Namun demikian, bukan berarti pekerjaan rumah dan hajatan besar bagi PDI Perjuangan sudah usai. Justru kini, PDI Perjuangan sedang menghadapi hajatan lain, yang tak kalah besarnya; Kongres PDI Perjuangan tahun 2015. Tentu saja, bagi sementara kader, ini justru lebih rumit karena harus bertempur satu sama lain di kandang sendiri.
Bisa dipastikan, tidak akan ada kader yang berani maju menjadi ketua umum partai, untuk menggantikan Megawati Soekarnoputri. Hal yang paling mungkin dilakukan adalah berdiri-berderet di antara dua putera mahkota; Prananda Prabowo atau Puan Maharani. Dua sosok inilah yang paling bisa dan paling mungkin menggantikan kursi ketua umum.
PDI Perjuangan, dengan meminjam karakter kepemimpinan kharismatik ala MaX Weber, sepertinya belum bisa lepas dari aura trah Soekarno.
Di tengah persaingan dua putera mahkota ini, pertanyaan publik, kepada siapa Megawati akan berpihak?
Ada yang percaya, Megawati akan berpihak kepada Puan karena indikasi selama ini juga menunjukkan Puan lah yang selalu dibawa tampil ke publik dalam acara-acara resmi partai. Ada juga yang percaya, Megawati sebenarnya lebih
sreg kepada Prananda, yang dinilai bisa menyerap ide-ide Bung Karno, sementara Puan akan diberi jabatan publik di parlemen atau pemerintahan.
Namun sumber lain juga menyebutkan, sebenarnya Megawati tidak berpihak kepada siapa-siapa. Megawati menyerahkan semuanya pada jalan sejarah dan kuasa alam, dalam artian, akan membiarkan keduanya bersaing satu sama lain secara
fair.
[ysa]
BERITA TERKAIT: