Posisi PDI Perjuangan Jadi Rumit dan Serba Salah

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Kamis, 10 April 2014, 08:02 WIB
Posisi PDI Perjuangan Jadi Rumit dan Serba Salah
ilustrasi/net
rmol news logo . Bila tetap ingin memajukan Jokowi sebagai capres, maka mau tidak mau PDIP harus realistis berkoalisi dengan parpol lain agar bisa memenuhi syarat presidential treshold.

Dalam hal koalisi ini, kata Direktur Eksekutif Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (Sigma), Said Salahuddin, PDIP akan riskan bila berkoalisi dengan Golkar. Perlakuan Golkar di masa Orde Baru terhadap PDIP yang saat itu masih menggunakan nama PDI masih menyimpan trauma bagi sebagian pendukung fanatik PDIP, khususnya di kalangan kaum tua.

"Dengan Gerindra atau Demokrat malah lebih sulit lagi. Kali ini Prabowo sepertinya tidak akan mau turun kelas jadi cawapres, sementara PDIP terlalu besar gengsinya untuk berkoalisi dengan Demokrat yang selama ini menjadi seteru politiknya," kata Said kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 10/4).

Partai yang tersisa, lanjut Said, ada PKB, PAN, PPP, Nasdem, PKS atau Hanura. Partai-partai ini bisa membantu PDIP agar tetap bisa mengusung Jokowi di Pilpres nanti. Namun demikian, ini juga tidak mudah. PPP, PKS, dan Hanura cenderung akan merapat ke Golkar atau Gerindra. Dan bila demikian adanya, yang tersisa tinggal PKB, PAN, dan Nasdem.

"Persoalannya, kalau PDIP memilih PKB, maka PAN bisa lari ke Golkar atau Gerindra juga. Karena peluang Hatta Rajasa menjadi cawapres Jokowi menjadi lebih kecil dibandingkan dengan cawapres yang disodorkan oleh PKB. Begitu pun sebaliknya," demikian Said. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA