Ada Intervensi Asing dalam Penolakan Revitalisasi Teluk Benoa

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Rabu, 07 Januari 2015, 00:27 WIB
Ada Intervensi Asing dalam Penolakan Revitalisasi Teluk Benoa
ilustrasi/net
rmol news logo . Penolakan segelintir pihak terhadap rencana revitalisasi di Teluk Benoa, Bali disinyalir karena ditunggangi kepentingan asing. Intervensi Asing dengan segala usahanya mencoba untuk menggagalkan rencana tersebut. Indikasi ini nampak jelas karena sejak awal sosialisasi revitalisasi Teluk Benoa tidak ada penolakan sedikitpun dari semua pihak terkait di Bali.

Intervensi asing itu sangat masuk akal mengingat potensi revitalisasi Teluk Benoa akan berdampak tidak menguntungan bagi destinasi wisata mancanegara, terutama negara-negara ASEAN yang dekat dengan Indonesia. Sebab akan ada migrasi wisata besar-besaran dari pusat wisata negara tetangga ke Indonesia. Revitalisasi berpotensi melahirkan surga pariwisata baru di Indonesia yang tak kalah kelas dengan wisata apapun di Singapura, Malaysia, bahkan Thailand.

Begitu jawaban anggota Komisi I DPR RI Syaifullah Tamliha menjawab pertanyaan wartawan soal dugaan keterlibatan asing dalam penolakan rencana revitalisasi Teluk Benoa, saat dihubungi wartawan, Selasa (6/1).

"Sangat mungkin ada (intervensi asing dalam penolakan rencana revitalisasi di Teluk Benoa). Asing kan, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand, sangat berkepentingan agar pariwisata Indonesia tidak berkembang," jelasnya.

Politisi asal PPP ini mengatakan, jika menilik maketnya, maka revitalisasi Teluk Benoa akan menjadi pusat wisata yang kelak tidak saja menjadi kebanggaan wisata dalam negeri, tetapi akan menjadi ancaman nyata bagi pertumbuhan wisata negara-negara tetangga.

"Disitulah pengusaha wisata di Singapura, Malaysia, dan Thailand takut. Mereka khawatir wisatawan akan tersedot ke Bali. Karenanya, sangat mungkin mereka ingin gagalkan rencana itu dengan menggalang masyarakat Bali agar menolak rencana ini," sambung Tamliha.

Namun demikian, katanya, masyarakat Bali tetap perlu diberikan sosialisasi agar impian tersebut menjadi kenyataan.

Kondisi Teluk Benoa saat ini sangat memprihatinkan. Terjadi pendangkalan yang mengancam kehidupan hutan mangrove akibat sedimentasi. Bahkan, sekarang ini Teluk Benoa dipenuhi sampah, baik sampah sisa pembangunan jalan tol, maupun sampah rumah tangga. Tidak kurang sampah yang diangkut mencapai empat truk setiap harinya.

Kondisi ini mendorong pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden nomor 51 tahun 2014 yang membolehkan dilakukan revitalisasi di Teluk Benoa. Menurut rencana dari luas keseluruhan 3.300 Ha, yang akan direvitalisasi 1.400 Ha. Studi kelayakan bersama yang dilakukan IPB, ITB, UGM, ITS dan UNHAS menghasilkan kesimpulan, kawasan Teluk Benoa dapat di revitalisasi.

Hingga keluarnya Perpres tersebut tidak ada penolakan sama sekali dari masyarakat Bali. Tapi pasca Pilkada Bali, segelintir masyarakat menolaknya. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA