Karena itu, Calon presiden (capres) dari Partai Hanura, Wiranto, mengajak mahasiswa duduk bersama membahas rumusan menyelamatkan bangsa yang saat ini dalam kondisi karut-marut. Wiranto menyebutkan bahwa mahasiswa harus tergerak merumuskan formula perubahan.
"Indonesia butuh obat mujarab perubahan. Saya akui saya serius roadshow bertemu mahasiswa se-lndonesia untuk bergandeng tangan mencari rumusan berupa perubah¬an yang tepat untukbangsa ini," kata Wiranto dalam dialog ke-bangsaan "Mencari Pemimpin Indonesia" di Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo kemarin.
Dalam dialog kebangsaan yang bekerjasama dengan Pol-Tracking Institute dan dihadiri oleh anggota DPR Hidayat Nur Wahid dan Ketua Asosiasi Gubernur Se-lndonesia Syahrul Yasin Limpo serta diikuti oleh ratusan mahasiswa ini, Wiranto menegaskan bahwa seluruh elemen bangsa jangan sampai pesimistis dengan kondisi bangsa yang bisa memicu sikap acuh terhadap bangsa ini.
"Tak ada yang tak bisa dan tidak ada yang tidak mungkin sepanjang kita berniat mulia untukbangsa, perubahan itu bisa diwujudkan," katanya.
Terkait dengan perubahan, Wiranto sempat menceritakan masa kecilnya hingga sukses menjadi Panglima TNI. Saat kecil, Wiranto sepulang sekolah pernah berjalan di sekitar area Istana Mangkunegaran Solo. Lucunya di sini pria yang tumbuh besar dan pernah mengenyam pendidikan di SMAN 4 Solo itu lari karena dikejar - kejar oleh petugas keamanan istana.
Hal ini berbeda ketika menjabat sebagai Pangdam Jaya, Wiranto yang saat itu bertugas untuk turut membantu renovasi istana, datang dan diperlakukan sebagai tamu kehormatan. Ia pun mencari sosok satpam yang pernah mengejarnya saat kecil.
"Saya tidak tahu namanya dan hanya tahu (perawakannya) besar. Ternyata pensiun, saya tidak ingin balas dendam tapi hanya ingin kasih hadiah, sebab dia pegawai disiplin. Artinya sesuatu yang tidak mungkin jadi mungkin. Ketika SMP, saya tidak tahu akan jadi jenderal seperti ini. Dan dengan ketekunan dan kesungguhan itu bisa munculkan perubahan," jelasnya.
[ysa]
BERITA TERKAIT: