Demikian disampaikan cendekiawan muslim, Sayuti Asyathri. Menurut Sayuti, istilah dan pengertian kekerasan adalah semua bentuk tindakan yang menimbulkan kengerian dan kepedihan serta luka kemanusiaan yang tidak didasarkan pada suatu keyakinan dan pandangan dunia yang telah diuji dengan prinsip-prinsip objektivitas dan dalil dalil yang bisa diverifikasi dan dielaborasi oleh mereka yang memiliki kompetensi dan otoritas secara khusus dalam masalah tersebut.
Dalam kenyataannya, lanjut Sayuti, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 9/8), kepentingan politik yang sempit telah mendangkalkan dan memanipulasi prinsip-prinsip tersebut. Sehingga memberikan celah bagi munculnya gerakan dan kelompok yang didisain kehadirannya oleh musuh kemanusiaan dan kebangsaan.
"Kepentingan politik yang sempit dan pragmatis juga bertanggungjawab pada peminggiran dan pengabaian terhadap peran para pemangku agenda pencerahan yang memiliki kompetensi dalam menyemai gerakan peradaban dn kemanusiaan," ungkap Sayuti.
Menurut Sayuti, selama proses penghinaan dan marjinalisasi para pencerah yang memiliki kompetensi dalam membangun pola pikir dan pola tindak yang komprehensif dan koheren berlangsung maka tidak pernah bisa mengeembangkan konsolidasi dan solidaitas kebangsaan untuk membela kaum tertindas secara efektif, sekaligus juga tidak akan berhasil menggalang kekuatan untuk meperjuangkan kemerdekaan sejati bangsa Indonesia.
"Proses pendangkalan dan marjinalisasi itu tentu saja didisain dan didorong kehadirannya oleh kekuatan materialisme dan kapitalisme global yang tidak ingin melihat banglkitnya peradaban yang berbasiskan kemanusiaan dan keadilan sosial yang bersumber dari nilai nilai Ketuhanan Yang Maha Esa," demikian Sayuti.
[ysa]
BERITA TERKAIT: