Kompolnas Ibarat Pedagang yang Tak Punya Etika

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Rabu, 11 Februari 2015, 10:40 WIB
Kompolnas Ibarat Pedagang yang Tak Punya Etika
ilustrasi/net
rmol news logo . Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) merupakan lembaga yang merekomendasikan sejumlah nama calon Kapolri kepada Presiden Joko Widodo, termasuk nama Budi Gunawan. Namun ironisnya, bukan mengawal dan mempertanggungjawabkan rekomendasinya, Kompolnas malah memunculkan nama baru calon Kapolri.

"Ini sangat naif. Manuver Kompolnas akhir-akhir ini semakin menunjukkan elit-elit di lembaga itu seakan tidak punya etika dan moralitas," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, alam keterangan beberapa saat lalu (Rabu, 11/2).

Menurut Neta, IPW mengecam sikap dan prilaku Kompolnas yang
seperti pedagang. Kasus BG belum selesai, Kompolnas sudah menawarkan
"dagangan baru", yakni calon Kapolri baru pengganti BG kepada Presiden.

"Dari enam nama yang digadang-gadang, sebenarnya hanya dua nama yang hendak dijagokan Kompolnas kepada Presiden sebagai penganti BG.
Untungnya, Selasa sore kemarin,  dengan alasan tertentu Presiden tidak
bersedia menerima Kompolnas yang hendak membawa 'dagangan barunya'." demikian Neta.

Neta menambahkan, manuver Kompolnas itu sama artinya hendak mem-fait-accompli Presiden, yang pada gilirannya membuat Presiden tidak fokus untuk menyelesaikan masalah calon Kapolri maupun konflik KPK-Polri. Bahkan manuver Kompolnas itu bisa membuat situasi di internal kepolisian kian tidak kondusif. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA