalu (Kamis, 1/10).
Bagi Jepang, ungkap Tantowi setelah menangkap pembicaraan dengan pejabat-pejabat penting mereka, kalah dalam persaingan bisnis adalah biasa. Tapi "dikalahkan" dengan cara-cara yg tidak etis menjadi hal yang tidak biasa. Dengan demikian, kejadian ini sedikit banyak akan berpengaruh kepada hubungan kedua negara ke depan.
"Seharusnya keputusan strategis yang akan diambil Pemerintah tidak boleh hanya dilihat dari perspektif untung rugi secara ekonomi, tapi juga secara politik," tegas Tantowi.
Dalam hubungan luar negeri, jelas Tantowi, jalinan persahabatan dua negara yang bermuara pada sikap saling menghargai, saling menghormati dan saling membantu ketika sedang dalam kesulitan adalah buah dari proses diplomatik yang panjang dan melelahkan.
"Sungguh disayangkan apabila dikorbankan demi kepentingan pragmatis dan jangka pendek," demikian Tantowi.
[ysa]
BERITA TERKAIT: