Hal-hal positif yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo misalnya, selalu dilihat nyinyir. Demikian juga dengan calon presiden dari Gerindra, Prabowo Subianto selalu disasar masa lalunya," kata pengajar ilmu komunikasi di Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Ari Junaedi, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 17/4).
Menurut Ari Junaedi, yang juga dosen S2 di Universitas Persada Indonesia (UPI YAI) Jakarta dan Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya ini, pers masa kini sudah mulai meninggalkan pemberitaan yang berimbang apalagi obyektif. Pers di era sekarang sudah beralih sebagai kaki tangan pemilik media, seperti dalam kasus laman
Viva.co.id "Bahkan ada media menyediakan pemberitaannya untuk memuji setinggi langit atau menjatuhkan lawan sesuai asas
wani piro. Fenomena ini yang saya sebut pers berada di tubir yang membahayakan. Media sedang membunuh dirinya sendiri," jelas peraih penghargaan World Customs Organization Sertificate of Merit 2014 karena pola pengajaran komunikasinya yang sangat inspiratif.
Namun dari perkiraan peneliti masalah transformasi identitas dan pola komunikasi pelarian politik tragedi 1965 di mancanegara ini, pembaca sudah mulai bijak dengan memilah dan memilih media mana yang partisan dan media mana yang obyektif.
"Cermati saja apakah Koran Jurnas setelah Pak SBY tidak menjadi presiden apakah tetap terbit atau malah gulung tikar.
TVOne dan
Antv kenapa selalu memuja ARB tapi tidak pernah memberitakan derita masyarakat korban lumpur Lapindo. Apakah ada perubahan pola pemberitaan
Koran Sindo usai HT dan Hanura kalah berlaga di Pemilu kemarin. Inilah wajah media kita yang oportunis," demikian Ari Junaedi.
[ysa]
BERITA TERKAIT: