FILM SOEKARNO

Ternyata Hanung Bramantyo Pun Tak Pernah Minta Izin Keluarga Inggit Ganarsih

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Minggu, 29 Desember 2013, 22:55 WIB
Ternyata Hanung Bramantyo Pun Tak Pernah Minta Izin Keluarga Inggit Ganarsih
Bung karno dan Ibu inggit (1938)/ist
rmol news logo Bukan hanya keluarga Bung Karno yang kecewa pada Hanung Bramantyo dan Raam Punjabi yang tak pernah meminta izin resmi dari keluarga untuk mengangkat kisah hidup Bung Karno dalam film Soekarno.

Keluarga Inggit Ganarsih pun ternyata tidak pernah dimintai izin.

Jadi tidak usah heran, bilan banyak adegan yang didasarkan pada historical account di film itu menyimpang dari jalan cerita yang faktual. Begitu kata cucu Inggit Ganarsih, Tito Zaini Asmarahadi kepada Rakyat Merdeka Online.

Tito mengatakan, dirinya pernah didatangi oleh kru film Soekarno. Dalam pertemuan itu ia hanya ditanya beberapa hal yang berkaitan dengan kehidupan Ibu Inggit dan peranannya kala mendampingi Bung Karno.

Tetapi sama sekali tidak ada permintaan izin untuk mengangkat kehidupan Ibu Inggit dalam film itu.

"Sutradaranya (Hanung Bramantyo) pun tidak pernah datang. Dia hanya mengirimkan orang-orangnya saja. Ada etika yang mereka langgar, dan akibatnya adalah penggambaran sosok Bung Karno dan Ibu Inggit begitu sembarangan bahkan melecehkan," ujar Tito dalam perbincangan di Bandung (Sabtu, 28/12).

Tito membandingan sikap Hanung Bramantyo itu dengan sikap produsen film Ketika Bung di Ende yang dibintangi Baim Wong dan Paramitha Rusady.

Tito banyak terlibat dalam proses pra produksi dan produksi film yang juga di-endorse Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu. Ia berdiskusi dengan prodoser Egy Massadiah dan ikut ke Ende untuk memberikan memberikan masukan mengenai sejumlah adegan selama Bung Karno dan Ibu Inggit hidup di pembuangan. Di Ende ia juga bertemu dengan Sukmawati Soekarnoputri yang juga dilibatkan dalam membangun jalan cerita.

Tito adalah anak dari Ratna Djuami dan Asmarahadi. Kedua orangtuanya ikut bersama Bung Karno dan Ibu Inggit dalam pembuangan itu.

Protes keras telah lebih dahulu disampaikan Rachmawati Soekarnoputri. Pada dasarnya Rachmawati adalah pemilik ide pembuatan film ini. Ia mengundang Hanung Bramantyo dan Raam Punjabi. Namun di tengah jalan ia ditinggalkan, dan produksi film berjalan tanpa keterlibatan Rachma.

Kekecewaan juga disampaikan Guruh Soekarnoputra. Ia meminta agar keputusan Pengadilan Niaga yang tengah mempersoalkan hak cipta film itu dipatuhi. Artinya, film itu harus ditarik dari peredaran.

Terakhir, sikap kecewa disampaikan Megawati Soekarnoputri. Ia mengatakan, pihak keluarga sama sekali diabaikan. Mega membandingkan sikap Hanung Bramantyo dan Raam Punjabi ini dengan sikap museum Madame Tussaud di Bangkok ketika membuat patung lilin Bung Karno. [dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA