“Dia juga turun ke lapangan bersama Wiranto. Baru kali ini sosialisasi politik Hanura semarak. Iklan di TV tiap hari ada,†ujar ujar pengamat politik Indrawan Rabu (21/5).
Karena itu, seharusnya Partai Hanura berterima kasih kepada Hary Tanoe dengan mengkompromikan perbedaan dalam pandangan politik. Hary Tanoe juga sejatinya dilibatkan dalam pengambilan kebijakan partai termasuk dalam menentukan arah koalisi. “Yang dominan selama ini kan Wiranto. Hary Tanoe bahkan tidak terlihat di setiap komunikasi dengan parpol lain,†tuturnya.
Dia menduga, mundurnya Hary Tanoe bukan karena sikapnya yang mendua dalam memberi dukungan terhadap calon presiden. Lebih dari itu, ruang yang tak seimbang dalam pengambilan kebijakan partai telah menjadi faktor mendasar.
“Kalau mendua, tidak mungkin menampakkan diri di pihak Prabowo. Saya pikir ini ilmu sederhana. Bilang aja habis manis sepah dibuang. Saya tak dapat membayangkan gimana Hanura tanpa Hary Tanoe. Apa mungkin masih lolos PT (parliamentary threshold) atau senasib dengan PBB?,†tandasnya.
Hary Tanoesoedibjo ketahuan menghadiri rapat kubu Prabowo Subianto di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Minggu (18/5/2014) lalu. Rapat tersebut diikuti empat parpol pengusung Prabowo yakni Gerindra, PKS, PPP, dan PAN. Hal diperkuat dengan penyataan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon Hary Tanoesoedibjo bergabung ke poros Gerindra.
[zul]
BERITA TERKAIT: