Ketua Presidium IPW Neta S Pane menduga, sebagian besar kasus bunuh diri terjadi akibat persoalan rumah tangga. Dari kasus bunuh diri yang dilakukan anggota Polri ini terlihat betapa beratnya beban psikologis seorang polisi. Tekanan tugas di lapangan cukup berat. Kadang harus 24 jam berada di lapangan. Dalam kondisi seperti ini tak jarang mereka harus memenuhi ambisi atau obsesi atasan, dengan target-target yang cukup berat.
Di sisi lain, kata Neta, gaji yang mereka terima sangat kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan hidup. Kondisi inilah yang kerap membuat banyak polisi di jajaran bawah sering merasa frustrasi. Fenomena ini seharusnya dicermati atasannya langsung, saat ada bawahan yang mulai menunjukkan tanda-tanda depresi, langsung diatasi, misalnya dengan cara memintanya beristirahat atau membebaskannya dari tugas-tugas yang berat.
Berikut tujuh polisi yang bunuh diri versi IPW sepanjang 2013;
24 November 2013, Briptu Bambang Setiawan melakukan bunuh diri dengan cara menembak dirinya sendiri di pos penjagaan Polres Nganjuk, Jatim. Anggota Sabhara ini mengakhiri hidupnya saat situasi sedang sepi dan kawan-kawannya sedang salat Ashar. Bapak dua anak ini mengakhiri hidupnya menggunakan senjata api laras panjang jenis V2. Tiga peluru menerjang dada bawah sebelah kanan dan tembus ke punggung.
26 Agustus 2013, Brigadir Suratno (41) anggota Polsek Saradan, Madiun, Jatim ditemukan tewas tergantung di garasi rumahnya. Saat itu rumah kondisi kosong dan sepi. Istrinya, Ny Eli sedang pergi arisan dan pengajian di Polres Madiun. Diduga, ayah dua anak ini bunuh diri karena tak kuat dengan penyakit misterius yang dideritanya, yakni rasa ketakutan yang seringkali datang.
17 Juni 2013, Brigadir Herianto Turnip (29), mantan personil Unit Lantas Polsek Medan Kota, Sumut nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di kamar mandi rumahnya. Turnip sudah lebih setahun mengalami gangguan jiwa. Diduga karena tak kunjung sembuh, Turnip nekat bunuh diri. Beberapa jam sebelum tewas, Turnip terlihat mondar-mandir di depan rumahnya.
8 Juni 2013, Aiptu PS anggota Polsek Singojuruh, Banyuwangi, Jatim ditemukan tewas tergantung seutas tali dipohon blimbing belakang rumahnya. Sebelum tewas, sekitar pukul 03.00 Wib, PS terlihat pulang dari kerja dan sempat duduk-duduk di teras rumahnya. Diduga PS nekat bunuh diri karena persoalan rumah tangga. PS memiliki tiga istri dan lima anak. Diduga, salah satu istrinya meminta untuk dibangunkan rumah dan ini yang membuat PS tertekan.
24 Mei 2013, Bripka Jeremmy Manurung (31), anggota Subdit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Polda Metro Jaya melakukan aksi bunuh diri dengan cara menembak kepalanya sendiri. Aksi ini dilakukannya pukul 13.30 WIB, di rumahnya di Jl Husen, Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur. Jeremmy meninggalkan seorang istri dan seorang putri.
23 Januari 2013, Brigadir Andreas Hutabarat ditemukan tewas tergantung di dalam kamarnya, beberapa saat setelah bertengkar dengan istri yang baru dinikahinya delapan bulan. Diduga anggota Polresta Medan itu nekat bunuh diri karena depresi.
17 Januari 2013, Anggota Dalmas Polres Magelang Kota, Jateng Aiptu Joko Subandi (48) tewas bunuh diri. Joko menembak kepalanya sendiri sebanyak dua kali. Aksi bunuh diri ini dilakukan di ruang tamu rumah istri sirihnya di Dusun Jurip RT 02 RW 02 Desa Ngasem, Tegalrejo, Magelang.
[rus]
BERITA TERKAIT: