
. Pemilu 2014 dinilai sebagai Pemilu paling buruk karena terbukti banyak pelanggaran dan kecurangan. Dan hal ini diperparah, jelang satu hari penutupan rekapitulasi, Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum juga menyelesaikan penghitungan seluruh provinsi.
"Bahkan banyak di provinsi yang belum kelar. Ini kami nilai sebagai kejahatan yang hampir sempurna. Dan lambatnya KPU diduga untuk mengatur siapa pemenang pemilu kali ini," kata Ketua Bidang PTKP PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Azhar Kahfi, di Markas PB HMI, Jl Diponogoro, Jakarta Pusat (Senin, 5/5).
Indikasi pengaturan pemenang, kata Azhar, bisa dilihat dalam pengisian surat suara dari dokumen C1 ke D1 yang banyak kesalahan. Sementara pemindahan dokumen D1 (PPS) ke DA (PPK) banyak terjadi selisih suara.
"Secara sadar atau dalam tekanan aparat PPS maupun PPK berani bersikap curang, bahkan mereka berani menandatangani dan melaglisir dokumen kecurangan tersebut,: ungkapnya seraya menyebutkan, apakah ini unsur kesengajaan atau kelalian karena banyak terjadi penggelembungan suara.
PB HMI pun meminta kepada Bawaslu untuk tidak menutup mata akan maraknya kecurangan ini. KPU juga secara gamblang telah jauh dari amanah UU untuk mencipatakan pemilu yang Jurdil. Atas dasar itu, Azhar mengatakan PB HMI bersikap, penyelenggara pemilu telah gagal.
"Kami juga menghimbau kepada semua elemen masyarakat, semua organisasi, ormas dan stakeholder yang ada untuk membuka mata dan mengetuk hati. Agar mendesak KPU RI untuk bertanggungjawab, terhadap carut marutnya hasil Pemilu yang terindikasi banyak kecurangan," demikian Azhar.
[ysa]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: