"Iklan-iklan PDIP seharusnya menonjolkan Capres, bukan Ketua Umum atau Ketua Bappilu," kata pengajar ilmu politik dari Universitas Indonesia, Ari Junaedi, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Rabu, 9/4).
"Ibarat film, yang harus ditonjolkan aktor utama, bukan figuran apalagi tukang rias atau
make-up artist," sambung Ari, yang juga pengajar pasca sarjana di beberapa kampus ternama.
Hal senada diungkapkan Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya. Menurutnya, sebenarnya ada kenaikan elektabilitas Jokowi pasca deklarasi.
"Tapi yang kita lihat setelah 14 Maret iklan masih diwarnai sosok Puan dan bukan sosok yang dijadikan elektoral," kata Yunarto Wijaya.
Selain itu kampanye yang dilakukan PDIP juga terbelah menjadi dua. Yakni kampanye yang dilakukan Jokowi dan Indonesia Hebat yang digaungkan Puan Maharani.
"Yang akhirnya muncul adalah gerakan setengah hati mencapreskan Jokowi, ini yang menyebabkan kenaikan elektoralnya tidak signifikan," kata Yunarto.
[ysa]
BERITA TERKAIT: